Breaking News:

80 Persen Usaha Travel di Sumut Mati Suri, ASSPI Sumut: Banyak Beralih ke Usaha Sampingan

Namun hal ini tidak berlaku untuk semua travel lantaran ada travel yang hanya melayani perjalanan mancanegara.

Kartika / Tribun Medan
Salah satu travel di Medan memilih tutup sejak setahun terakhir karena tidak ada pemesanan selama pandemi. 

TRIBUN-MEDAN.com - Bisnis travel atau biro perjalanan saat ini masih dalam keadaan lesu. 

Wakil Bendahara Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASSPI) Sumut, Era mengungkapkan bahwa sejak diumumkan lockdown penerbangan pada Maret 2020 lalu, di saat itu seluruh travel langsung mati suri.

Bahkan, Era menuturkan bahwa hampir 100 persen seluruh travel banting stir ke usaha sampingan untuk tetap bertahan.

"Semua terdampak travel ini mau ditransport, penerbangan, dan tour kena. Setahun belakangan ini pelaku usaha itu OTP (Orang Tanpa Penghasilan). Semua pada banting stir untuk menghidupi keluarga dan bayar leasing, mulai dari jual Frozen food, bunga, jamu, madu, hingga sembako. Bahkan sekarang ada yang ekspansi ke ikan hias," ungkap Era, Selasa (23/2/2021).

Hingga saat ini, Era menuturkan bahwa dari 120an travel yang tergabung dalam ASSPI Sumut, hanya 20 persen yang sudah bergerak dengan berpeluang dalam travel domestik.

Namun hal ini tidak berlaku untuk semua travel lantaran ada travel yang hanya melayani perjalanan mancanegara.

"Kalau collaps saat ini belum ada. Semua masih jalan, namun jalan tanpa karyawan dengan main online. Paling yang bergerak sekitar 20 persen karena tidak semua travel main di domestik. Ada travel yang pasarnya mancanegara seperti Malaysia, jadi ya sama sekali tidak ada pergerakan untuk tour. Paling kalau ada travel yang punya perjalanan domestik, saling kerjasama lah pakai transportasi dari travel yang lagi vakum," ujarnya.

Untuk di Sumut, perbandingan travel mancanegara dengan travel domestik dalam perbandingan 50:50. Artinya ada sekitar 60an travel dari 120an travel yang mati suri belum ada pergerakan untuk membuka paket perjalanan ke luar negeri.

"Belum ada yang bangkit hingga saat ini. Kalaupun travel-travel pasar mancanegara ini mau buka, dia tidak ada market. Mau dia jual sama siapa, jadi kalau mau buka paket tour ya dia harus survei dari awal. Itu rata-rata travel besar yang pasarnya mancanegara," tuturnya.

Era juga menuturkan bahwa saat ini ASSPI sudah melakukan pendataan vaksinasi untuk para anggota. Ia juga berharap dengan adanya vaksinasi ini bisa membawa angin segar bagi para pelaku usaha travel.

"Kita sudah pendataan vaksin sebulan lalu. Semoga adanya vaksin ini sektor pariwisata bisa bergerak dan normal lagi. Karena infonya pakai sertifikat vaksin tidak perlu pakai rapid antigen ini," ucap Era.

ASPPI juga selalu memberi penguatan kepada anggota untuk dapat memberikan solusi dan ide-ide agar travel dapat terus bergerak terutama dalam sektor destinasi lokal.

"ASPPI tiap tiga bulan sekali buat destinasi baru dan hampir tiap bulan ada kegiatan. Malah ASPPI ini menjadi wadah membuka destinasi baru untuk para pelaku usaha buat paket menarik. Jadi kita survei sama-sama seperti Siosar. Kita coba dulu baru kita bisa jual. Memang ini tujuannya destinasi lokal, kita pilih destinasi lokal mana yang mau dibuka paket wisata. Itu rutin tiap tiga bulan sekali untuk menarik pengunjung," Pungkasnya.

(cr13/tribun-medan.com)

Penulis: Kartika Sari
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved