Breaking News:

Ulasan Buku

Perjalanan Melihat Dunia Tumpak Winmark Hutabarat 

Bukan tanpa alasan Tumpak Winmark Hutabarat bergelar Siparjalang. Dalam bahasa Batak, Siparjalang berarti sosok yang suka jalan-jalan atau petualang. 

TRIBUN MEDAN/RISKY CAHYADI
Buku Perjalanan Melihat Dunia karya Tumpak Winmark Hutabarat alias Siparjalang. 

MEDAN, TRIBUN-Bukan tanpa alasan Tumpak Winmark Hutabarat bergelar Siparjalang. Dalam bahasa Batak, Siparjalang berarti sosok yang suka jalan-jalan atau petualang. 

Pemuda asal Siantar ini dikenal sebagai influencer di media sosial. Di “dunia nyata”, ia menggagas berbagai kegiatan untuk menggerakkan industri kreatif seperti 1000 Tenda Kaldera Toba Festival.

Identitas Tumpak sebagai pemuda yang kreatif dan suka berpetualang semakin diteguhkan dengan bukunya Perjalanan Melihat Dunia yang diluncurkan Desember lalu. 

Dalam bahasanya, buku ini adalah anak rohani yang lahir untuk memberikan rasa optimisme bahwa jalan-jalan adalah investasi dan membuat kaya. Kaya akan pengetahuan dan pengalaman yang abadi, maksudnya.

Dalam buku setebal 258 halaman ini, Tumpak bercerita tentang pengalamannya menjelajah belasan negara di benua Asia, Australia, dan Eropa.

Pembaca mungkin akan ikut merasakan keramahan orang-orang asing yang ia jumpai di Hongkong, merasa pegal dan konyol membaca kisahnya menaiki Pegunungan Himalaya, marah dan kesal saat Tumpak tertahan di Kantor Iimigrasi di Bandara Changi.

Karena Tumpak adalah seorang solo backpacker, maka pembaca akan  membaca tentang gaya jalan-jalannya yang serba irit. Salah satunya adalah tidak membeli paket internet dan hanya mengandalkan jaringan WiFi sehingga beberapa kali muncul balada fakir internet menjadi bumbu cerita.

Atau tentang pengalaman tidak jadi membeli jersey klub Borusia Dortmund seharga Rp 1,4 juta di toko merchandise Stadion Signal Iduna Park. Sebagai pelengkap pengalaman menginjakkan kaki di Kota Dortmund, ia tetap membeli cinderamata; miniatur bek tangguh Matt Hummels seharga Rp60 ribu toko. Tumpak pastinya maklum jika pembaca menertawakan berbagai pengalaman kurang mengenakkan yang ia alami selama di negeri orang.

Siparjalang juga membagikan pengalaman menarik di Indonesia bagian Timur. Dengan penuh rasa cinta, ia menceritakan pengalamannya tinggal di Papua: mulai dari iseng-iseng menjumpai seorang senior, berkenalan dengan seorang gadis dan kasmaran, sampai menjalankan usaha jasa perjalanan khusus trip Raja Ampat.

Di beberapa bagian, Tumpak seperti kurang mengeksplorasi pengalaman traveling-nya. Terkadang rasanya ia terburu-buru. Seperti sedang mengejar pesawat. Mungkin ini terjadi karena banyak cerita yang ia tuliskan setelah lebih dari lima tahun terlewat sehingga berbagai detail disana-sini mungkin hanya akan tersimpan dalam ingatannya. Dari sini para traveler bisa belajar dari pengalaman pahitnya.

Semoga dalam buku berikutnya yang telah direncanakan, Tumpak dapat santai bercerita (dan mungkin lebih kontemplatif) tentang kunjungan dan interaksinya dengan ragam manusia. 

Dalam buku ini, Tumpak tidak dapat menghindari tugas untuk menjelaskan berbagai fakta latar belakang tentang negara yang ia kunjungi kepada para pembaca. Namun selebihnya, ia berusaha untuk menghadirkan kisah otentik. Kisah-kisah yang ia alami sendiri dan tidak ada di Wikipedia. Berbagai cerita yang mungkin pernah juga anda alami, tapi sah belaka jika disebut sebagai kisah otentik seorang Tumpak.

Buku Perjalanan Melihat Dunia juga berbeda dengan buku perjalanan yang dibuat  penulis lain dari Indonesia. Bukannya diisi dengan foto-foto indah hasil jepretannya, Tumpak justru meminta Komik Kopi dan Gom Tobing untuk mengisi bukunya dengan berbagai ilustrasi penuh warna.

Anda juga bisa seperti Tumpak alias Siparjalang. Semua bisa bertualang menjelajah dunia dan menyerahkan dirinya diubah oleh berbagai pengalaman yang dijumpai dalam perjalanan. Dan ketika pengalaman itu dituangkan dalam sebuah buku, itu akan sama istimewanya dengan buku yang ditulis Siparjalang dan petualang lain.  (ton/tribun-medan.com)

Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved