HEBOH Ribuan Ikan Mati Terdampar di Pantai Batubara, Diduga Tercemar Limbah Berbahaya

Ribuan ikan yang mati itu menghebohkan dunia maya setelah fotonya diunggah oleh akun Facebook Muhammad Afandi pada Selasa (20/4). 

Penulis: Arjuna Bakkara |
TRIBUN MEDAN/Ist
Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Batubara membawa sampel air ke laboratorium untuk mengetahui penyebab kematian ribuan ikan di kawasan wisata pantai Alam Indah Datuk, di Dusun V, Desa Kuala Indah, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batubara 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Batubara membawa sampel air ke laboratorium untuk mengetahui penyebab kematian ribuan ikan di kawasan wisata pantai Alam Indah Datuk, di Dusun V, Desa Kuala Indah, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batubara.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Batubara, Azhar mengatakan, pihaknya sudah turun langsung ke lokasi penemuan ribuan ikan yang mati di kawasan yang sering dikunjungi wisatawan itu.

Ribuan ikan yang mati itu menghebohkan dunia maya setelah fotonya diunggah oleh akun Facebook Muhammad Afandi pada Selasa (20/4). 

"Tim sudah langsung turun. Kita suda menguji sampel air. Nah, kalau kita di Dinas Lingkungan Hidup ambil sampel air. Kalai Dinas Perikanan, ambil sampel ikan yang mati," katanya, Kamis (22/4/2021). 

Dijelaskannya, saat turun ke lokasi, penampakan air terlihat biasa saja. Ribuan ikan yang mati itu, berada di kawasan wisata Alam Indah Datuk yang selama ini ramai dikunjungi oleh wisatawan.

Jenis ikan yang mati, menurutnya merupakan ikan muara. Azhar menyebut salah satu ikan yang dikenalinya, yakni ikan kepala batu atau ikan duri yang mirip dengan ikan sembilang. 

"Kita belum bisa menduga apa penyebab kematiannya. Kita menunggu hasil laboratorium," katanya. 

Dijelaskannya, pihaknya turun ke lokasi pada hari Rabu (21/4). Saat itu, jumlah ikan tidak sebanyak yang ada dalam foto unggahan di Facebook.

Menurutnya, sudah banyak bangkai ikan yang dibawa ke tengah ketika air laut mulai pasang. "Lagi-lagi kita tunggu hasil lab dulu. Masuk lab semalam (Rabu) dan hasilnya keluar 2 minggu lagi," katanya. 

Ketika ditanya apakah peristiwa serupa pernah terjadi sebelumnya, dia mengaku tidak memiliki catatan. Hal tersebut menurutnya harus ditelusuri lagi informasinya ke masyarakat.

Di sekitar kawasan tersebut, lanjut dia, tidak hanya 1 industri yang beroperasi. Hanya saja apapun penyebab kematian tidak bisa dari menduga-duga. Harus dari hasil laboratorium. 

Sementara itu, pengamat lingkungan hidup, Jaya Arjuna mengatakan, kematian ribuan ikan ini harus ditangani dengan serius karena bukan kali pertama terjadi.

Menurutnya, penelusuran itu tidak hanya pada sampel air melainkan juga perusahaan apa saja yang beroperasi di sekitar kawasan tersebut. 

"Ini harus ditangani dengan serius karena jelas merugikan masyarakat. Ini kejadian sudah berulang kali terjadi. Kita semua harus tahu, perusahaan apa yang beroperasi di sekitar itu. Ini berkaitan dengan kehidupan masyarakat nelayan," katanya.

(Jun-tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved