Breaking News:

Kapolri Perintahkan Aipda Roni Saputra Ditindak Tegas, Dipecat dari Polisi dan Dipenjarakan

Kasubbid Humas Polda Sumut AKBP MP Nainggolan menegaskan hal tersebut sesuai perintah Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo.

HO / Tribun Medan
Aipda Roni Saputra, pelaku pembunuhan dua gadis muda di Medan 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Polda Sumut akan menindak tegas oknum polisi Aipda Roni Saputra yang membunuh dua orang gadis asal Medan Labuhan. 

Kasubbid Humas Polda Sumut AKBP MP Nainggolan menegaskan hal tersebut sesuai perintah Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo.

"Jadi sesuai kebijakan pak Kapolri sekarang PRESISI dan adanya kepastian hukum. Kita akan melakukan tindakan tegas baik secara pidana maupun nanti secara kode etik," tuturnya Sabtu (27/2/2021).

Ia menyebutkan selain dikenakan pidana, pelaku juga akan disidang secara kode etik.

"Akan kita lakukan sidang dan pasal yang kita kenalan 340 junto pasal 338. Ancaman hukuman 15 tahun," ungkapnya.

Nainggolan menyebut bahwa Aipda Roni Saputra terancam dipecat dan juga dipenjarakan.

"Ya tentu sidang kode etik bisa mengarah kesana (dipecat). Dia tidak layak menjadi anggota Polri," tuturnya dengan nada tinggi.

Ternyata oknum Polisi Aipda Roni Saputra yang bunuh 2 gadis ditangkap pihak kepolisian di rumahnya daerah Kelurahan Kelurahan Rengas Pulau Kecamatan Medan Marelan

Usai membawa Aprilia Cinta (13) dan Rizka Fitria (21) sejak Sabtu 20 Februari 2021 lalu mengeksekusi keduanya pada Minggu 21 Februari di sebuah hotel kawasan Padang Bulan Medan.

Aipda Roni Saputra membuang jenazah keduanya di dua tempat berbeda pada Minggu malam yaitu di Jalinsum Kecamatan Perbaungan, Serdangbedagai dan di Kelurahan Pulo Brayan Kota, Medan Barat yang ditemukan pada Senin (22/2/2021) pagi.

Ia menjelaskan usai berhasil mengidentifikasi para korban, polisi mendapatkan petunjuk pelaku dan menangkapnya langsung di rumahnya. 

"Setelah penyidik berhasil mengidentifikasi korban, barulah kita menemukan titik terang. Terus kita lakukan pengembangan-pengembangan dan kita ketahui pelakunya adalah seorang oknum berinisial RS. Pelaku ditangkap pada Rabu 24 Februari tepatnya di rumahnya di Kelurahan Rengas Pulau Kecamatan Medan Marelan," bebernya.

Nainggolan menegaskan bahwa cepatnya kasus terungkap adalah bukti ketegasan Ditreskrimum menindak pelaku meski anggota kepolisian sendiri. 

"Itulah cepatnya Ditreskrimum menindak, kita tidak pandang bulu, itulah mereka cepat bertindak dan berhasil menemukan pelaku. Dan kita tidak pandang bulu," tegasnya.

Saat dikonfirmasi, Plt Kepala Kelurahan Rengas Pulau Elias Padang menyebutkan dirinya tak mengenal wajah pelaku Roni Saputra meski telah ditunjukkan foto.

"Belum kenallah, enggak kenal, kalau tahu lingkungannya aja mungkin bisa kita konfirmasi ke keplingnya," bebernya.

Nainggolan menyebutkan bahwa pelaku membuang mayat keduanya di tempat berbeda untuk membuat alibi khusus. 

Serta hal itu dijelaskan untuk menghilangkan jejaknya. "Alibi khusus, membuat alibi baru dan menghilangkan jejak," tuturnya.

Ternyata, keduanya sempat diajak oleh pelaku ke salah satu hotel kelas melati di daerah Padang Bulan Medan.

Ia menerangkan setelah permasalahan terjadi di RTP, Roni kemudian membawa kedua korban tersebut untuk dibawa ke hotel. 

"Jadi setelah permasalahan kemarin, datanglah si korban dengan membawa satu orang temannya kemudian langsung si pelaku ngajak mereka pergi. Tiga orang mereka di mobil. Ternyata dia membawa ke salah satu penginapan yang ada di daerah Padang Bulan," ungkapnya.

Lalu, Nainggolan menjelaskan di tempat tersebutlah pelaku dieksekusi pelaku dengan cara dicekik di leher.

"Disitulah dia melakukan eksekusi dengan cara mencekik kedua korban dan meninggal di tempat," ungkapnya.

Setelahnya, kedua korban yang masih belia tersebut dibuang di dua tempat yang berbeda yaitu di Serdangbedagai dan Kota Medan.

"Kemudian membuang mayatnya di dua tempat. Si Phl dibuangnya di sekitar Kabupaten Serdangbedagai sementara temannya disekitar Kelurahan Pulo Brayan

Nainggolan menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara pelaku dengan korban Rizka Fitria yang bekerja sebagai Pekerja Harian Lepas di Polres Belawan.

"Sakit hati, hanya sakit hati karena si korban itu pegawai harian lepas di Polres Belawan bukan hubungan cinta, mungkin adalah masalahnya," bebernya.

Ia membeberkan saat diperiksa pelaku menyebutkan motif membunuh karena sakit hati. "Waktu ditanya polisi dia jawab karena sakit hati, kan dia yang tahu," jelasnya

Terkait, apakah kedua korban diperkosa terlebih dahulu, Nainggolan tak menahu termakr teknisnya. "Enggak tahu, teknisnya ke Serse," bebernya. 

(vic/tribunmedan.com)

Penulis: Victory Arrival Hutauruk
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved