Breaking News:

25 Tahun Wara-wiri Semarang-Medan, Ana Membangun Keseimbangan Karier dan Rumah Tangga

Kini, Ana, panggilan akrabnya, menjabat sebagai Direktur Pengolahan PTAN, memimpin 1.600 pekerja dengan pria mayoritas

Tribun Medan
Sri Rusmiana Wati, Direktur Pengolahan PT Aquafarm Nusantara. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sri Rusmiana Wati, nama lengkapnya. Perempuan kelahiran Ambarawa, 51 tahun silam ini rela berlelah-lelah menempun jarak Semarang-Medan atau sebaliknya, demi menjaga perannya sebagai istri dan ibu sekaligus pekerja profesional di sektor pengolahan ikan, persisnya di PT Aquafarm Nusantara (PTAN).

Bukan dalam waktu singkat saja, tapi 25 tahun. Ya, sepanjang menjalani pekerjaannya sejak tahun 1995 hingga sekarang, dalam setahun ia bisa beberapa kali melakukan perjalanan di kedua kota tersebut, demi memastikan bahwa anak-anaknya yang berada di Semarang dapat bertumbuh secara baik. Demikian pula saat ia melakukan perjalanan ke Sumatera Utara, persisnya di pabrik pengolahan ikan PTAN di Desa Nagalawan, Pantai Cermin, Serdangbedagai,  ia harus memastikan bahwa seluruh kegiatan perusahaan berjalan sebagaimana mestinya.

Kelelahannya selama puluhan tahun menunjukkan hasil. Anaknya memperoleh pendidikan secara baik. Bahkan si sulung setelah tamat dari pendidikan ikatan dinas STAN, kini telah bekerja secara mapan. Kerja kerasnya di perusahaan juga membuahkan hasil sepadan. Kini, Ana, panggilan akrabnya, menjabat sebagai Direktur Pengolahan PTAN, memimpin 1.600 pekerja dengan pria mayoritas atau berjumlah 60 persennya. Ia menyandang jabatan tertinggi di perusahaan tersebut untuk perempuan.

Baca juga: Makna Hari Kartini Bagi Melati, Pilot Wanita Kagum Bisa Lihat Pemandangan dari Atas Langit Indonesia

Tentu saja, keberhasilannya ini tak berjalan mulus. Banyak persoalan yang dihadapi, namun dukungan keluarga terutama suami, menguatkannya. Orangtua juga mendukungnya untuk memilih jalur sebagai perempuan karier.

Untuk komunikasi dengan keluarga, menurutnya, saat ini sangat mudah. Ada teknologi mulai telepon hingga video call atau platform digital lainnya. Apalagi saat ini anak-anak juga sudah menginjak usia dewasa. Berbeda sekali dengan masa-masa terdahulu, saat anak-anak masih kecil, ia banyak dibantu oleh orangtua yang kebetulan rumahnya cukup dekat.

Perempuan lulusan Akademi Perikanan Jurusan Pasca Panen dan Sekolah Tinggi Perikanan ini meyakini bahwa apapun hal baik yang dilakukan adalah ibadah yang akan diganjar pahala. Dan, pahala lah yang akan dijadikan sebagai bekal kelak menuju akhirat. Sehingga ketika rasa lelah atau bosan datang, hal inilah yang membuat semangatnya bangkit lagi.

Baca juga: Sosok Kartini di Mata Perempuan Hari Ini dan Perbandingan Antara Cerita Bumi Poetra dan Belanda

Ana, memulai karier sejak masih membujang. Petama diterima bekerja di PTAN ia memperoleh jabatan sebagai Kepala Divisi Quality and Control (QC). Kariernya berjalan mulus, tiga bulan selanjutnya ia sudah menduduki posisi Pimpro Plant Manager Procesing. Tak lama berselang, ia menjatuhkan pilihan pada seorang pria dari tempat bekerja yang sama, sebagai suami. Kini sang suami telah pensiun lebih dahulu. 

Bekerja di sebuah perusahaan asing dengan standar kerja internasional, tentu banyak tantangan yang ia hadapi. Terutama menyangkut skill karyawan dan profesionalisme. Ia juga adalah sosok yang penting untuk memastikan bahwa seluruh proses produksi berjalan sebagaimana mestinya sehingga produk olahan ikan tilapia memenuhi standar ekspor yang sangat ketat.

“Ada 12 sertifikasi internasional yang harus dipenuhi untuk mencapai pada produk dengan standar ekspor. Dan sebagai orang yang bertanggung jawab di bidang pengolahan tilapia, saya harus memastikan bahwa semua berjalan sesuai standar tersebut,” katanya.

Berkenaan dengan momentum Hari Kartini yang baru saja berlalu, ia mengingatkan bahwa Kartini adalah inspirasinya. Apalagi dalam beberapa hal keduanya berasal dari daerah yang sama, Jepara.

“Ibu saya orang Jepara. Dan saya sangat mengagumi Kartini. Beliau inspirasi saya,” ujarnya.

Pada perempuan muda yang ingin berkarier, Ana berpesan, bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kemampuan setara. Para perempuan, berusahalah sekuat tenaga untuk menjadi mandiri.  Kendati di sisi lain ia mengakui bahwa tantangan perempuan adalah pasangannya. Sepanjang ada dukungan dari pasangan, karier akan lebih mudah untuk dijalani.   

Editor: Eti Wahyuni
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved