Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Kisah Anak Medan jadi Kapten Timnas Indonesia U-19 hingga Masuk Klub Sepak Bola Profesional

David pun menceritakan berbagai hal menarik tentang kisah perjalanan sepak bola sehingga menjadi kapten dan diisukan ke Kroasia

TRIBUN MEDAN/ANGEL AGINTA SEMBIRING
Septian David Maulana (kanan) saat diwawancarai pada program Smart Gen Tribun Medan, Minggu (11/4/2021). 

D : Awalnya coba-coba aja, disuruh pelatih ikut seleksi SSB di USU, awalnya yang tes 550 orang dari medan. Jadi seleksinya gakada beban, kalo lulus syukur. Rupanya di tahap pertama sampai ketiga lulus. Tahap keempat penentuan bisa berangkat ke jakarta atau enggak. Jadi saya mikir orangtua juga udah habis-habisan, jadi jangan sampai setengah-setengah lagi, habis, habiskan aja sekalian gitu.

T : Maksudnya habis ini dalam konteks apa dulu nih?

D : Yang dihabiskan itu waktu, tenaga, pikiran, curahkan aja semua. Kemampuan maksimalkan dan kuatkan.

T : Seleksinya bagaimana?

D : Seleksi pertama untuk timnas, kayak main game lapangan besar 11 lawan 11, disitu bnyk sampai pemain pemain yang lain gak kedapatan main. Syukurnya saya bisa main di tahap pertama, rupanya pelatih lihat saya dan dia suka, dia suruh besok datang lagi, seleksi lagi kayak main game lagi tapi agak kecil gawangnya, disuruh datang lagi besoknya. Setiap hari ada yang berkurang dan gugur. Tahap terakhirnya  se-Sumatera itu, setiap perwakilan provinsi sumatera ada 4orang, seleksinya di usu, berakhirnya medan ada 3akhirnya. Terus di jakarta datang seleksi lagi, seminggu itu cuma main game aja 11 lawan 11 dan akhirnya pas seleksi terakhir saya sakit, demam malamnya. Saya datang ke dokter minta obat, pokoknya yakin aja lah kalau ada niat pasti ada jalannya. Pas besoknya seleksi saya main bagus. Saya ga nyangka juga saya mainnya bagus. Dipanggil sama pelatihnya, kamu bagus disini aja, jangan pulang dulu. Teman saya yang 2 pulang, saya tetap disitu, jadi dari Medan tinggal saya sendiri. Akhirnya sampai sekarang bisa sampai Timnas dan menjadi kapten.

T : Bagaimana perasaan David menjadi kapten dan cara nya menyatukan seluruhny agak menjadi satu visi?

D : Setelah menjadi kapten, saya kaget, senang dan beban, harus megang 28 belum jadi tim, harus tau satu per satu, gimana karakternya.  Tiap malam saya datang ke kamar anak-anak, saya pura-pura aja main ke kamar anak karena saya pengen tau bagaimana karakternya dan apa yang dia mau. Supaya saya tahu dilapangan dia gimana. Saya bicara apa adanya aja, memang saya kapten tapi kalau saya enggak dibantu kalian, saya tidak bisa apa-apa. Mereka bantu saya dalam segi kedisplinan, kerja sama tim, tapi momen yang paling berat buat kami ketika gagal di piala AFF di Thailand. Semuanya sedih, pelatih kacau. Itu yang saya sedihnya karena tim dirombak total. Teman-teman yang berjuang bersama saya dari awal, sebagian dibuang. Karena kalah itu, mencari pemain baru, di rokerlah.

Sebagian anak yang lama dibuang akhirnya saya berpikir jangan sampai moment kayak gini terulang lagi. Jadi saya tekankan ke anak-anak, kerja, ikhlas, berjuang untuk Negara, jangan berpikir meminta uang sedikit pun. Akhirnya kami menuaikan hasil di 2018, di siduarjo piala FA juara 1.

T : David kan mengikuti nasional dan internasional, yang mana yang paling berkesan?

D : Yang paling berkesan buat david ketika juara 2018, baru pertama kali saya di tonton dengan banyak orang, sampai tiket semua habis, disitu gak terbayang bisa sampai dititik ini membawakan nama Indonesia.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved