TRIBUNWIKI

Lompat Batu, Dipercaya Sebagai Ritual Pendewasaan Para Pria di Nias

Biasanya dalam melompat batu setinggi dua meter ini, para laki-laki akan mengenakan baju adat Nias beserta aksesorinya. 

Editor: Ayu Prasandi
Tribun Medan/ Liska Rahayu
Siswa SMA Santo Thomas 1 menunjukan atraksi lompat batu di pembukaan Porseni YPK Don Bosco di Lapangan Merdeka, Medan, Sabtu (27/1/2018).   

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN- Nias dikenal dengan keindahan alamnya dan juga kebudayaannya.

Salah satunya yang cukup populer dari Nias adalah tradisi Lompat Batu

Baca juga: Aurel Hermansyah Terharu Dapat Kejutan Romantis dari Suami, Atta Halilintar: Berlinang Air Mata

Pelompat batu beraksi melompati tumpukan batu tiruan setinggi 2,1 meter pada kegiatan
Pelompat batu beraksi melompati tumpukan batu tiruan setinggi 2,1 meter pada kegiatan "Colorful Medan Carnival 2019" di Medan, Sumatera Utara, Minggu (30/6/2019).Tribun Medan/Riski Cahyadi (Tribun Medan/Riski Cahyadi)

Lompat batu atau bahasa daerahnya Fahombo, dulunya sebagai tradisi yang harus ditempuh para kaum laki-laki, sebagai ritual pendewasaan untuk menjadi prajurit dalam perang serta syarat untuk menikah. 

Baca juga: NIKITA MIRZANI Bongkar Kebiasaan Ariel NOAH di Malam Hari yang Tak Terekspos Publik, Nyai Akui Dekat

Dilatih sejak usia anak-anak sekitar tujuh tahun, sedangkan dalam pelaksanaannya ditentukan masyarakat secara khusus.

Lalu diperlihatkan kepada masyarakat. 

Batu untuk melompat memiliki ukuran tinggi mencapai dua meter lebih, panjang sekitar 90 centimeter, dan lebar 60 centimeter. 

Biasanya dalam melompat batu setinggi dua meter ini, para laki-laki akan mengenakan baju adat Nias beserta aksesorinya. 

Dalam hal ini, laki-laki yang hendak melompat batu Nias akan mengambil ancang-ancang, lalu berlari sekenjang mungkin, kemudian menginjakkan kaki di sebongkohan batu untuk tumpuan dan langsung melompat di udara melewati batu besar ini.

Baca juga: Punya Bisnis Mamitoko, Berapa sih Harga Kue yang Dijual Desiree Tarigan?

Apabila kaki menyentuh batu saat melompat maka dianggap tidak berhasil sehingga harus ada persiapan matang. 

Selain itu, para laki-laki yang dapat melompat akan dinilai mempunyai keberanian dan ketangkasan  dalam berperang.  

Melalui hal ini, lompat batu Nias memiliki nilai budaya, nilai kehidupan, dan nilai kebersamaan.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyaksikan lompat batu pada pembukaan Sidang Raya PGI ke XVI di Gunungsitoli
Wakil Presiden Jusuf Kalla menyaksikan lompat batu pada pembukaan Sidang Raya PGI ke XVI di Gunungsitoli (ist)

Baca juga: 3 Lokasi Makan Durian Enak dan Populer di Kota Medan, Pecinta Durian Wajib Coba

Sejarah mencatat, lompat batu Nias sudah ada sejak tahun 1875 saat ajaran agama Kristen masuk di Pulau Nias.

Namun, saat ini lompat batu di Nias dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata tradisional yang dapat dikunjungi.

Berada di Desa Bawomataluo, Fanamaya, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. 

Siswa SMA Santo Thomas 1 menunjukan atraksi lompat batu di pembukaan Porseni YPK Don Bosco di Lapangan Merdeka, Medan, Sabtu (27/1/2018).
 
Siswa SMA Santo Thomas 1 menunjukan atraksi lompat batu di pembukaan Porseni YPK Don Bosco di Lapangan Merdeka, Medan, Sabtu (27/1/2018).   (Tribun Medan/ Liska Rahayu)

Keberadaan desa Bawamatulo terpatnya di atas bukit batu dan ada puluhan anak tangga yang ditempuh menuju desa ini. 

Untuk jarak tempuh dari Bandara Binaka Gunung Sitoli ke Desa Bawomataluo dapat menghabiskan waktu sekitar tiga jam. 

Sampai saat ini, masih ada kaum laki-laki Suku Nias yang dapat melewati lompatan batu Nias.

Para wisatawan juga dapat melihat atraksi lompat serta mengenakan pakaian adat Nias saat berkunjung. 

(cr20/tribun-medan.com)
 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved