Breaking News:

Komnas Perempuan Kecam Tindakan Maniur Sihotang yang Perlakukan Pacarnya Layaknya Anjing

Ia menegaskan bahwa pihaknya akan memantau terus perkembangan kasus ini dan untuk memenuhi keadilan bagi korban. 

Penulis: Victory Arrival Hutauruk | Editor: Royandi Hutasoit
Victory / Tribun Medan
Polisi mengamankan Maniur Sihotang pelaku penganiaya Rina Simanungkalit (33) yang dirantai hingga 3 hari dan disiksa hingga kepalanya bocor, Jumat (23/4/2021) 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Komnas Perempuan menyesalkan terjadinya kekerasan dengan perantaian yang terjadi kepada Rina Simanungkalit di Tangguk Bongkar/Elang Kelurahan Tegal Sari Mandala II, Medan Area.

"Komnas Perempuan menyesalkan terjadinya Kekerasan Dalam Pacaran (KDP) fisik dan perampasan kemerdekaan terhadap Rina Simanungkalit," tutur Komisioner Komnas Perempuan Siti Aminah Tardi, Sabtu (24/4/2021).

Ia menegaskan bahwa pihaknya akan memantau terus perkembangan kasus ini dan untuk memenuhi keadilan bagi korban. 

"Namun, Komnas Perempuan dapat memantau penanganan kasus ini khususnya untuk pemenuhan hak keadilan dan pemulihannya," tuturnya.

Lebih lanjut, Siti juga menegaskan akan merujuk korban ke pendampingan ke lembaga penyedia layanan korban baik yang berbasis negara atau masyarakat. 

Ia menyebutkan bahwa hal ini memperlihatkan bahwa ranah yang paling berisiko bagi perempuan mengalami kekerasan, yaitu ranah personal.

Dimana diantaranya dalam perkawinan atau dalam rumah tangga (KDRT) serta dalam hubungan personal (hubungan pribadi/pacaran)

"Tingginya KDP nampak dari laporan Catatan Tahunan Komnas Perempuan. Tahun 2020 kasus KDP berjumlah 1.309 kasus atau 20 persen," ungkapnya. 

Ia menerangkan dalam pemberitaan pihak Kepolisian telah 'mengamankan' pelaku.  Hal ini harus diikuti dengan penyidikan dan menetapkan pelaku sebagai Tersangka.

"Kami mengapresiasi langkah kepolisian yang telah melakukan langkah cepat untuk membantu korban dengan membawanya ke RS Bhayangkara dan mengamankan pelaku. Kami berkeyakinan kepolisian akan mengacu kepada KUHAP dan Perkap No 6 tahun 2019 tentang penyidikan tindak pidana,"

Siti juga meminta pihak penyidik kepolisian menilai secara komprehensif kasus ini yaitu adanya relasi kuasa antara pelaku dan korban baik sebagai lelaki-perempuan, maupun relasi ekonomi

"Yang menempatkan korban pada kondisi yang tidak berdaya (powerless) dan dampak yang ditimbulkan akibat penganiayaan dan perampasan kemerdekaan tersebut," tegasnya. 

(vic/tribunmedan.com) 

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved