Breaking News:

Yasmine, Mahasiswa Arsitek Berprestasi, Ingin Bangun Rumah bagi Warga tak Mampu

Kecintaannya dalam bidang matematika sejak kecil ternyata mampu membuat gadis pemalu ini bisa unjuk kebolehan dalam berbagai ajang internasional

Tribun Medan
Yasmine bersama kedua orangtua menunjukkan piagam prestasi. 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Matematika bagi sebagian orang menjadi pelajaran menakutkan dan sulit lantaran harus memikirkan rumus atau pun perhitungan yang membuat seseorang harus berpikir keras untuk memecahkan masalahnya.

Namun, berbeda dengan Yasmine Maharani Putri. Gadis 19 tahun yang sudah jatuh cinta dengan dunia hitung-menghitung sejak duduk di bangku SD.

Kecintaannya dalam bidang matematika sejak kecil ternyata mampu membuat gadis pemalu ini bisa unjuk kebolehan dalam berbagai ajang internasional.

Baca juga: RS Wuhan Dibangun Arsitek Kelahiran Indonesia Prof Huang Xiqiu dalam 10 Hari, SD-SMP di Indonesia

Tak tanggung, Yasmine pernah berkesempatan menjadi pembicara termuda dalam event Internasional Conference on Operasional Research pada tahun 2019 saat berusia 17 tahun. Padahal, dalam konferensi matematika tersebut, didominasi para dosen universitas.

Tak hanya itu, sejak duduk di Bangku SMP, Yasmine juga berprestasi di ajang internasional untuk meraih Honorable Mention dalam ajang Singapore International Math Olympiad Challenge 2016. Lalu di usia 14 tahun yang juga sebagai peserta termuda.

Seperti perumpamaan buah jatuh tak jauh dari pohonnya, ternyata berlaku untuk Yasmine. Kecerdasannya ini hasil didikan sang ayah yang merupakan dosen matematika di universitas negeri.

Untuk mengasah ketajaman penghitungan, sang ayah sering melakukan cerdas cermat antara Yasmine dan abangnya.

"Karena dari kecil sudah di lingkungan matematika, apalagi Abah (ayah) ini dosen matematika. Jadi di rumah sering didiknya pakai matematika. Sama abang juga sering tes matematika, nanti Abah kasih soal lomba-lombaan, gara-gara itu jadi udah terbiasa dan pas di sekolah udah paham karena sebelumnya sudah dipelajari," ujarnya.

Dari didikan itu, gadis penyuka Soto Medan ini mulai terbiasa melihat soal-soal mengenai penghitungan. Ditambah lagi Yasmine mengikuti Kumon, bimbingan belajar khusus matematika.

Ternyata, didikan sang ayah dan lingkungan membuat dirinya dapat lulus ke Fakultas Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2020.

Halaman
123
Penulis: Kartika Sari
Editor: Eti Wahyuni
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved