Breaking News:

Hukuman Anggota TNI yang Mutilasi Istri Makin Berat, Dari 20 Tahun Jadi Penjara Seumur Hidup

Majelis hakim menilai, Marten terbukti bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana secara bersama-sama terhadap istrinya.

TRIBUN MEDAN/GITA
SIDANG putusan pembunuh Praka Marten Priyadi Nata Candra Chaniago, yang digelar di ruang Sisingamangaraja XII Pengadilan Militer I-02 Medan, Selasa (24/11/2020). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Terdakwa pembunuhan sadis, Praka Marten Priyadinata Candra Chaniago, kini dijatuhi hukuman lebih berat oleh majelis hakim Pengadilan Militer Tinggi yang diketuai Kolonel Chk M.P Lumban Radja, SH.

Hal tersebut dapat dilihat dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Militer I-02 Medan, yang ditelusuri tribun-medan.com, Sabtu (27/2/2021).

"Menyatakan menerima secara formal permohonan Banding yang diajukan oleh Oditur Militer Sri Amansyah. Mengubah Putusan Pengadilan Militer I-02 Medan Nomor 50-K/PM I-02/AD/IX/2020 tanggal 24 November 2020, menjadi pidana pokok penjara seumur hidup, pidana tambahan, dipecat dari dinas militer," kata hakim ketua Kolonel Chk M.P Lumban Radja didampingi Hakim Anggota 1 Kolonel Sus Immanuel Pancasila dan Hakim Anggota 2 Kolonel Laut (KH) Agus Budiman.

Sebelumnya, Marten dijatuhi pidana penjara selama 20 tahun, dengan  pidana tambahan dipecat dari dinas militer, oleh majelis hakim yang diketuai oleh Letkol Sus Sariffuddin Tarigan di Pengadilan Militer I-02 Medan, Selasa (24/11/2020).

Majelis hakim menilai, Marten terbukti bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana secara bersama-sama terhadap istrinya.

Dikatakan Hakim, adapun yang meringankan hukuman terdakwa, yakni Martin mengaku bersalah dan memohon agar diberi kesempatan hidup. Selain itu hakim mempertimbangkan anak terdakwa yang masih berusia tujuh7 tahun yang sudah kehilangan ibu. 

Namun, saat itu, Martin tidak langsung menerima putusan tersebut, dan memilih pikir-pikir dulu.

"Siap, berpikir-pikir dulu," katanya.

Dalam sidang tersebut, Hakim Ketua Sariffuddin juga sempat menasehati Martin agar tidak lagi mengulangi perbuatannya.

"Jangan lagi mengulangi kesalahan tersebut, karena saudara masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan, saudara sudah merasakan bahwa hidup itu sangat mahal. Minta maaf pada anakmu dan ibu yang mengandungmu," kata Hakim.

Sebelumnya, Oditur militer I-02 Medan, Mayor Chk Sri Armansyah, menuntut Marten dengan hukuman mati, dengan alasan Marten telah melakukan pembunuhan secara sadis dan berencana terhadap istrinya, bersama dua orang wanita lainnya yang merupakan selingkuhannya.

"Kami menuntut terdakwa dengan hukuman pidana mati karena pembunuhan terhadap istrinya dilakukan dengan perencanaan bersama dua orang wanita lainnya tanpa belas kasihan," kata Armansyah usai sidang.

Sebelumnya, perkara Marten berawal saat adanya penemuan tulang belulang manusia di semak-semak Jalan Baru Lingkungan 4 Kelurahan Sihaporas Nauli, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), yang bikin geger warga sekitar.

Belakangan diketahui, identitas tulang belulang tersebut bernama Ayu Lestari (26) yang merupakan istri seorang anggota TNI bernama Praka Martin Priyadi Nata Candra Chaniago, anggota Kima Korem 023/KS.

Setelah dilakukan penyelidikan, Praka Martin Priyadi Nata Candra Chaniago, kemudian diamankan Denpom 1/2 Sibolga dan ditetapkan sebagai tersangka.(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved