Breaking News:

TRIBUNWIKI

Jhony Arek Siagian Jadikan Masa Tua untuk Merenung dan Tenangkan Diri di Kampung Halamannya

Baginya, kekejaman dan kejayaannya di masa lalu adalah tinggal cerita, sebab ia ingin bertobat selagi diberikan waktu oleh Tuhan.

Penulis: Maurits Pardosi
Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/ MAURITS PARDOSI
Jhony Arek Siagian (tengah) saat berada di kediamannya di Desa Bonan Dolok, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba. 

TRIBUN-MEDAN.com, BALIGE – Dunia hitam, dunia premanisme adalah ladang hidup Jhony Arek Siagian saat masih muda hingga jelang usia uzurnya.

Setelah melanglangbuana berpuluh tahun di metropolitan, ia memilih kembali ke kampung halaman di Bonan Dolok, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba. 

Kampung halamannya, tempat rumah orangtuanya sudah dipugar menjadi bangunan yang eksotis.

Seluruh rumahnya dikelilingi botol minuman keras. Baginya, koleksi botol minuman yang tersusun tersebut adalah sebuah seni. Teratur dan apik. 

Ia kini tinggal sendirian di rumahnya. Bangun pagi, lalu berdoa, sarapan, bekerja atau ke acara adat adalah rutinitas hariannya. Terlihat, rumahnya sangat bersih dan teratur walau ia sendiri yang mengerjakannya. 

Jhony Arek Siagian (tengah) saat berada di kediamannya di Desa Bonan Dolok, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba.
Jhony Arek Siagian (tengah) saat berada di kediamannya di Desa Bonan Dolok, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba. (TRIBUN MEDAN/ MAURITS PARDOSI)

Baca juga: Jalan Willem Iskandar Memprihatinkan Seperti Ladang Sawit, Penuh Kubangan Lumpur

Baginya, kekejaman dan kejayaannya di masa lalu adalah tinggal cerita, sebab ia ingin bertobat selagi diberikan waktu oleh Tuhan.

Setiap hari adalah kesempatan baginya bersyukur. 

Saat masa jayanya sebagai preman di metropolitan, ia membangun dan memugar rumah orangtuanya sebagai bentuk penghormatan semata bagi orangtuanya. 

Namun, tanpa disadari, bangunan itu kembali kepadanya setelah memutuskan pulang kampung dan meninggalkan dunia hitam, sebagai preman yang membasmi preman. Ia dikenal sebagai preman pembasmi preman. 

Preman yang lolos dari Peristiwa Petrus tahun 1983/1984 ini kembali ke kampung halaman karena ia diserang penyakit yang baginya aneh. Setelah konsultasi dengan dokter yang ia percaya, akhirnya diputuskan untuk pulang kampung. 

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved