Pasukan Militer Myanmar Kocar-kacir ke Hutan Usai Ratusan Warga Desa Melawan dengan Senjata Sendiri
Warga menggunakan senjatan buatan sendiri saat menghadapi pasukan junta militer Myanmar dalam sebuah kerusuhan.
TRIBUN-MEDAN.COM - Warga menggunakan senjatan buatan sendiri saat menghadapi pasukan junta militer Myanmar dalam sebuah kerusuhan.
Pertikaian itu terjadi di dekat Desa Thapyayaye di Yinmabin, wilayah Sagaing, Jumat (2/4/2021).
Kerusuhan terjadi pukul 4 pagi, setelah para warga desa melakukan aksi bertahan melawan 100 tentara junta militer yang akan melakukan penyerbuan ke desa.
Seorang warga mengungkapkan, pasukan junta militer berusaha menyerang desa karena sejumlah warga dan biksu desa memimpin unjuk rasa antikudeta junta militer.
Warga desa sendiri berjumlah ratusan yang berasal dari desa-desa lainnya di Yinmabin dan Kani, yang ikut membantu.
Para warga menggunakan senjata buatan sendiri seperti pistol dan senjata tekanan gas yang menembakkan kaca atau bola baja.
Sementara itu, pasukan junta militer menggunakan peluru tajam.
“Kami harus melawan balik. Jika tidak, generasi selanjutnya akan menghadapi situasi terburuk dari kami. Mereka tak memiliki hukum,” ujar seorang warga dikutip dari The Irrawaddy.
POTRET Warga Myanmar berkonfrontasi dengan polisi di Yangon, Minggu (28/3/2021). (Sumber: AP Photo)
Warga desa mengungkapkan pada siang hari, pasukan junta militer kabur ke dalam hutan setelah menghadapi serangan dari para penduduk.
“Kami tak tahu persis bagaimana memutuskan untuk maju. Kami belum pernah melihat bentrokan seperti itu antara pasukan militer dan warga desa sebelumnya,” lanjutnya sebagaimana dilansir dari Kompas.TV:Kekejaman Junta Militer Myanmar, Lebih dari 40 Anak Terbunuh Sejak Kudeta
Meski begitu, enam warga termasuk beberapa yang cedera berhasil ditahan oleh pasukan junta militer Myanmar.
Kian masifnya keberutalan junta militer, membuat para demonstran kini juga mempersenjatai diri mereka dengan senjata buatan sendiri.
Selain pistol dan senapan tekanan gas, mereka juga membuat panah sendiri serta bom molotov.
Para warga desa juga melakukan serangan pada pasukan junta militer yang berusaha menyerang Kota Kale di Sagaing selama empat hari.
Personel militer mengikuti parade pada Hari Angkatan Bersenjata di Naypyitaw, Myanmar, Sabtu, 27 Maret 2021. (Sumber: AP Photo)
Kekejaman Junta Militer
Dilaporkan lebih dari 40 anak terbunuh oleh junta militer sejak kudeta Myanmar pada 1 Februari lalu.
Laporan itu disampaikan oleh Organisasi Hak Asasi Manusia (HAM) Save The Children.
Organisasi tersebut mengungkapkan apa yang terjadi di Myanmar merupakan sebuah mimpi buruk.
Seperti dikutip dari BBC, mereka juga mengatakan bahwa korban termuda adalah berusia enam tahun.
Bocah tersebut diketahui seorang anak perempuan bernama Khin Myo Chit, yang dibunuh polisi ketika ia lari menuju ayahnya dalam penggeledahan rumah mereka di Mandalay.
Selain itu, seorang anak berusia 14 tahun dipercaya ditembak di dalam atau di dekat rumahnya di Mandalay.
Sedangkan seorang anak berusia 13 tahun ditembak saat bermain di jalanan Yangon.
Save The Children menegaskan meningkatnya kekerasan di Myanmar akan memberikan dampak bagi mentalitas anak, karena mereka merasa takut, stres dan sedih.
“Anak-anak menyaksikan kekerasan dan horor. Jelas Myanmar bukan tempat yang aman untuk anak-anak,” bunyi pernyataan mereka.
Korban tewas karena tindakan represif junta milier Myanmar memang semakin meninggi.
Grup pengawas lokal memperkirakan jumlah korban tewas secara keseluruhan mencapai 536 orang.
Hari paling kelam bagi masyarakat Myanmar terjadi pada Sabtu (27/3/2021), dimana lebih dari 100 orang tewas dalam sehari.
Pihak junta militer tampaknya tak peduli dengan pembunuhan yang mereka lakukan terhadap rakyatnya.
Mereka bahkan mengancam akan terus menembaki para pengunjuk rasa yang menolak kudeta. (*/Tribunmedan.id/Kompas.Tv)