Breaking News:

Balar Sumut Temukan Sejumlah Peninggalan Sejarah di Samosir

Tambahnya, rekaman itu hingga kini masih sering disampaikan sebagai pengantar untuk meminta repertoar gondang mulamula (awal tarian). 

Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Royandi Hutasoit
TIM PENELITI BALAR SUMUT
Penelitian yang dilakukan oleh Tim Penelitian Balar Sumut 2021 di kawasan Samosir sejak 17 hingga 29 April 2021. 

TRIBUN-MEDAN.com, SAMOSIR - Balai Arkeologi Sumatera Utara memberangkatkan tim dan rombongan peneliti ke Samosir pada Sabtu (17/4/2021) hingga Kamis (29/4/2021). 

Lapangan penelitian dilakukan di dua desa di Kenegerian Limbong, yakni: Desa Sari Marrihit dan Desa Sikkam. 

“Ada tiga desa lainnya yang menjadi bagian dari Kenegerian Limbong, yaitu: Boho, Sipitudai, dan Habeahan. Dulu sebelum menjadi salah satu kenegerian, Limbong menyatu dengan Sagala. Sagala juga praktis menjadi satu kenegerian pada masa kolonial. Namun jauh sebelumnya keduanya tercakup dalam satu ungkapan Sianjur Mulamula. Demikian setelah kemerdekaan kembali menyatu dalam administrasi Kecamatan Sianjur Mulamula,” ungkap seorang budayawan dan sekaligus anggota tim penelitian Balar Arkeologi (Balar) Sumatera Utara Thompson Hs, Selasa (4/5/2021). 

Ia melanjutkan keterangan bahwa ada rekaman sastrawi tentang ungkapan Sianjur Mulamula melalui: Sianjur Mulamula sianjur mula tompa, mula ni ruma ijuk mula ni ruma gorga mula ni roha marbisuk mula ni jolma marroha (Sianjur kampung terawal desa bermula, awal dari rumah beratap ijuk dan berukir, awal dari hati nan arif dan bijaksana). 

Tambahnya, rekaman itu hingga kini masih sering disampaikan sebagai pengantar untuk meminta repertoar gondang mulamula (awal tarian). 

“Ungkapan itu juga mungkin saja disampaikan dalam tonggotonggo (doa pujaan) oleh parbaringin (pendeta upacara), sebagaimana kemudian doa pujaan yang berkembang tentang Bakara; Bakara na mardindinghon dolok na marhirehirehon ombun (Bakara yang berdindingkan gunung dan bertiraikan embun),” sambungnya. 

Dalam penuturannya, Sianjur Mulamula dan Bakara menjadi dua contoh warisan alam karena keindahan lembah dan lahan pertaniannya yang berlimpah dengan sumber-sumber air.

“Demikian dengan beberapa tempat lainnya di kawasan Danau Toba dan Samosir, seperti di Sabulan sebagai bagian dari kawasan Ulu Darat. Hasil pertanian dapat menopang berbagai upacara, ritual, adat, dan hidup sehari-hari penduduk yang tinggal di sana,” sambungnya. 

“Horja bius adalah upacara tahunan yang terkait dengan pertanian dan dilaksanakan oleh federasi kampung,” tambahnya. 

Kampung sebagai hunian menjadi penting dalam konsep pengelolaan warisan alam karena warisan alam dapat memberikan pengaruh besar untuk perkembangan manusia dan budayanya. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved