Breaking News:

Sengketa Tanah di Obyek Wisata Pantai Sibolahotang Sas Berujung Pemagaran Paksa

Setelah pengembangan pariwisata mulai digalakkan pemerintah, mulai berdatangan oknum-oknum yang mengklaim sebagai pemilik tanah di sana.

IST/TRIBUN MEDAN
Pemagaran paksa di kawasan pasir putih Sibolahotang Sas Balige pada Kamis (18/2/2021) 

TRIBUN-MEDAN.com, BALIGE - Kasus konflik terjadi di kawasan wisata Pasir Putih Sibolahotang Sas yang memanjang hingga ke Lumban Bulbul, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba.

Konflik tanah ini pun berujung kepada tindakan pemagaran secara paksa terhadap rumah Medina Hutagaol (53) diduga dilakukan oleh oknum DT beserta istri yang mengaku sebagai pemilik kuasa atas sebidang tanah bersertifikat atas nama Herman Tampubolon, Kamis (18/2/2021) sekira pukul 17.00 WIB. 

Tak terima rumahnya di pagar, Medina melakukan pembongkaran sebagai bentuk perlawanan terhadap DT yang dianggap telah semana-mena dan tak memiliki dasar yang kuat mengakui tanah tempat rumah Medina berdiri sebagai tanah milik Herman Tampubolon. 

Ia juga bercerita bahwa pada Rabu (10/2/2021) lalu, sebelum pemagaran terjadi ada oknum TNI mengaku inisial RN bersama DT mendatangi kediaman Medina dan melakukan pengukuran tanah berdasarkan sertifikat yang mereka pegang. 

"Saat diukur, batas tanah bersertifikat itu ternyata hanya sampai sisi jalan seberang rumah saya, tapi mereka mengklaim bahwa rumah saya ini berdiri di atas lahan milik mereka. Itu sangat tidak masuk akal, sebab tanah ini sudah 15 tahun saya tempati sejak tahun 2006 lalu," terang Medina saat dikonfirmasi pada Sabtu (20/2/2021).

Sejarah tanah yang kini Medina beserta ketiga anaknya tempati, diakuinya sebagai pemberian tetua adat marga Tampubolon sebagai Tanah Pangeahan setelah menikah dengan almarhum suaminya  M Tampubolon. 

"Saya sudah tinggal selama 15 tahun di sini dan tidak pernah ada yang keberatan. Dulunya rumah ini masih gubuk, lalu kami bangun permanen pada tahun 2009 lalu, tetap tak ada yang keberatan. Baru dua tahun terakhir mereka mulai datang dan menyuruh saya membongkar rumah ini karena katanya masuk ke tanah mereka," imbuh Medina. 

Lebih lanjut diterangkan Medina, pada saat kedatangan oknum TNI dan DT pada tanggal 10 lalu, mereka juga membawa dua orang anggota Babinsa untuk membantu melakukan pengukuran berdasarkan sertifikat tanah yang mereka pegang. 

"Pengukuran itu juga disaksikan Kepala Desa Sibolahotang Sas, Charles Tampubolon beserta beberapa orang aparat desa. Dan hasilnya, batas tanah milik mereka hanya sampai pada sisi tepi jalan Sibolahotang Sas ini saja, sementara rumah saya berada di sebrang jalan," papar Medina dengan nada kesal. 

"Saya tidak mengklaim kalau tanah ini tanah saya, sebab saya tau tanah yang saya tempati ini milik pemerintah karena merupakan bagian dari tepi Danau Toba. Tapi sebagai warga yang taat pajak, saya sudah membayar pajak bumi dan bangunan sejak 5 tahun lalu," terangnya. 

Halaman
12
Penulis: Maurits Pardosi
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved