Sujud Syukur Project Manager PT Hutama Karya saat Peresmian Jalan Tol Binjai

Butuh waktu 3 tahun, sampai akhirnya tol Marelan-Tanjungmulai ini bisa dioperasikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat pengguna jalan.

HO / Tribun Medan
Project Manajer PT Hutama Karya, Sunardi melakukan sujud syukur di atas betol jalan, usai meresmikan pengoperasian tol Marelan-Tanjungmulai pada Kamis (11/3/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Ada pemandangan unik usai tol Marelan-Tanjungmulia resmi beroperasi pada Kamis (11/3/2021). 

Usai menggeser barrier (pembatas) jalan agar kendaraan dari arah tol Binjai bisa melintas ke arah tol Tanjungmulia, tiba-tiba tanpa diduga ada seorang pria melepas helm proyek putih dari kepalanya, langsung melakukan gerakan sujud di atas beton jalan tol.

Ternyata pria berompi oranye dan memakai kain ulos di bahu kirinya itu adalah Sunardi, sosok pria yang menjabat sebagai Project Manager PT Hutama Karya.

Ketika diwawancarai Sunardi mengaku aksinya merupakan spontanitas.

"Itu spontanitas saja. Wujud rasa syukur, saya ucapkan alhamdulillah, karena kami dan teman-teman akhirnya meresmikan  pengoperasian tol Marelan-Tanjungmulia," ungkap Sunardi yang diwawancarai via telepon, Kamis.

Apalagi, kata Sunardi, untuk menyambung tol Medan-Binjai, hingga bisa terkoneksi menuju tol Belmera, Kualanamu dan Tebingtinggi, bukan merupakan pekerjaan yang mudah.

Butuh waktu 3 tahun, sampai akhirnya tol Marelan-Tanjungmulai ini bisa dioperasikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat pengguna jalan.

Tidak sampai di situ, tol yang ada saat ini juga merupakan bagian dari tol trans sumatera yang saat ini gencar dibangun oleh pemerintah pusat.

"Ini bakal jadi icon Kota Medan, menjadi prestisius. Apalagi pengerjaannya lumayan menguras energi. Masyarakat Medan sudah menunggu, supaya bisa selesai dan tersambung, baik dari arah Binjai menuju Belawan, Medan, Kualanamu dan Tebing dan ke arah sebaliknya," sebut Sunardi.

Menurut Sunardi, proyek tersebut sempat terkendala pada saat dilakukan pembebasan lahan yang ditempati masyarakat. 

Butuh waktu 1,5 tahun, lantaran masyarakat yang mendiami lahan grand sultan umumnya tidak memiliki sertifikat tanah. 

Sehingga mereka kesulitan untuk membayarkan ganti rugi kepada masyarakat dan sempat berproses di pengadilan.

Padahal ada target oleh manajemen PT Hutama Karya kepada mereka untuk bisa menyambungkan tol Medan-Binjai tersebut.

"Rata-rata lahan milik grand sultan dan yang menempati lahan itu tidak punya dokumen kuat, jadi kami kesulitan membayarkan ganti untung," ucapnya.

Dan kini akses jalan tol dari Binjai sudah tersambung, sehingga para pengguna jalan, tanpa harus masuk ke jalanan umum yang ada di Kota Medan untuk menuju Belawan, Kualanamu dan Tebingtinggi.

(ind/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved