Breaking News:

Terkendala Kirim Hasil Pertanian, Warga Toba Minta Akses Jalan Penghubung ke Labura Diperbaiki

Karena hasil panen sempat tertahan dan bermalam, sawit pun menyusut sehingga menambah kerugian bagi para petani. 

MAURITS PARDOSI / Tribun Medan
Jalan beraspal dan belum beraspal yang ada di Desa Cinta Damai Hasang, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba saat berada di lokasi pada Selasa (6/4/2021). Masyarakat berharap 19 kilometer yang belum diperbaiki ini memengaruhi perekonomian masyarakat. 

TRIBUN-MEDAN.com, BALIGE – Jalan penghubung antara Kabupaten Toba dan Labura yang berjarak sekitar 20 kilometer tak kunjung diperbaiki hingga saat ini.

Terlihat di lokasi, jalan yang telah diperbaiki terhenti di Desa Cinta Damai Hasang, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba.

Karena jalan penghubung belum juga dijamah pemerintah, masyarakat alami kesulitan besar mengirimkan hasil pertanian dari kawasan tersebut ke Kabupaten Labura.

Hasil pertanian yang ada di kawasan tersebut bervariasi; sawit, kakao, karet, tanaman plawija, padi, nilam dan tanaman lainnya yang dinilai memiliki peluang besar memberikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Kabupaten Toba.

Di kawasan tersebut terlihat para petani memiliki kemauan yang kuat bertani secara khusus tanaman yang tumbuh di daerah panas, misalnya sawit, kakao, dan karet.

Kepala Desa Cinta Damai Hasang, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba Purba Nababan menuturkan kerinduan mereka akan diperbaikinya jalan penghubung Kabupaten Toba dan Kabupaten Toba tersebut.

“Jaraknya hanya 19 kilometer lagi ke Labura dari sini. Kita di sini tengah bergiat bertani, khususnya tanaman-tanaman yang jadi penambah PAD kita, misalnya sawit dan karet. Bila jalan ini sudah diperbaiki, saya yakin masyarakat di sini akan semakin bersemangat dan kita bisa lebih maju,” ungkap Kepala Desa Cinta Damai Hasang Purba Nababan saat ditemui pada Selasa (6/4/2021).

Hingga saat ini, masyarakat sekitar harus mengirim hasil pertanian ke kawasan Pulau Raja yang berada di kawasan Asahan, Labuhan Batu Utara yang berjarak sekitar 200 kilometer dan memakan waktu pengiriman selama 1,5 hari.

Artinya, pengiriman dan kembali ke desa tersebut memakan waktu hingga 3 hari.

“Kita masih mengirimkan hasil tani, seperti sawit dari kampung kita ini dengan susah payah. kita harus melintas dari Porsea menuju Pulau Raja yang ada di Asahan sana. Itu jaraknya sekitar 200 kilometer dengan kualitas jalan yang sebagian rusa. Ini kan membuat kita merasa terganggu dan merugi,” sambung seorang warga sekitar dan sekaligus petani sawit Pusing Nababan (47). 

Halaman
12
Penulis: Maurits Pardosi
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved