Breaking News:

News Video

Omzet Pedagang Takjil Kue Bika Khas Minangkabau Menurun 70 Persen

Putra mengaku di tahun kedua pandemi bulan Ramadan 144 H, omzetnya menjual kue Bika khas Minangkabau menurun hingga 70 persen.

Laporan Reporter Tribun Medan/Aqmarul Akhyar

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Sebagian pedagang takjil di bulan suci Ramadan, pastinya mendapatkan keuntungan yang banyak.

Namun tidak pada pedagang kue Bika, Putra, yang mengalami penurunan omzet, di Jalan Amaliun, Kelurahan Kota Matsum II, Kecamatan Medan Area, Kota Medan.

Putra mengaku di tahun kedua pandemi bulan Ramadan 1442 H, omzetnya menjual kue Bika khas Minangkabau menurun hingga 70 persen. Ia mengatakan, baru kali ini ia mengalami penurun omzet jual yang sangat drastis.

"Hanya di tahun ini saja, saya mengalami sangat dratis penurunan omzet penjualan kue Bikanya hingga 70 persen. Padahal di bulan Ramadan tahun lalu, tidak begini sekali menurun omzetnya," tuturnya, Kamis (15/4/2021).

Dalam hal ini, Putra mengakatan sebelum Pandemi pada saat bulan Ramadan, pendapatannya sangat baik. Omzet per harinya bisa mencapai Rp 800 ribuan. Namun saat ini, omzetnya hanya sekitar 30 persen.

Bahkan, sebelum pandemi pada saat bulan Ramadan, di pukul 11.00 WIB sudah ramai dengan pembeli dan ramai kembali di pukul 16.00 WIB. Kalau terkait jam operasionalnya, Kue Bika khas Minangkabau, buka setiap hari dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB.

"Kalau di bulan Ramadan begini, biasanya Jam-jam 4 sore sudah ramai orang beli takjil kue Bika. Tapi saat ini sunyi, adapun yang beli datangnya satu per satu. Terkadang kalau tak laku, terpaksa kami kasih ke orang lain," ucapnya.

Sementara itu, Putra yang sudah 26 tahun menjual kue Bika Khas Minangkabau, juga menceritakan peminat kue Bika paling banyak adalah kalangan orang tua. Hal ini karena Kue Bika Khas Minangkabau ini merupakan kue lama.

Bahkan, kue Bika khas Minangkabau ini satu-satunya hanya ada ditemui di Jalan Amaliun, Kota Medan. Karena, kata putra tak sembarangan orang yang dapat membuat kur Bika ini.

"Hanya orang Minangkabau yang ahli membuat kue Bika ini. Namun, kalau orang Minangkabau yang sudah lama tak tinggal di ranah Minangkabau belum tentu bisa membuat kue Bika," katanya.

Putra juga menceritkan, awalnya kue Bika ada di Medan, karena ibunya merantau dari ranah Minangkabau ke Medan. Sesampainya di Medan, ibunya mencoba-coba menjual penganan khas Minangkabau.

"Awalanya sunyi. tetapi lama kelamaan ramai dan banyak pembelinya. Hanya pada bulan Ramadan kali ini saja yang sunyi," ujarnya.

Sambungnya, sebelumnya kue Bika ini berjualan enam tahun di Jalan Utama. Kemudian, pindah ke Jalan Amaliun sampai sekarang. Ia mengaku, di Jalan Amaliun ia sudah 26 tahun berjualan kue Bika.

(cr22/tribun-medan.com)

Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Bobby Silalahi
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved