Breaking News:

TRIBUNWIKI

Masjid Raya Al Mashun, Dibangun Tahun 1906, Arsitektur Perpaduan dari Tiga Negara

Masjid Raya Al Mashun dibuat oleh arsitek asal Belanda dan pertama kali dibangun pada tahun 1906 dan selesai di tahun 1909.

Penulis: Ayu Prasandi
Editor: Ayu Prasandi
Tribun Medan/Riski Cahyadi
Wisatawan foto bersama dengan latar belakang bangunan bersejarah Masjid Raya Al-Mashun, Medan, Sumatera Utara, Selasa (20/8/2019).Tribun Medan/RIski Cahyadi 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN- MAsjid Raya Al Mashun atau MAsjid Raya merupakan satu dari beberapa ikon kebanggaan masyarakat Kota Medan.

Baca juga: Tak Sedarah tapi Seperti Saudara Kandung, Ruben Onsu Bongkar Kedekatan Betrand Peto dengan Anaknya

Masjid yang berlokasi di inti Kota Medan atau tepatnya di Jalan Sisingamangaraja Medan tersebut ternyata untuk arsitekturnya adalah perpaduan dari tiga negara.

“Salah satu keistimewaan Mesjid Raya Al Mashun memang terletak pada desain arsitekturnya.

Arsitektur Masjid Al Mashun merupakan perpaduan dari Asia, Eropa dan juga Timur Tengah,” ujar Pengurus Masjid Al Manshun, Muhammad Hamdan

Ia menjelaskan, Masjid Raya Al Mashun dibuat oleh arsitek asal Belanda dan pertama kali dibangun pada tahun 1906 dan selesai di tahun 1909.

Masjid Raya Al Mashun, di Jalan Sisingamangaraja, Nomor 61, Kelurahan Teladan Barat, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan, hari Kamis (28/2/2019)
Masjid Raya Al Mashun, di Jalan Sisingamangaraja, Nomor 61, Kelurahan Teladan Barat, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan, hari Kamis (28/2/2019) (TRIBUN MEDAN/AHKCYAR GIANTORO)

“Masjid Raya Al Mashun dibangun 1906 oleh Sulthan Deli yang ke sembilan yaitu Sulthan Makhmud AL Rasyid dan selesai tahun 1909 dan diresmikan pada hari Jumat di tahun yang sama,” jelasnya.

Ia menuturkan, Masjid Raya Al Mashun dibangun dengan bentuk segi delapan yang memiliki delapan araha mata angin. Mesjid Raya Al Mashun dibangun dengan pencahayaan yang cukup sehingga saat siang hari tak perlu ada tambahan penerang.

“Ada tujuh pintu di Mesjid Raya Al Mashun dan jika ketujuhnya dibuka, di dalam mesjid akan tetap sejuk walaupun tidak ada pendingin seperti kipas angin atau AC,” tuturnya.

Ia menerangkan, Masjid Raya Al Mashun merupakan satu kesatuan dengan Istana Maimun dan juga Kolam Deli yang memang sengaja dibangun oleh Sulthan Deli ke Sembilan tersebut.

Baca juga: Hotman Paris Ternyata Miliki Ketakutan Terbesar yang Mengejutkan Ini, Blak-blakan Mengakuinya

“Masjid Raya Al Mashun, Istana Maimun dan Kolam Deli merupakan bukti bahwa adanya perencanaan yang sangat matang seorang pemimpin. Beliau membangun istananya untuk tempat tinggal, setelah itu membangun mesjid untuk sarana ibadah serta taman untuk bermain anak cucunya,” terangnya.

Ia mengungkapkan, Masjid Raya Al Mashun bukanlah mesjid pertama yang dibangun oleh Sulthan Deli di Medan, Mesjid tertua atau yang dibangun adalah Mesjid Al Osmani yang berada di Medan Labuhan.

Masjid Raya Al Mashun, di Jalan Sisingamangaraja, Nomor 61, Kelurahan Teladan Barat, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan, hari Kamis (28/2/2019)
Masjid Raya Al Mashun, di Jalan Sisingamangaraja, Nomor 61, Kelurahan Teladan Barat, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan, hari Kamis (28/2/2019) (TRIBUN MEDAN/AHKCYAR GIANTORO)

Baca juga: Alasan Karena Cemburu Ucok Safari Habisi Nyawa Pacar, Jasad Korban Dibuang Dippinggir Jalan

“Hingga saat ini, pengelolaan Masjid Raya Al Mashun masih dikelola oleh kesulthanan dan juga dibantu oleh pemerintah terutama untuk pendanaan,” ungkapnya.

Ia mengatakan, walaupun telah berumur lama, namun Masjid Raya Al Mashun masih tetap bertahan dan hingga saat ini perawatan yang dilakukan masih sebatas pengecatan, perbaikan jika ada yang bocor.

“Penambahan bangunan hanya dilakukan pada area kamar mandi wanita saja, sementara pada masjid, menara dan gerbang masih mempertahankan bangunan yang lama,” katanya.

(pra/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved