Breaking News:

Hari Pendidikan Nasional

Momen Hardiknas, Guru Honorer Masih Digaji Rendah dan Minta Ini ke Dinas Pendidikan Kota Medan

Guru honorer di Kota Medan turut merasa bersyukur masih bisa mengajar hingga saat ini meskipun gajinya rendah

Tribun Medan/Array
Honorer Kategori II menangis saat menyampaikan aspirasinya di depan DPRD Sumut. Mereka meminta pemerintah mengangkat para honorer menjadi PNS, Rabu (25/10/2017) 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN--Momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada hari ini, Minggu (2/5/2021) menjadi titik refleksi sejumlah guru honorer di Kota Medan.

Di tengah ketidakpastian ekonomi yang morat-marit akibat pandemi Covid-19, guru honorer yang bergaji rendah cuma bisa mengapungkan harapan dan doa, agar di tahun ini pemerintah memperhatikan kesejahteraan kalangan tenaga pendidik. 

"Kami sangat berharap peringatan Hardiknas yang jatuh tiap 2 Mei bisa memberikan perubahan di sekolah, khususnya dari sisi kesejahteraan bagi kalangan guru honorer di Kota Medan," kata Ketua Forum Honorer Indonesia (FHI) Medan, Fahrul Lubis, Minggu siang.  

Baca juga: Aulia Rachman Ultimatum Pegawai Disdik, Minta Insentif Guru Honorer Dicairkan Sebelum Lebaran

Dia mengatakan, menjadi seorang guru memang merupakan tuntutan panggilan jiwa.

Meskipun saat ini gaji guru honorer sangat minim, namun Fahrul dan guru honorer lainnya punya keyakinan, bahwa perjuangan mereka dalam mendidik anak-anak bangsa tidak akan sia-sia.

"Kami punya rasa kebanggan tersendiri dapat mencetak anak-anak sebagai generasi muda yang gemilang ke depan. Itulah tujuan utama para guru honorer," sebutnya.

Meski begitu, Fahrul berharap agar Dinas Pendidikan rutin memantau langsung ke sekolah-sekolah untuk mengetahui permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh guru honorer maupun sekolah.

Baca juga: Momen Wakil Wali Kota Medan Ancam Rotasi Pejabat Disdik Gegara Insentif Guru Honorer

“Semoga pemerintah, khususnya dinas pendidikan (Disdik) Medan semakin memperhatikan kalangan bawah dan terjun langsung ke lapangan. Tidak hanya menerima melalui laporan saja," tegasnya. 

"Terutama dalam penggunaan dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang ada di sekolah banyak yang tidak sesuai antara anggaran dan pembelanjaanya. Makanya harus benar-benar diaudit dengan tim yang jujur," sambungnya. 

Ia pun mengaku kadang merasa iri dengan sesama guru yang sudah diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) tahun 2014.

Sebab, guru PNS cenderung lebih diperhatikan ketimbang guru honorer.

"Sampai saat ini masih ada guru honorer yang belum digaji selama 8 bulan lamanya. Ini lah keluhan kami. Semoga telinga para pihak terkait dapat mendengar keluh kesah kami. Demikianlah harapan saya dan guru - guru honorer," tutupnya.(cr8/tribun-medan.com)

Penulis: Goklas Wisely
Editor: Array A Argus
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved