Breaking News:

Ekspor Kopi Paling Turun, Harga di Sumut Sempat Anjlok

Zulkifli Annoor Hasibuan membenarkan adanya penurunan ekspor kopi akibat pandemi sehingga harga di Sumut sempat mengalami anjlok

T R I B U N MEDAN/Alija Magribi
Biji Kopi siap giling. 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut mencatat ekspor pada Februari 2021 mengalami penurunan sebesar 7,49 persen dibandingkan pada Januari 2021 yaitu dari US$799,21 juta menjadi US$739,34 juta atau turun sebesar 7,49 persen.

Namun, bila dibandingkan dengan Februari 2020, ekspor Sumut mengalami kenaikan sebesar 8,09 persen.
Kepala BPS Sumut Syech Suhaimi mengungkapkan, golongan barang yang mengalami kenaikan nilai ekspor terbesar Sumut pada Februari 2021 terhadap Januari 2021 adalah golongan karet dan barang dari karet sebesar US$17,39 juta atau sebesar 13,47 persen.

Sedangkan golongan barang yang mengalami penurunan nilai ekspor terbesar adalah golongan kopi, teh, rempah-rempah sebesar US$19,38 juta diikuti golongan barang ikan dan udang sebesar US$ 16,41 juta atau turun 31,98 persen.

Baca juga: Kedai Kopi Apek, Sudah Ada Sejak 102 Tahun Lalu di Kota Medan, Pecinta Kopi Wajib Kesini

Kabid Pengelohan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Provinsi Sumut, Zulkifli Annoor Hasibuan membenarkan adanya penurunan ekspor kopi akibat pandemi sehingga harga di Sumut sempat mengalami anjlok.

"Karena pandemi itu turun harganya sedikit jadi ekspor banyak yang tidak terima sehingga harga di sini jadi anjlok," ungkap Zulkifli, Minggu (4/4/2021).

Menurut negara tujuan ekspor, sepanjang Februari 2021, negara Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang merupakan pangsa ekspor terbesar Sumut.

Nilai ekspor masing-masing negara sebesar US$117,59 juta, US$94,21 juta dan US$48,57 juta dengan kontribusi ketiganya mencapai 35,21 persen dari total ekspor Sumut.

Sekitar 34,72 persen barang ekspor dari Sumut dipasarkan ke kawasan Asia di luar Asean. Untuk kawasan Asia di luar Asean, India juga merupakan pangsa ekspor sebesar US$43,23 juta.

Pengamat Ekonomi Sumut, Armin Nasution mengungkapkan bahwa penurunan hingga mencapai 7,49 persen dapat dikategorikan penurunan yang cukup besar.

"Di mana-mana industri manufaktur sekarang ini masih mengalami perlambatan ekonomi sehingga mereka mengurangi permintaan komoditas. Ini kondisi perlambatan yang dialami negara yang terimbas Covid-19. Kalau kita lihat bahan baku seperti karet dan juga komoditas kita ekspor, kalau negara yang meminta itu melemah otomatis permintaan akan menurun," ucap Armin.

Halaman
12
Penulis: Kartika Sari
Editor: Eti Wahyuni
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved