Breaking News:

Banjir Rob Belawan Kian Parah, Pengamat Lingkungan Singgung Dampak Reklamasi Industri

Jaya Arjuna menjelaskan hutan mangrove selama ini sentral sebagai penyimbang lingkungan dan kehidupan, dan statusnya sebagai Greenbelt

Dedy / Tribun Medan
Warga Belawan unjuk rasa di tengah genangan banjir Rob di Jalan Sumatera dekat pintu masuk objek vital Pelabuhan Belawan. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Masalah banjir Rob Belawan telah berdampak ke ribuan warga setiap datang musimnya.

Jaya Arjuna sosok pengamat lingkungan dan tata kota Medan blak-blakan mengungkapkan penyebab sekaligus solusi permasalahan banjir Rob atau pasang air laut yang naik ke sebagian pemukiman warga Belawan sekitar. 

Jaya Arjuna mengungkapkan bahwa masalah banjir Rob tidak akan pernah bisa diselesaikan Pemerintah Kota Medan, selama pemimpinnya tidak mau peduli dan menganalisa kondisi di lapangan terkait Kuala Deli dan Muara Sungai.

Katanya, banjir Rob yang semakin parah saban tabun ini bermuasal terjadinya pendangkalan Kuala dan Muara Sungai Deli dengan pasir diduga dampak normalisasi. 

"Akar banjir Rob itu pertama daratan rendah, air laut pasang jadi naik ke daratan. Jadi dulu itu ada Muara Sungai Belawan dan Kuala Sungai Deli, kedua berfungsi ketika pasang air laut masuk ke Kuala Deli dulu, jadi air tidak naik ke pemukiman. Sekarang Kuala Deli dankal berpasir, dulu dalamnya bisa 10-14 meter, jadi bisa menampung air pasang," katanya.

"Sekarang Muara dan Kuala penuh sama pasir, gara-gara normalisasi, dibangun benteng, pecah lah benteng itu, 85 persen Kuala Deli jadi penuh pasir dan plastik. Dan gak dikeruk pasirnya. Sampai kapan pun kalau gak dikerjakan ini gak akan selesai masalah banjir Rob," jelasnya. 

Selama ini kondisi Belawan dan Kuala Deli harus dilakukan pengerukan bersamaan dengan Hulu yang berada sungai-sungai di Medan dan kanal-kanal di Medan. Begitu juga, perlunya pelestarian hutan mangrove. 

Jaya Arjuna menjelaskan hutan mangrove selama ini sentral sebagai penyimbang lingkungan dan kehidupan, dan statusnya sebagai Greenbelt atau sabuk hijau. Namun, Greenbelt di pesisir Belawan sudah rusak diduga akibat reklamasi dan industrialisasi. 

"Mangrove itu penting, sebagian paluh-paluh dari mangrove, sekarang dimatikan untuk membuat bangunan industri perusahaan di Belawan. Sepanjang laut itu harus ada Greenbelt sepanjang 300 meter lebarnya dari Mangrove, karena menahan hantaman ombak dan pasang. Sebagai besar itu ditutup reklamasi perusahaan di situ, dihancurkan mangrove. Itu harus dikembalikan," pungkasnya.

Sebelum Tokoh Masyarakat Belawan, Haji Irfan juga menilai ada tata kelola ruang yang perlu dibenahi bersama, baik pihak pemerintah dan ratusan perusahaan-perusahaan ternama di Belawan. Dia berharap semua pihak membuka mata soal banjir Rob yang dikhawatirkan bisa menenggelamkan Belawan. 

"Sekarang ini pasang setinggi ini, nelayan pun gak tahu ini pasang apa, kita gak tahu. Zaman dulu 80an hanya musiman lima tahun sekali. Sekarang sudah berkali-kali masuk ke pemukiman penduduk," katanya.

Haji Irfan juga mendesak pihak pemerintah, kecamatan, dan perusahaan yang ada di lingkar pelabuhan Belawan sekitar sama-sama sadar dengan kondisi dampak lingkungan. Banjir Rob yang semakin sering dan tinggi ini, katanya perlu tindakan cepat. 

"Tolong pemerintah tingkat satu, tingkat dua dan perusahaan sekitar membuka mata untuk secepatnya menata lagi Belawan," pungkasnya.

(dyk/tribun-medan.com) 

Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved