Breaking News:

Kronologi Lengkap Penyuapan Penyidik KPK hingga Wali Kota Tanjungbalai Ditetapkan Tersangka

Setelah pertemuan tersebut Stepanus memperkenalkan Maskur Husain melalui telepon kepada Syahrial untuk bisa membantu permasalahannya.  

TRIBUN MEDAN/ist
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi memaparkan kasus penyuapan penyidik KPK yang dilakukan oleh Walikota Tanjungbalai di gedung merah putih KPK, Sabu(24/4/2021). Terlihat Walikota Tanjungbalai, mengenakan rompi tahanan KPK bewarna orange  

TRIBUN-MEDAN.COM, TANJUNGBALAI - Wali Kota Tanjungbalai, Muhammad Syahrial akhirnya ditersangkakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Sabtu(24/4/2021) di gedung merah putih KPK. 

Syahrial terlihat mengenakan rompi orange khas tanan KPK dan membelakangi awak media. Penetapan itu langsung dibacakan oleh Ketua KPK, Firli

Syahrial di sangkakan dengan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 

Di jelaskan dalam pers relis KPK, kasus ini bermula pada Oktober 2020 lalu, dimana Syahrial menemui menemui Aziz Syamsudin, selaku Wakil Ketua DPR RI di rumah dinasnya di Jakarta Selatan dan menyampaikan permasalahan adanya penyelidikan yang sedang dilakukan oleh KPK di Pemerintahan Kota Tanjungbalai.  

Atas perintah Aziz, selanjutnya Ajudan  menghubungi Stepanus Robin Pattuju selaku penyidik KPK saat itu untuk datang kerumah dinasnya. 

Setelah itu, Aziz langsung memperkenalkan Syahrial dengan Stepanus.

Dalam pertemuan tersebut, Syahrial menyampaikan permasalahan terkait penyelidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota Tanjungbalai yang sedang dilakukan KPK agar tidak naik ke tahap Penyidikan dan meminta agar Stepanus dapat membantu agar permasalahan penyelidikan tersebut tidak ditindaklanjuti oleh KPK. 

Setelah pertemuan tersebut Stepanus memperkenalkan Maskur Husain melalui telepon kepada Syahrial untuk bisa membantu permasalahannya.  

Stepanus bersama Maskur sepakat untuk membuat komitmen dengan Syahrial terkait penyelidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota Tanjung Balai untuk tidak ditindaklanjuti oleh KPK dengan menyiapkan uang sebesar Rp1,5 Miliar. 

Selanjutnya, Syahrial menyetujui permintaan Stepanus dan Maskur dan mentransfer uang secara bertahap sebanyak 59 kali melalui rekening bank milik RA (Riefka Amalia) teman dari saudara Stepanus. 

Syahrial juga memberikan uang secara tunai kepada Stepanus hingga total uang yang telah diterima Stepanus sebesar Rp1,3 Miliar. 

Pembukaan rekening bank oleh Stepanus dengan menggunakan nama RA dimaksud telah disiapkan sejak bulan Juli 2020 atas inisiatif MH. 

Setelah uang diterima, Stepanus kembali menegaskan kepada Syahrial dengan jaminan kepastian bahwa penyelidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota Tanjungbalai tidak akan ditindaklanjuti oleh KPK. 

Dari uang yang telah diterima oleh Stepanus, kemudian diberikan kepada Maskur sebesar Rp 325 juta dan Rp 200 juta. 

Maskur juga diduga menerima uang dari pihak lain sekitar Rp 200 juta sedangkan Stepanus dari bulan Oktober 2020 sampai April 2021 juga diduga menerima uang dari pihak lain melalui transfer rekening bank atas nama RA sebesar Rp 438 juta. 

(CR2/TRIBUN-MEDAN.COM)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved