Breaking News:

KPPU Sebut Peternak Kesulitan Temukan Anak Babi

Ramli sudah berkeliling ke peternakan untuk memantau stok daging babi untuk mengecek kandang babi yang hampir kebanyakan kosong

Tribun Medan/Riski Cahyadi
Seorang petugas dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Karo menyemprotkan disinfektan ke ternak babi di Desa Mulawari, Kecamatan Tigapanah, Kabupetan Karo, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Meroketnya harga daging babi hingga menimbulkan kelangkaan menjadi keresahan para pedagang babi eceran.

Permasalahan ini kemudian ditanggapi Kepala Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kanwil I Medan, Ramli Simanjuntak mengungkapkan bahwa melonjaknya harga ini dilatarbelakangi dari pasokan babi di peternakan yang belum pulih dari virus babi.

"Hampir seluruh Sumut alami kenaikan karena pasokan sangat kurang. Jadi belum pulih untuk pasokannya, jadi sangat-sangat kurang. Dua tahun lalu virus babi banyak babi yang bermatian, sehingga hampir seluruh sentra daging babi itu babinya banyak yang sudah mati atau tidak ada lagi sehingga sudah sangat kurang," ungkap Ramli, Selasa (9/3/2021).

Baca juga: Harga Daging Babi Rp 130 Ribu Per Kilogram, Pedagang Mulai Kesulitan Dapatkan Stok

Ramli sudah berkeliling ke peternakan untuk memantau stok daging babi untuk mengecek kandang babi yang hampir kebanyakan kosong.

"Ini memang pelik. Prosesnya masih menunggu para peternak babi mencari anakkan untuk dapat dikembangbiakkan. Itukan butuh proses karena perlu 6-7 bulan itu paling tidak. Hampir setahun ini daging babi ini masih langka. Soal pulihnya kapan saya belum bisa prediksi tapi tahun ini masih terbatas karena anak babi yang dipelihara tidak ada," ujarnya 

Terkait hal ini, Ramli berpendapat perlu adanya kerjasama antara Pemda dan peternak untuk melakukan pengadaan anak babi agar dapat dikembangbiakkan.

"Pemda yang berhubungan dengan sentra di tanah Batak mungkin ada bantuan APBD untuk bibit babi agar bisa juga dibeli masyarakat dengan harga yang lebih murah sehingga harganya tidak mahal," kata Ramli.

"Perlu campur tangan Pemda tapi Pemda yang mayoritas di sana itu banyak kebutuhan babinya. Jadi perlu campur tangan pemerintah untuk pengadaan bibit babi. Nggak ada bibit apa yang mau dipelihara," tutupnya.

Penulis: Kartika Sari
Editor: Eti Wahyuni
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved