KISAH Mayor Jantje Kaya Raya dari Sarang Burung Walet, Ini Manfaatnya dan Harganya Per Kilogram
Pemerintah pun kini sedang gencar mendorong petani sarang burung walet untuk bisa memproduksinya.
Sebagai pengekspor Sarang Burung Walet (SBW) terbesar di dunia, para pelaku usaha Indonesia banyak menyasar pasar Cina karena harga jual yang lebih tinggi dibandingkan negara lain, yakni antara Rp 25 juta hingga Rp 40 juta per kilogram.
TRIBUN-MEDAN.COM - Pemerintah China berminat membeli sarang burung walet dari Indonesia dengan nilai yang terbilang besar, sebanyak Rp16 triliun.
Pemerintah pun kini sedang gencar mendorong petani sarang burung walet untuk bisa memproduksinya.
Hal itu disampaikan langsung oleh Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi.
"Ini yang kita bahas tadi bersama Bapak Presiden Joko Widodo, kami diminta bersama dengan Menteri Pertanian dan Menteri Perindustrian agar bisa mendorong para petani sarang burung walet bisa memenuhinya," kata Lutfi usai Rapat Terbatas dengan Presiden Jokowi yang disiarkan secara virtual, Selasa (05/05/2021), yang dikutip dari Kompas TV:China Mau Beli Sarang Burung Walet Rp16 T, Pemerintah Tancap Gas Genjot Produksi
SARANG BURUNG WALET: Pekerja tengah menyortir sarang burung walet untuk diekspor dari Medan, Sumatera Utara, Selasa (10/3/2020) lalu. TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Hingga saat ini, ekspor sarang burung Walet ke China baru sekitar Rp 8 triliun, setengah dari komitmen pembelian China.
China memang negara yang dikenal memiliki tradisi menyantap burung walet.
Negeri ini mengimpor dari berbagai belahan dunia sarang burung walet, termasuk Indonesia yang menyumbang 80 persen produksi sarang burung Walet dunia.
Maka tidaklah mengherankan, di zaman Belanda, Batavia pernah punya orang terkaya karena usaha sarang burung walet, Mayor Jantje.
Kisah itu dituliskan oleh Johan Fabricus dalam buku Major Jantje, Cerita Tuan Tanah Batavia Abad ke-19.
Sarang burung walet (Sumber: Tribunnews)
Buku berdasarkan sejarah mengisahkan Major Jantje, yang bernama lengkap Augustijn Michels, penduduk pribumi Indo yang oleh orang Tionghoa dipanggil "Mayor Jantje".
Sang Mayor mendapat kekayaan dari ayahnya yang membeli tanah di Klapanunggal, Cileungsi, Bogor.
Tanah ini disebut Vogelberg alias gunung burung karena di sana banyak sarang burung.
Dengan usaha sarang burung waletnya, Mayor Jantje memperoleh kekayaan melimpah.
Ratusan budak yang bekerja, rumah panjang yang megah dan selalu ada pesta setiap Sabtu malam.
Disebutkan seluruh kebutuhan Mayor Jantje sebesar 3280 gantang beras (satu gantang setara 3,125 kilogram) dalam sebulan.
Bahkan anjing Mayor Jantje saja perlu 28 gantang.
Semua kekayaan itu didapat dari usaha sarang burung walet.
"Burung-burung walet Klapanunggal itu merangsang daya bayangannya, sesuatu yang terjadi ketika ia masih kanak-kanak," demikian Johan Fabricus menceritakan Mayor Jantje ketika masih anak-anak yang terpesona dengan sarang burung walet milik ayahnya.
"Suatu ketika ia ikut ke sumber harta yang tak pernah kering itu. Dengan menahan nafas, ia saksikan bagaimana pemetik-pemetik sarang itu meluncur turun ke bawah melalui tangga-tangga rotan, dikaitkan pada dinding karang yang terjal."
Melalu kekayaan yang melimpah, saudagara kaya ini sering mengadakan pesta di rumahnya.
Salah satu jenis kesenian yang paling sering ditampilkan adalah tanjidor, perpaduan musik lokal Sunda, Betawi dan Belanda.
Para pemain diberi seragam, diberi tempat di rumahnya hanya untuk menghibur semata.
Sejarawan dari Universitas Indonesia (UI) Mona Lohanda ketika memberi kata pengantar terhadap buku ini menuliskan, "Barangkali inilah peninggalan Mayor Jantje paling berharga. Tradisi bermusik ini, di kemudian hari dikenal sebagai cikal bakal tanjidor, musik pengaruh Indo Belanda yang dikenal sebagai musik rakyat Betawi."
Ilustrasi sarang burung walet (Sumber: Tribunnews.com/Kompas.com)
Nilai Expor Sarang Walet Meningkat di Tengah Pandemi
Bahkan, di tengah ancaman pandemi Covid-19 ini banyak bisnis yang lesu dan terpuruk di Indonesia. Tapi tidak untuk bisnis ekspor sarang burung walet.
Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, di tengah wabah atau pandemi virus corona ini justru bagi Indonesia mengalami peningkatan ekspor sarang burung walet yang terbilang tinggi.
"Ini adalah anugerah dari Tuhan untuk kita, tanpa perawatan khusus walet memberikan sumbangan devisa negara dan pendapatan bagi petani," ujar Syahrul dalam keterangan tertulisnya, Minggu (17/1/2021) lalu, seperti dilansir Kompas.com, yang tayang di Kompas TV:Bisnis Saat Pandemi, Ekspor Sarang Burung Walet Indonesia Meningkat
Coba kita tengok data IQFAST Badan Karantina Pertanian (Barantan), selama masa pagebluk Covid-19, jumlah ekspor sarang burung walet mencapai 1.155 ton dengan nilai Rp 28,9 triliun.
Jumlah tersebut meningkat 2,13 persen dari pencapaian di tahun 2019 yang hanya sebanyak 1.131,2 ton atau senilai Rp 28,3 triliun.
Saat ini, sarang burung walet yang diperdagangkan merupakan komoditas binaan dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementan untuk produktivitasnya.
Sedangkan untuk pendampingan eksportasi mulai dari harmonisasi aturan dan persyaratan teknis sanitasi negara tujuan dan bimbingan teknis sanitari dan keamanan pangan, food safety-nya dilakukan oleh Barantan.
Syahrul mengatakan, melalui Barantan, pihaknya telah melakukan pendampingan terhadap 23 eksportir sarang burung walet RI, sehingga berhasil teregistrasi oleh otoritas karantina pertanian Cina, GACC (General Administration of Customs of the People's Republic of China). Sebab, lanjut Syahrul, sebanyak 262 ton atau 23 persen dari total ekspor SBW RI dibeli oleh Cina.
Sebagai pengekspor SBW terbesar di dunia, para pelaku usaha RI banyak menyasar pasar Cina karena harga jual yang lebih tinggi dibandingkan negara tujuan lain, yakni antara Rp 25 juta hingga Rp 40 juta per kilo.
Namun demikian, dengan harga yang lebih tinggi itu, secara khusus Cina juga mempersyaratkan ketentuan registasi bagi tempat pemroses sarang walet di samping pemenuhan persyaratan teknis.
Kepala Barantan Ali Jamil menjelaskan, secara keseluruhan ada 23 negara tujuan ekspor lain bagi sarang burung walet RI, antara lain Australia, USA, Kanada, Hongkong, Singapore, Afrika Selatan dan lainnya.
"Setiap negara tujuan memiliki protokol ekspor masing-masing dan kami selaku otoritas karantina mengawal persyaratan teknisnya," ujar Jamil, menegaskan.
Ilustrasi makanan yang mengandung kolagen seperti sarang burung walet (Sumber: ddukang via Kompas.com)
Manfaat Sarang Burung Walet
Semakin banyak orang memanfaatkan sumber-sumber dari alam untuk menjaga kesehatan dan kecantikan.
Salah satu sumber alami yang tengah diperkenalkan adalah sarang burung walet.
Sarang burung walet (Edible's Bird Nest) adalah sarang yang diciptakan dari air liur burung walet yang terpadatkan tanpa tambahan bahan lain.
Jadi tak hanya punya nilai ekonomi yang tinggi, ternyata sangat banyak manfaat dari sarang burung walet ini.
Dilansir dari Kompas.com, berikut deretan manfaat sarang burung walet:
- Memperlancar metabolisme tubuh.
- Menjaga kesehatan kulit.
- Mempercepat proses regenerasi sel.
- Menjaga sistem pencernaan.
- Berperan sebagai booster dalam sistem tubuh.
- Mengoptimalkan perkembangan otak ada janin dengan kandungan Asam Sialat dalam sarang burung walet yang teruji 11,6 kali lebih tinggi dibanding Asam Sialat dalam ASI kolostrum, dan lainnya.
Banyaknya manfaat sarang burung walet memang sangat beralasan. Sebab, mendapatkan manfaat dari sarang burung walet rupanya juga membutuhkan proses yang tidak mudah.
Dibutuhkan proses hampir enam jam untuk mengolahnya mulai dari pembersihan sarang, pencucian hingga perebusan.
Proses yang rumit dan panjang membuat sarang burung walet termasuk komoditas produk hewani yang dijual dengan harga tinggi. Apalagi, Indonesia merupakan salah satu daerah penghasil sarang burung walet terbaik di dunia.
(*/Tribun-medan.com/ Kompas TV)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ekspor-sarang-burung-walet.jpg)


