Breaking News:

Berlakukan PPnBM Kendaraan 0 Persen, Pengamat Nilai Bukan Jaminan Pulihkan Sektor Otomotif

Kebijakan pemerintah yang memberlakukan PPnBM kendaraan sebesar 0 persen ini sebenarnya adalah upaya pemerintah untuk mendorong konsumsi.

TRIBUN MEDAN/LISKA
SUASANA dealer mobil bekas di kota Medan. Diberlakukannya PPnBM 0 persen berpengaruh bagi dealer mobil bekas, Senin (1/3/2021). 

Tribun-medan.com, Medan - Pemerintah resmi memberlakukan insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) nol persen untuk mobil baru mulai Senin (1/3/2021) lalu.

Aturan tersebut tertuang dalam Kepmenperin Nomor 169 tahun 2021 tentang Kendaraan Bermotor dengan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah Atas penyerahan Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Ditangguhkan oleh Pemerintah pada Tahun Anggaran 2021.

Pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan, kebijakan pemerintah yang memberlakukan PPnBM kendaraan sebesar 0 persen ini sebenarnya adalah upaya pemerintah untuk mendorong konsumsi.

"Kalau mengharapkan bahwa penjualan kendaraan khususnya mobil meningkat. Tentunya memang bisa mendongkrak penjualan. Hanya saja kalau targetnya adalah penjualan kendaraan bisa kembali normal sebelum pra covid. Makanya tentunya kebijakan ini tidak akan mampu merealisasikan target seperti itu," ujarnya, Selasa (2/3/2021).

Kebijakan PPnBM sebesar 0 persen ini menurutnya akan membuat harga kendaran mengalami penurunan. Industri manufaktur khususnya otomotif menyambut baik kabar tersebut.

Tetapi bagi pengusaha yang menjual mobil bekas justru bisa menjadi malapetaka bagi mereka.

"Artinya di sektor otomotif saja, kebijakan itu seperti memindahkan uang dari kantong kiri ke kantong kanan. Dampak ekonomi sektoral dari kebijakan tersebut tidak signifikan dalam memulihkan keadaan," katanya.

Dari sudut pandang makro, katanya, jika melihat upaya yang dilakukan pemerintah dengan memberlakukan kebijakan seperti itu, maka memang pemerintah terlihat tengah berupaya menggenjot belanja masyarakat menengah ke atas.

"Kalau masyarakat miskin itu kan selama ini di topang dengan bantuan sosial. Nah untuk masyarakat menengah ke atas yang diharapkan menjadi motor belanja memang bisa dilakukan dengan pendekatan seperti ini," jelasnya.

Gunawan menilai, hal ini hanya upaya keras pemerintah agar motor pertumbuhan yang ditopang dari konsumsi masyarakat bisa membaik.

Halaman
12
Penulis: Liska Rahayu
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved