Breaking News:

Menang Referendum Swiss, GAPKI Sumut Optimis Kelapa Sawit Indonesia Jadi Raja di Pasar Global

"Selain referendum Swiss ini, kan yang menjadi faktor biodiesel b30 yang berpengaruh dengan kenaikan harga yang diolah dari sawit," pungkas Timbas.

Kompasiana / Asprila Yehuda
Ilustrasi Perkebunan Sawit 

TRIBUN-MEDAN.com - Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumut Timbas Prasad Ginting menyambut baik mengenai kondisi harga sawit yang menguntungkan para petani sawit di Sumatera Utara.

Saat ini harga sawit berada di harga Rp 2232 yang terus merangkak naik sejak setahun terakhir. Timbas berpendapat bahwa kenaikan harga ini juga dipicu dengan kemenangan Indonesia yang memenangkan referendum Swiss. 

Sebanyak 51,6 persen penduduk Swiss sepakat untuk mewujudkan kerja sama Indonesia-European Free Trade Association Comprehensive Economic Partnership (IE-CEPA). 

"Ini sejak tahun yang lalu sudah mulai ada kenaikan terus. Memang pasaran dunianya begitu. Tapi juga memang karena kita menang referendum dari Swiss itu, tidak ada lagi banned berarti kebutuhan dunia semakin banyak," ungkap Timbas, Jumat (12/3/2021).

Dikatakannya, selama ini kelapa sawit memang sudah melakukan ekspor ke Swiss namun masih dalam batasan waktu tertentu.

"Sebenarnya ekspor memang sudah diizinkan. Karena sudah menang referendum berarti tetap bisa ekspor. Minyak sawit kita masih ke sana, tapi di referendum ditentukan di tahun sekian. Karena ini referendum Menang maka tidak berlaku lagi dan bisa setiap saat," ujarnya.

Tentu saja, hal ini menjadi angin segar bagi para petani sawit lokal yang sebelumnya sempat merasakan harga di bawah Rp 1000 per kg. 

Untuk itu, Timbas juga berharap dengan kebijakan ini para petani sawit dapat meningkatkan kualitas mulai dari bibit sawit yang ditanam.

"Dampaknya ke petani sawit harga semakin naik dan bagus. Tapi ya petani sawit ini harusnya membentuk koperasi agar mereka bisa memanfaatkan biaya peremajaan sawit yang sudah tua agar bibit sawitnya yang jelas bersertifikat. Sehingga yang kedepan bibitnya bagus dan produksinya juga berkualitas," tuturnya.

"Kalau petani itu rata-rata maksimal 1 ton per hektar per bulan. Nah kalau dia produksi pakai bibit yang bagus bisa sampai dua ton. Rata-rata petani di bawah 1 ton," lanjutnya.

Walau kini sudah berada di angka Rp 2.232, namun Timbas membeberkan bahwa harga tersebut berbeda saat masih di tangan petani sawit.

"Kita sudah ada koperasi tapi kebanyakan secara mandiri penjualannya ke agen. Sehingga dia tidak bisa menikmati harganya. Sekarang sekitar ada 2300-an. Tapi di lapangan tidak seperti itu. Jangan-jangan masih sekitar 1800. Kalau sawit 2 tahun yang lalu anjlok. Harganya masih sekitar Rp 1100. Tapi di lapangan bisa sampai Rp 500, itu yang harus diperhatikan," ucapnya.

Selain memenangi referendum, Timbas juga menambahkan bahwa harga sawit juga meninggi lantaran kini kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar biodiesel.

"Selain referendum Swiss ini, kan yang menjadi faktor biodiesel b30 yang berpengaruh dengan kenaikan harga yang diolah dari sawit," pungkas Timbas.

(cr13/tribun-medan.com)

Penulis: Kartika Sari
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved