Breaking News:

Pengrajin Perabot Jepara Menjerit, Terpaksa Banting Harga di Tengah Naiknya Bahan Baku

Hal ini diungkapkan Suningsih, pemilik Enggal Jaya Prabot, Jalan Adi Sucipto Medan yang mengalami penurunan dibanding tahun 2020 lalu.

Kartika / Tribun Medan
Pengrajin kayu jati Jepara saat sedang melakukan pengecatan di Jalan Adi Sucipto Medan, Sabtu (24/4/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com - Pengrajin perabot kayu Jepara masih belum bisa memulihkan pendapatan di tengah pandemi saat ini. 

Hal ini diungkapkan Suningsih, pemilik Enggal Jaya Prabot, Jalan Adi Sucipto Medan yang mengalami penurunan dibanding tahun 2020 lalu.

"Ada juga penjualan di tahun ini tapi tidak sekencang tahun 2019 lalu. Waktu awal pandemi pun masih lumayan kencang penjualan, tapi tahun ini agak sepi jauh berkurang sampai 50 persen," ungkap Suningsih, Sabtu (24/4/2021).

Dikatakan Suningsih, untuk tahun 2021 ini ia hanya mampu menjual maksimal 15 produk dibanding tahun sebelumnya yang mampu terjual hingga 30 perabot.

Adapun aneka jenis perabot yang dijual mulai dari bingkai cermin seharga Rp 600 ribu- Rp 800 ribu dan yang termahal dijual dengan harga Rp 15 jutaan untuk satu set meja kursi.

Namun, akibat pandemi ini, mau tak mau Suningsih harus rela banting harga dengan mengurangi sekitar Rp 500 ribu-Rp 4 juta per produk agar dapat terjual.

Namun, hal ini berbanding terbalik dengan harga bahan baku dan transportasi yang meroket dari 10 hingga 30 persen.

"Kita banting harga lah biar yang penting laku gak tertahan disini aja barangnya kan. Penjualan kita lagi lesu malah harga bahan baku ini naik dari sana seperti cat dan bahan lainnya itu naik 10 persen dari misalnya perabot harga Rp 8 juta paling kita cuma bisa lepas Rp 6 juta. Daripada kita nahan harga terus gak laku kan bagus kita jual," ujarnya.

Dikatakan Suningsih, biasanya momen Ramadan menjadi puncak peningkatan penjualan perabot yang bisa terjual hingga ke luar kota. Namun, kini Ningsih harus bersusah payah untuk mencari pembeli di dalam kota.

"Biasanya Ramadan jelang lebaran ini harusnya lagi padat-padatnya penjualan tapi sekarang gak banyak lah karena pengaruh ekonomi. Biasanya penjualan kita sampai ke Padang, Sibolga, keliling Sumut lah terus kalau ke luar itu kita ke Padang, Riau juga. Tapi setahun ini dalam Sumut semua. Alhamdulillah masih ada lah keluar barang, gak terduduk kita," kata Suningsih.

Halaman
12
Penulis: Kartika Sari
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved