Breaking News:

Jaksa Tuntut Pembunuh Rianto Simbolon 20 Tahun Penjara, Keluarga Korban Mengaku Kecewa

Dwi memambahkan, hak para anak korban sebagai anak  sudah benar-benar hilang dan diambil secara paksa oleh para pelaku.

TRIBUN MEDAN/ARJUNA
ANAK-anak Rianto Simbolon, korban pembunuhan di Samosir ketika ditemui di rumah duka selepas pemakaman ayahnya di Desa Sijambur Kecamatan Ronggur Ni Huta, Selasa (11/8/2020). 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Dwi Ngai Sinaga SH MH menyampaikan rasa kecewa atas sidang kasus pembunuhan almarhum Rianto Simbolon yang digelar oleh di Pengadilan Negeri Balige. Seharusnya, menurut Dwi, Terdakwa dituntut hukuman mati.

Sebagai kuasa hukum keluarga almarhum Rianto Simbolon, Dwi mengaku kecewa atas tuntutan Jaksa yang menjatuhkan tuntutan 20 tahun penjara kepada Justinus Simbolon dan rekan lainya dituntut 19 tahun.

"Harusnya, para tersangka  dijatuhkan hukuman mati khusus pelaku utama atau otak pelaku dari rencana pembunuhan ini," kata Dwi yang didampingi Bennri Pakpahan, Sabtu (1/5/2021), Malam.

Merujuk dari Pasal 340 jo pasal 55 KUHP tentang pembunuhan berencana , kata Dwi sudah selayaknya para pelaku dijatuhkan hukuman mati. Dwi berharap Majelis Hakim bisa dapat jeli merujuk kepada pasal  yang sudah ada.

Seperti sebelumnya, kata Dwi, sejak awal kasus ini bergulir publik telah mengetahui para pelaku dikenakan hukuman setimpal. Termasuk ketika kasus ini ditangani oleh Polda Sumut.

"Bagaimana pun kita harus memahami kasus ini benar-benar mencuri perhatian publik secara nasional .Para Hakim dan Jaksa harusnya memiliki empati dan perasaan dengan melihat nasib ke 7 anak almarhum Rianto Simbolon yang kini harus menjadi ayah sekaligus ibu dimasa perjalanannya kehidupannya," terang Dwi.

Dwi memambahkan, hak para anak korban sebagai anak  sudah benar-benar hilang dan diambil secara paksa oleh para pelaku.

"Bagaimana ini bila anak kita dimana perasaan empati dan nurani kita,"tambah Dwi.

Ia juga memberikan alasan bahwa para pelaku secara tidak langsung sudah menghilangkan paksa hak dan tumbuh kembangnya anak. Juga kata Dwi,  bahwa dirinya bukan semata-mata bernafsu memenjarakan orang, namun demi tegaknya keadilan untuk tujuh orang anak korban yang masih kecil sudah menjadi yatim piatu.

"Apakah para penegak hukum di PN Negeri Balige tidak melihat akibat tindakan para pelaku 7 orang anak yang sudah yatim kehilangan kasih sayang dengan tanpa disadari para pelaku akibat perbuatan yang berdarah dingin masa depan anak-anak itu hilang , termasuk untuk mendapatkan hak sebagaimana mana anak-anak lainnya," tegas Dwi.

Halaman
123
Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved