Breaking News:

Sidang Memanas, Terkuak Fakta Aneh Rusaknya SLB di Nias, Jaksa: Murid Cuma 2 Orang

Mantan Sekretaris Dinas Pendidikan Nias Barat, Hiskia Gulo yang dihadirkan sebagai saksi mengungkapkan sejumlah kejanggalan pembangunan SLB tersebut.

TRIBUN MEDAN/GITA
Sidang tindak pidana korupsi Pembangunan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri, di Desa Onowaembo Kecamatan Lahomi, Kabupaten Nias Barat dengan terdakwa Edison Daeli alias Ama Berta, Fa'atulo Daeli alias Fa'a dan Marlina Daeli alias Ina Indri, di Pengadilan Tipikor Medan, Senin (5/4/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sidang tindak pidana korupsi Pembangunan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri, di Desa Onowaembo Kecamatan Lahomi, Kabupaten Nias Barat dengan terdakwa Edison Daeli alias Ama Berta, Fa'atulo Daeli alias Fa'a, dan Marlina Daeli alias Ina Indri, berlangsung panas di Pengadilan Tipikor Medan, Senin (5/4/2021).

Pasalnya, mantan Sekretaris Dinas Pendidikan Nias Barat, Hiskia Gulo yang dihadirkan sebagai saksi mengungkapkan sejumlah kejanggalan pembangunan SLB tersebut.

Dalam dakwaan jaksa, proyek pembangunan SLB ini mengakibatkan kerugian keuangan negara atau perekonomian negara sebesar Rp 2.083.708.934.

Hiskia Gulo mengatakan, rusaknya sekolah yang belum genap 5 tahun berdiri tersebut karena adanya bencana alam yakni longsor.

Namun, saat ketua majelis hakim Syafril Pardamean Batubara mempertanyakan, mengapa hanya sekolah yang baru dibangun itu saja yang rusak, Hiskia berdalih hal itu biasa terjadi di Nias.

"Kadang-kadang sebelum dibangun bagus, tapi karena sering lewat kendaraan besar, jadi bisa bergeser. Setelah siap, bangunannya rusak, sering begitu di Nias Selatan," katanya.

Baca juga: INI Nama-nama 50 Jenderal dan Kombes Polri yang Baru Dimutasikan Dalam 3 Surat Telegram

Baca juga: Viral Pengantin Kena Tipu Katering, Momen Bahagia Berubah Jadi Sedih, Keluarga Terpaksa Menahan Malu

Lantas hakim anggota, Bambang Joko Winarno pun mencecar saksi, mengapa kerusakan bangunan yang terbilang baru itu mencapai 90 persen, sementara bangunan di wilayah sekitar tidak rusak.

"Di situ banyak rumah penduduk gak? Apakah rumah penduduk hancur juga? Kalau memang ada bencana alam ya. Ini kok saya lihat fotonya (sekolah) 80 sampai 90 persen sudah hancur total ini, gak bisa dipakai. Kalau yang terdampak SLB aja yang hancur kan lucu," cecar hakim.

Selain itu, terungkap pula fakta aneh lainnya bahwa data terakhir yang didapat oleh tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fatizaro Zai, longsornya SLB tersebut karena penimbunan yang tidak baik, berdekatan dengan jurang, adanya aliran air serta hanya ada 2 murid yang bersekolah di sana.

Sontak saja hal itu membuat hakim heran, dan mempertanyakan data tersebut.

Halaman
123
Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Juang Naibaho
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved