Breaking News:

Ekspor Jeruk Nipis Merosot akibat Pandemi, Malaysia dan Arab Saudi Negara Tujuan Utama

Namun akhir-akhir ini, panen yang melimpah membuat harga jeruk jatuh dan banyak petani yang merugi.

TRIBUN MEDAN
Kepala Karantina Pertanian Belawan, Andi PM Yusmanto saat supervisi pemeriksaan terhadap komoditas jeruk nipis, Selasa (30/3/2021). Karantina memfasilitasi ekspor komoditas jeruk nipis yang akan dikirim ke Malaysia sebanyak 2,7 ton dengan nilai Rp31,2 juta.(Tribun Medan/HO) 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Jenis komoditas ekspor Indonesia semakin beragam, salah satunya jeruk nipis (citrus aurantifolia). Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Belawan memfasilitasi ekspor komoditas jeruk nipis yang akan dikirim ke Malaysia sebanyak 2,7 ton dengan nilai Rp 31,2 juta.

Data IQFAST di Karantina Pertanian Belawan tercatat, pada 2019, ekspor komoditas berasa kecut ini pernah mencapai 115 ton dengan nilai Rp 1,3 miliar. Namun adanya pandemi di tahun 2020 memukul ekspor jeruk nipis hingga hanya sebanyak 20,9 ton atau setara Rp 288,2 juta sepanjang tahun.

Kepala Karantina Pertanian Belawan, Andi PM Yusmanto, mengatakan, di Sumut terdapat banyak lahan pertanian jeruk nipis. Hal ini karena tahun 2020 sempat ada perusahaan yang menyerap hasilnya. Namun akhir-akhir ini, panen yang melimpah membuat harga jeruk jatuh dan banyak petani yang merugi.

Baca juga: Balai Karantina Dukung Ekspor Kopi, Kunjungi Eksportir Produk Pertanian

“Kami melakukan pendampingan kepada petani jeruk nipis, agar mengalihkan penjualan hasil panennya dari penjualan lokal ke penjualan tujuan luar negeri agar petani tidak merugi. Melihat peluang ekspor di tahun 2019, jeruk nipis provinsi Sumut ini masih memiliki peluang untuk ekspor lebih besar lagi,” ujar Andi pada saat supervisi pemeriksaan terhadap komoditas jeruk nipis, Selasa (30/3/2021). 

Lebih lanjut Andi menjelaskan, karantina pertanian akan memberikan pendampingan bagi pemenuhan persyaratan ekspor guna memastikan jeruk nipis diterima di negara tujuan. Hingga kini, negara yang menjadi langganan komoditas jeruk nipis Sumut baru dua negara, Malaysia dan Arab Saudi.

“Pada komoditas jeruk nipis yang dipersyaratkan bebas dari lalat buah jenis Bactrocera zonata, B. papayae, B dorsalis dan B carambolae, serta bebas dari bakteri jenis Liberobacter africanum dan L Asiaticum,” tambahnya.

Melalui pendampingan ekspor ini, katanya, akan memberikan jaminan terhadap jeruk nipis asal Sumatera Utara yang diekspor tetap segar, sehat dan aman untuk dikonsumsi sesuai yang dipersyaratkan negara tujuan. Dengan demikian ekspor jeruk nipis memiliki unsur 3K yaitu kualitas, kuantitas dan kontinuitas. 

Terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian Ali Jamil mengajak para pelaku usaha yang menggeluti jeruk nipis di Sumut agar berorientasi ekspor untuk menstabilkan harga jeruk nipis di wilayah Sumut.

“Silakan manfaatkan momen pendampingan ekspor yang dilakukan oleh karantina pertanian guna memenuhi persyaratan import permit dari negara tujuan. Kantor Karantina Pertanian Belawan dan Medan selalu terbuka untuk menjawab pertanyaan mengenai ekspor jeruk nipis,” jelas Jamil.

Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Eti Wahyuni
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved