Breaking News:

Mengenal Gerakan Milenial Mengajar, Progam Mahasiswa Nomensen untuk Mengajar di Kampung Halaman

"Milenial mengajar bersifat relawan dan menggunakan dana pribadi, tidak terikat pada instansi pemerintah," ujarnya.

Penulis: Kristen edi sidauruk | Editor: Royandi Hutasoit
Tribun Medan/HO
Gerakan Mengajar Milenial 

TRIBUN-MEDAN.com - Jefri Siregar, seorang mahasiswa dari Universitas Nomensen Pematangsiantar menginisiasi gerakan untuk membantu pembelajaran di kampung halamannya di Labuhanbatu.

Gerakan ini mereka sebut dengan Gerakan Milenial Mengajar yaitu mengajar anak-anak yang tak bisa efektif memperoleh pengajaran karena kelas daring.

"Mengajar gratis ini terbentuk sebagai wujud empati pada pendidikan yang tidak berjalan efektif karena daring (dalam jaringan) efek dari virus corona (covid-19)," ujarnya Jefri, selasa (23/3/2021).

Menurut Mahasiwa Program studi PGSD yang duduk di Semester 4 ini, Gerakan Milenial Mengajar adalah wujud pengabdia dia sebagai mahasiswa untuk menggenapi Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pengabdian Masyarakat.

"Milenial mengajar bersifat relawan dan menggunakan dana pribadi, tidak terikat pada instansi pemerintah," ujarnya.

Kata Jefri, Milenial Mengajar melakukan pengajaraan dengan mengikuti KTSP 2006 dan memberikan pendidikan hanya pada anak sekolah dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

"Saat ini jumlah relawan mengajar gratis berjumlah 23 orang yang terdiri dari guru muda, pengusaha muda dan mahasiswa asal Labuhanbatu. Karena situasinya kuliah daring teman-teman mahasiswa dari Pematangsiantar, Padang, Medan, Jakarta dan Labuhanbatu membuat kegiatan ini," ungkap Jefry.

Kini Milenial Mengajar melakukan kegiatan mengajar di  Desa Tebing Linggahara, Dusun Siluman Lalang hari minggu pukul 15.00, Desa Lingga Tiga Dusun Janji Lobi hari Sabtu 10.00.

Kelurahan Ujung Bandar Jalan Karya Bakti, Sabtu, 14.00 dan Kelurahan Binaraga Jalan Bakti lama pada hari Kamis dan Sabtu pukul 14.00.

Kegiatan ini kata Jefri juga tidak terlepas dari masalah, seperti terbatasnya akomodasi belajar seperti buku dan alat tulis serta alat protokol kesehatan.

"Kita sering terkendala biaya," ujarnya.

Dengan keterbatasan ini Jefri berharap rekan-rekannya sesama mahasiswa bisa membuka tempat belajar gratis di tempat lain seperti yang mereka lakukan, sehingga lebih banyak anak-anak terbantu.

(cr6/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved