Breaking News:

Indahnya Toleransi, Umat Kristiani Berikan Lahannya untuk Pembangunan Masjid

Apalagi, hingga kini di Desa Tanjung Merahe belum terdapat masjid untuk tempat beribadah umat Muslim di sana.

HO / Tribun Medan
Wagub Sumut Musa Rajekshah bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat Desa Tanjung Merahe, Kecamatan Kutabuluh, Karo saat berada di lokasi pembangunan masjid. Uniknya lokasinya merupakan lahan milik umat Kristiani yang memang khusus diberikan untuk pembangunan masjid. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Indonesia, khususnya Sumatera Utara dikenal sebagai daerah yang memiliki keanekaragaman suku, agama dan etnis. Masyarakatnya dapat hidup rukun dan damai secara berdampingan.

Salah satu wujud toleransi antar umat beragama, ditunjukkan warga yang bermukim di Desa Tanjung Merahe, Kecamatan Kutabuluh, Kabupaten Karo.

Umat Kristiani di desa tersebut memberikan lahannya untuk bisa dibangunkan sebuah masjid. Suatu kondisi yang dapat dikatakan langka. 

Apalagi, hingga kini di Desa Tanjung Merahe belum terdapat masjid untuk tempat beribadah umat Muslim di sana.

Wakil Gubernur (Wagub) Sumut Musa Rajekshah pun mengetahui kondisi tersebut dan telah menjadi saksi, melihat langsung tentang toleransi umat beragama di Desa Tanjung Merahe.

"Saya terharu sekali, bagaimana saudara saudara kita saling membantu, tak pandang siapa dan agama. Singkat cerita pembangunan masjid di Tanjung Merahe ini, saudara kita umat kristiani memberikan lahannya untuk dibangunkan masjid, mengingat saudara-saudara kita di sini belum ada masjid," ucap pria yang biasa disapa Ijeck, ketika itu.

Toleransi antar umat beragama di Desa Tanjung Merahe bukan pertama kali terjadi. Setiap bulan Ramadan, warga yang melaksanakan ibadah Salat Tarawih dipersilakan menggunakan tempat tinggal warga yang beragama Kristen.

"Masya Allah, inilah indahnya kebersamaan. Semoga kita dimana pun berada bisa hidup rukun dan berdampingan walau tanpa memandang perbedaan," ujar Ijeck.

Sementara itu, untuk bisa menuju ke Desa Tanjung Merahe tidak lah mudah, lantaran berada di perbukitan. 

Bila ditempuh dari Kota Medan, membutuhkan waktu tempuh sekitar 5 jam lamanya atau jaraknya berkisar 104,7 kilometer.

Akses jalannya pun tak mulus. Begitu memasuki Desa Tanjung Merahe, sebagian kondisi jalannya masih berupa bebatuan. Status jalannya pun merupakan jalan desa.

"Insyaallah ini jadi masukan bagi Pemprov Sumut untuk lakukan pembangunan," sebutnya.

Dan umumnya masyarakat di Desa Tanjung Merahe ini bermata pencaharian sebagai petani.

(ind/tribun-medan.com)

Penulis: Mustaqim Indra Jaya
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved