Breaking News:

Ternak Babi Langka di Sumut

Stok Daging Babi Tinggal 10 Persen, 2.000 Pedagang Menjerit Kepada Pemerintah

Dia mengungkapkan faktor kenaikan harga daging babi akibat sedikitnya ternak yang hidup. Jika harga daging dulu sekitar Rp 23 ribu per kg

Stok Daging Babi Tinggal 10 Persen, 2.000 Pedagang Menjerit Kepada Pemerintah

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Imbas wabah African Swine Fever (ASF) sejak akhir 2019 membuat daging babi langka di pasaran. Kondisi itu juga mengakibatkan harga daging babi terus merangkak naik hingga Maret 2021.

Menanggapi hal itu, Ketua Gerakan Masyarakat (Germas) Save Babi Toman Purba meminta pemerintah untuk serius dalam penanganan wabah ASF.

"Kemarin kami road show di beberapa Kabupaten dan Kota termasuk wilayah Kota Madya Medan. Ada sekitar 20.000 pedagang daging babi mengalami kesulitan mendapatkan stok daging," kata Toman setelah mengikuti diskusi, "Siapa Peduli Ternak Babi," di Literacy Coffee, Jalan Jati II, Teladan Timur, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan, Kamis (1/4/2021).

Dia mengungkapkan faktor kenaikan harga daging babi akibat sedikitnya ternak yang hidup. Jika harga daging dulu sekitar Rp 23 ribu per kg kini telah menjulang capai Rp 100 ribu per kg.

"Makanya kalau dijual di pasaran, harga daging babi tidak bisa ditentukan berapa. Tergantung dari patokan harga pedagang sendiri-sendiri aja," sebutnya.

Dia pun berharap dalam situasi yang memilukan pedagang ini, pemerintah dapat hadir sebagaimana mestinya. Semisal memberikan bantuan kepada pedagang karena penanggulangan wabah ASF terbilang belum efektif. Bahkan vaksin untuk virus babi itu juga belum ditemukan.

"Ditambah lagi penghasilan pun tidak ada. Belum lagi keadaan sedang pandemi Covid-19. Kami otomatis lumpuh total," ujarnya.

Toman bahkan mengungkapkan kondisi pedagang daging babi yang miris. Hal itu dapat ditandai dengan adanya istilah pra putus sekolah bagi anak para peternak saat ini. Fenomena itu dianggapnya karena ketidakpedulian pemerintah.

Dalam pantauan TRIBUN-MEDAN.com, masyarakat yang hadir dalam diskusi tersebut berharap kepada pemerintah untuk memberikan bantuan langsung kepada para peternak yang saat ini sedang terpuruk.

"Hampir 90 persen omzet turun sejak tahun lalu. Selain itu asa 90 persen babi yang saat ini musnah. Hanya tinggal 10 persen yang menjadi keuntungan. Itupun kemungkinan dalam tiga bulan babi tersebut lolos, namun ketika dikembangkan habis (mati) semuanya," ungkapnya.

(cr9/tribun-medan.com)

Penulis: Angel aginta sembiring
Editor: heryanto
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved