Breaking News:

7304 Merchant di Siantar Sudah Terapkan Sistem QRIS untuk Transaksi Dagang

QRIS sendiri merupakan sistem pembayaran yang menggunakan QR Code atau biasa disebut barcode dalam transaksi digital atau nontunai.

TRIBUN MEDAN/HO
KEPALA Kpw BI Pematangsiantar Edhi Rahmanto Hidayat menjelaskan perkembangan penggunaan QRIS di wilayah Sisibatas Labuhan beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Kantor Perwakilan (Kpw) Bank Indonesia (BI) Pematangsiantar menyampaikan, penggunaan Quick Respons Code Indonesian Standard (QRIS) mulai meningkat.

QRIS sendiri merupakan sistem pembayaran yang menggunakan QR Code atau biasa disebut barcode dalam transaksi digital atau nontunai.

Penggunaan QRIS di Kota Siantar tergolong cukup banyak bila dibandingkan kota-kota lainnya di Sumatera Utara atau di bawah Kota Medan, yang cenderung sudah melek digital.

Kepala Kpw BI Pematangsiantar Edhi Rahmanto Hidayat mengatakan, penggunaan QRIS di wilayah kerjanya; Siantar, Simalungun, Batubara, Tanjungbalai, Asahan, Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu dan Labuhanbatu selatan (Sisibatas Labuhan) mencapai 28971 merchant atau pedagang.

"Per Desember 2020, di wilayah kerja kita Sisibatas Labuhan, pengguna QRIS mencapai 28971 merchant. Adapun total transaksinya mencapai Rp 1 miliar lebih," ujar Edhi, Jumat (26/2/2021) siang di Parapat, Kabupaten Simalungun.

Dari data yang disebutkan Edhi, khusus Kota Pematangsiantar pengguna QRIS ada 7304 merchant dengan transaksi Rp 454.063.789. Kota Pematangsiantar adalah yang terbanyak bila dibandingkan daerah lain dalam zona Sisibatas Labuhan.

"Kita kalah dari Medan, tapi jauh lebih baik dibanding daerah lain semisal Sibolga," katanya.

Edhi mengatakan Bank Indonesia tengah mendorong penggunaan QRIS dalam setiap transaksi pembayaran masyarakat. Ia menerangkan, secara keseluruhan, pengguna QRIS di Indonesia mencapai enam juta merchant. 

"Kemudian ditargetkan pada akhir 2021 mencapai 12 juta merchant. Makanya kita tengah mengampanyekan penggunaan QRIS di lingkungan perusahaan, komunitas, bahkan kegiatan agama, seperti gereja," ujar Edhi.

Edhi meyakini, keuntungan dari penggunaan QRIS di kalangan pembeli dan pedagang/merchant, adalah dapat membuat transaksi pembayaran menjadi lebih terukur, tercatat dan cepat.

"Biasanya kalau belanja di luar kan, ada kembalian misal Rp 300 yang akhirnya nggak diambil. Kalau pakai QRIS kan jelas. Misalnya mau bayar air ke Perumda Tirta Uli. Kan mereka udah buka akses pembayaran pakai aplikasi," katanya.

Dirinya berharap peran pemerintah daerah, influencer, media massa dapat mendorong masyarakat menggunakan QRIS sebagai sistem pembayaran masa depan.(alj/tribun-medan.com)

Penulis: Alija Magribi
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved