Breaking News:

News Video

Respon Naiknya Harga BBM di Sumut, Mulai Dari Pengamat Hingga Pedagang di Pasar

Sampai saat berita ini diliput, belum ada terjadi kenaikan harga barang di pasar yang diakibatkan oleh kenaikan BBM di Sumut.

Respon Naiknya Harga BBM di Sumut, Mulai Dari Pengamat Hingga Pedagang di Pasar

Tribun-Medan.com, MEDAN - Beberapa harga BBM di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mengalami kenaikan rata-rata Rp 200 per 1 April 2021. Armin Nasution, pengamat ekonomi Sumatera Utara (Sumut) mengatakan kenaikan BBM di Sumut dipicu oleh kenaikan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB), yang di tetapkan oleh kebijakan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) dari 5% menjadi 7,5%.

“Dalam situasi sulit seperti sekarang terjadi kenaikan harga bbm, otomatis akan menyulitkan masyarakat, mempengaruhi daya beli, karena biaya transport yang digunakan masyarakat juga akan mengalami kenaikan,” ucap Armin, saat diwawancarai Tribun-medan.com melalui telepon, Jum’at (2/4/2021).

Ia berpendapat Kenaikan BBM ini belum mempengaruhi harga barang-barang di pasar, karena distribusi kebutuhan pokok dari sentra produksi ke pusat-pusat pasar menggunakan kendaraan berbahan bakar premium dan solar (harga BBM tidak naik) pada umumnya.

Pasalnya, kebijakan ini memungkinan terjadinya efek psikologis yang menjadikan pedagang dan distributor berspekulasi untuk menaikkan harga dagangannya.

“Alasannya karena harga BBM naik, maka mereka juga akan menaikkan harga. Faktor-faktor spekulasi seperti ini harus diantisipasi, jangan sampai kenaikan harga Pertalite dan lain-lain itu (kecuali Premium dan Solar) dimanfaatkan oleh pedagang atau distributor sebagai ajang menaikkan harga besar-besaran, terutama menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, ini kesempatan yang pas. Hal ini yang harus dijaga oleh para pemangku kepentingan,” pungkas Armin pengamat ekonomi sekaligus dosen di Univ. Negeri Medan.

Sementara itu, pengamat ekonomi sekaligus dosen Univ. Sumatera Utara (USU), Wahyu Ario Pratomo mengungkapkan bahwa harga BBM non subsidi berbeda di tiap-tiap daerah, hal ini karena Pemerintah Provinsi memiliki wewenang untuk menetapkan peraturan harga BBM sesuai dengan kebutuhan daerah masing-masing.

Ia juga mengutarakan asumsi agar produsen tidak mengambil keuntungan yang terlalu besar dari kenaikan BBM ini terutama saat masuknya bulan Ramadhan.

“Dalam situasi pandemi begini daya beli masyarakat masih rendah, jika produsen menaikkan harga terlalu tinggi bisa menimbulkan blunder untuk perusahaan, daya beli masyarakat akan semakin menurun,” ujar Wahyu saat di wawancarai melalui sambungan telepon.

Tanggapan Pedagang dan Konsumen di Pasar

Halaman
12
Penulis: Dian Nur Utama Saragih
Editor: heryanto
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved