Breaking News:

Sosiolog USU Beber Penyebab Maraknya Tawuran di Belawan

Sosialog Universitas Sumatera Utara (USU), Ahmad Razali, M. Sos menilai adanya frustrasi sosial dan agennya.

TRIBUN MEDAN/DEDY KURNIAWAN
Tawuran antarwarga kembali terjadi di kawasan Bom Lama dan Lingkungan 23, Kelurahan Pekan Lama, Kecamatan Medan Labuhan, Senin (19/4/2021) dinihari.(TRIBUN MEDAN/DEDY KURNIAWAN) 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Tawuran antarwarga kembali terjadi di Belawan. Puluhan remaja dan pemuda saling serang lemparan batu di kawasan Titi Kembar Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan jelang waktu Magrib, Rabu (28/4/2021).

"Udah maen lagi orang itu tawuran, maen di di titi kembar Labuhan. Gak tahu gara-gara apa, tiba-tiba sudah ramai mulai macet mau buka puasa," kata Rendi (32) warga sekitar.

Akibat tawuran ini, jalan lintas Medan-Belawan terganggu. Aktivitas ekonomi terganggu karena truk-truk logistik terjebak macet, begitu juga masyarakat yang hendak pulang kerja dan beribadah buka puasa terganggu.

"Perang-perangan yang merugikan pengguna jalan, sementara karena seringnya jadi hiburan mereka. Gitu lah sok paten, entah pun kalau ditangkap polisi banyak yang positif sabu," tukad Azmi pengendara motor. 

Kebiasaan buruk tawuran yang kerap dipertontonkan masyarakat Medan Belawan seperti sudah menjadi budaya turun temurun, yang sulit diperbaiki. Sosialog Universitas Sumatera Utara (USU), Ahmad Razali, M. Sos menilai adanya frustrasi sosial dan agennya.

"Melihat maraknya aksi tawuran antarwarga di sejumlah daerah di Belawan terlihat ada gejala disfungsi pada struktur dan sistem sosial. Ada unsur dalam struktur sosial perangkat kecamatan, aparat keamanan dan aparat hukumnya seperti kepolisian yang tidak berfungsi selama ini," kata Ahmad Razali

Kata Razali, tanpa menghakimi masyarakat, maraknya tawuran juga bisa dikaji dari sudut  fungsi-fungsi tertentu yang dapat memperkuat struktur sosial. Tawuran ini akan mendorong penyelenggara negara untuk lebih mengupgarde sistem norma masyarakat. 

"Tawuran mendorong penyelenggara negara harus mampu merevitalisasi kembali norma-norma sosial yang ada. Lalu mencari solusi yang lebih komperhensif dalam menyelesaikan tawuran. Kalau penindakan hukum oleh aparat kepolisian saja tidak cukup, perlu instrumen bersama antar perangkat pemerintahan dan aparat keamanan," jelasnya. 

Bang Amek karib Ahamd Razali disapa mengatakan, analisis paling dasar soal tawuran berakar masalah rendahnya pendidikan, masalah ekonomi, dan menumpuknya pengangguran. Artinya tidak ada masalah fundamental, seperti perebutan sumber daya dan wilayah, perbedaan ideologi, atau SARA. 

"Tawuran seringkali bersifat instrumentalia yang hanya sekedar melepaskan ketegangan, tanpa adanya nilai-nilai mendasar yang diperjuangkan atau dibela. Jadi mereka ini kurang hiburan, frustrasi sosial sehingga dilampiaskan lewat tawuran," urainya. 

Halaman
12
Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved