Breaking News:

Tak Digubris Gubernur Sumut, Mahasiswa Tutup Jalan Pangeran Diponegoro

Sementara itu, pengendara Ojek Online yang melintas Indra mengucapkan sepakat dengan diturunkannya harga BBM.

Penulis: Goklas Wisely | Editor: Royandi Hutasoit
Goklas / Tribun Medan
Puluhan mahasiswa gelar aksi tolak kenaikan harga BBM di depan kantor Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Jalan Pangeran Diponegoro No.30, Madras Hulu, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan, Sumatra Utara, Kamis (8/4/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Puluhan mahasiswa gelar aksi tolak kenaikan harga BBM di depan kantor Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Jalan Pangeran Diponegoro, Kamis (8/4/2021). 

Aksi ini dimulai 14.00 WIB. Karena belum ditanggapi oleh Gubernur Sumut, pukul 14.30 WIB mahasiswa aksi menutup setengah jalan. 

Terlihat kendaraan yang lewat sesekali mengklakson dan menimbulkan kemacetan. Meski demikian aksi tetap berlangsung dan mahasiswa gelar orasi politik. 

"Kepada pengguna jalan kami di sini menuntut harga BBM segera diturunkan. Ini untuk kebaikan kita bersama. Agar masyarakat tidka menjerit karena harga sembako yang pastinya akan naik," kata seorang pria saat berorasi. 

Sementara itu, pengendara Ojek Online yang melintas Indra mengucapkan sepakat dengan diturunkannya harga BBM.

Namun ia juga mengaku keberatan bila jalan sampai diblokade oleh sejumlah mahasiswa. 

"Kalau harga BBM diturunkan saya setuju. Tapi kalau bisa jangan sampai buat macet karena ini kan panas. Saya pas mau ambil orderan jadi terhambat," ujarnya. 

Amatan Tribun Medan puluhan mahasiswa membentangkan dua sepanduk sembari berorasi. Terlihat pula aparat keamanan berjejer di depan gerbang kantor Gubernur Sumut. 

Spanduk itu bertuliskan, "BBM naik, rakyat tercekik. Gubernur Sumut gagal menstabilkan harga BBM dan copot GM Pertamina Mor I Sumbagut." 

"Kami tidak ingin ditanggapi oleh humas melainkan langsung Gubernur Sumut. Hari ini dengan kenaikan harga BBM Rp 200 membuat hati masyarakat sakit," sebutnya.

Dia menjelaskan mahasiswa turun kejalan atas dasar hati nurani dan mewakili kepentingan masyarakat. Kenaikan harga BBM dijelaskan akan berdampak pada harga sembako sehingga mempersulit masyarakat.

Puluhan mahasiswa ini tergabung dalam Aliansi Aktivis Kita (AKTA), Mahasiswa Kota Medan Bersatu (Markobar), dan Badan Eksekutif Mahasiswa Sumatera Utara (BEMNUS Sumut). 

Sehubung dengan kenaikan tarif BBM non subsidi di wilayah Sumut per 1 April 2021, maka mereka mengeluarkan rekomendasi : 

1. Meminta gubernur Sumut untuk menurunkan tarif BBM non subsidi di wilayah Sumatera Utara. 

2. Meminta Gubernur Sumut bertanggungjawab dalan persoalan kenaikan tarif BBM non subsidi di wilayah Sumut. 

3. Meminta Gubernur Sumut mencabut peraturan gubernur nomor 1 tahun 2020 tentang petunjuk pelaksanaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dan Pajak Rokok. 

4. Meminta Gubernur Sumut mengeluarkan rekomendasi untuk mencopot GM Pertamina MOR I Sumbagut 

(cr8/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved