Breaking News:

Rencana Pembangunan Patung Yesus di Toba Tuai Kritikan dari Pelaku Pariwisata di Toba

Ia menyampaikan bahwa pihaknya belum menghitung jumlah anggaran yang akan dibutuhkan dalam pembangunan kedua item tersebut. 

IST
Ilustrasi Patung Yesus 

TRIBUN-MEDAN.com, BALIGE – Saat perencanaan pembangunan ikon Toba, sebuah Patung Yesus tertinggi di dunia didengungkan, pelaku pariwisata di Toba memberikan kritikan. 

Seorang pelaku pariwisata dan pendiri gerakan Toba Bersih Patrick Lumbanraja menegaskan bahwa rencana tersebut harus dipelajari terlebih dahulu dari berbagai sisi. 

“Kita bisa lihat dari beberapa kacamata, kalau bicara dari konteks kunjungan, di awalnya mungkin bisa wow ya pengaruhnya, saya enggak bisa bilang enggak ada pengaruhnya. Tapi kalau kita bicara konteks strategi kawasan Danau Toba untuk jangka panjang itu enggak ada gunanya,” ujarnya saat dikonfirmasi Tribunmedan.id pada Senin (26/4/2021). 

“Yang pertama kita sudah kerjakan itu dengan integrated tourism master plan for lake Toba yang mana salah satu strateginya adalah kita butuh diferensiasi, dari 8 kabupaten ini apa yang menjadi diferensiasi, apa kekuatannya,” sambungnya. 

Setelah melihat kabupaten tetangga yang telah melakukannya, baginya hal itu terkesan tidak bijak. Ia malah mempertanyakan apakah tidak ada hal lain yang terpikir oleh Bupati untuk pengembangan pariwisata di Toba.

“Terkait patung, sebelumnya Taput sudah mulai dan kemudian Samosir kemudian sekarang seperti bukit Sibeabea dan kemudian kalau muncul Kabupaten Toba dengan yang mirip-mirip seperti itu saya pikir itu sangat-sangat tidak bijak, seakan-akan tidak ada hal lain yang bisa dilakukan,” sambungnya. 

Ia menyoal perihal pemahaman pariwisata di Kabupaten Toba. Ia berharap pengembangan pariwisata di kawasan Toba harus dikerjakan dengan benar agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. 

“Bicara konteks Kabupaten Toba untuk ke depan, untuk jangka panjang dalam konteks pariwisata artinya bagaimana masyarakat Toba bisa hidup. Kan itu tujuan kita,” lanjutnya. 

“Kita bukan bicara pekerjaan setahun dua tahun atau tiga setengah tahun tapi yang panjang sekali bagaimana bicara anak cucu kita keturunan kita bisa hidup dengan pariwisata yang dikerjakan dengan benar,” sambungnya.

Baginya, pemerintah kabupaten Toba di masa kini harus belajar dari kesalahan pemerintahan sebelumnya sekaitan dengan pengembangan pariwisata di kabupaten Toba. 

Halaman
1234
Penulis: Maurits Pardosi
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved