Breaking News:

True Story

Kisah Menegangkan Kapten Henri Alfiandi Nyaris Baku Tembak di Udara dengan Pesawat Tempur Australia

Saat itu, kekerasan meletus di Timor Leste setelah sebagian besar warga Bumi Lorosae memilih untuk merdeka dari Indonesia.

Editor: Abdi Tumanggor
Repro Tribun-Medan.com/ Tribunnews.com/
Kisah Menegangkan Kapten Henri Alfiandi Nyaris Baku Tembak di Udara dengan Pesawat Tempur Australia saat konflik Timur Timor (TIMTIM). 

Misi Hawk dikoordinasikan menggunakan Ground Control Interception (GCI), melalui unit radar di Kupang yang dikomandoi oleh Mayor Lek Haposan.

Haposan-lah yang memberi tahu Azhar bahwa dua pesawat tak dikenal telah melintasi batas FIR Darwin pada ketinggian 8.000 kaki dan kecepatan 160 knot.

Menurut keterangan itu, operator radar kemudian meminta pemeriksaan penerbangan Hawk yang diduga helikopter, menuju Dili, ibu kota Timor Leste.

Henri meminta Azhar untuk menggunakan radarnya dan memverifikasi kecepatan kontak.

Hal itu karena dan kursi tunggal Hawk Mk 209 yang dibawa Azhar memiliki set pulse-Doppler AN / APG-66H, mirip dengan radar yang ditemukan pada F-16A / B, sedangkan dua kursi yang dinaiki Henri tidak memiliki radar

Azhar sang pemimpin penerbangan pun melaporkan bahwa kontak tersebut bergerak dengan kecepatan 150 knot, kemudian mencatat bahwa angka tersebut terus meningkat… 160, 170, 200 knot.

Pesawat tak dikenal itu selanjutnya berada pada jarak sekitar 80 mil dari Hawks.

“Mengetahui hal itu, saya langsung terbang tinggi dan mengambil posisi dogfight untuk melindungi Azhar karena saya tidak memiliki radar,” kenang Henri.

Kedua Hawk kemudian naik ke ketinggian 28.000 kaki, dan saat itulah jelas bahwabukan helikopter, melainkan jet tempur yang mendekat kepada mereka.

Pemimpin penerbangan memilih mode tempur untuk radarnya dan kemudian para pejuang tak dikenal itu berbalik langsung menuju Indonesian Hawks.

Saat kontak datang ke arah mereka, Henri menjelaskan bahwa Azhar mengidentifikasi mereka, meneriakkan “Hornet” melalui radio.

Sepasang RAAF F / A-18A / B Hornet diduga terbang dari RAAF Tindal, sebuah pangkalan di Northern Territory, di mana kehadiran pasukan tambahan RAAF dimaksudkan untuk mencegah Jakarta memulai eskalasi militer di Timor Timur.

Asops KSAU Marsda Henri Alfiandi 2 Jam Cari Korban dan Serpihan Sriwijaya Air SJ-182 Lewat Udara

SOSOK Asisten Operasi Kepala Staf TNI Angkatan Udara, Marsekal Muda TNI Henri Alfiandi yang kini menjabat Kepala Badan SAR Nasional sejak Februari 2021, bersimbah keringat usai mencari pesawat Sriwijaya Air SJ-182 dengan menggunakan Helikopter EC-725 Caracal/Lusius Genik. Tribunnews.com/ Lusius Genik

Menurut Henri, Azhar mengunci setidaknya satu F / A-18 sebelum Henri memperingatkannya, "Kami belum menyatakan perang!".

Namun, saat itu tampaknya Hornets tidak memasuki wilayah udara Indonesia.

Kemudian Hornets berbelok kembali ke selatan menuju FIR Darwin sementara pasangan Hawk kembali ke Kupang, pertempuran pun tak terjadi.

Namun itu bukan satu-satunya pertemuan Hornets dan Hawk.

Begitu mendarat, Henri mengatakan dia memerintahkan awak darat di Kupang untuk menyiapkan Hawk Mk 209 yang dilengkapi radar untuk penerbangan lain, juga meminta pengisian bahan bakar.

Henri pun mengudara lagi, mengklaim dia segera memilih radar, tetapi ternyata itu tidak berfungsi.

Dia menghubungkan hal itu dengan tindakan penanggulangan elektronik yang jauh lebih canggih di Australian Hornet.

Dikatakan, para pejuang Australia telah mendekati dalam jarak 20 mil dari jet Henri, ketika operator GCI yang tegang di Kupang meneriakkan instruksi kepadanya.

Saat itu, Henri justru menyadari bahwa tangki drop Hawk-nya tidak menyalurkan bahan bakar dengan benar, sehingga mengganggu pusat gravitasi jet dan memengaruhi penanganannya.

Sekali lagi, pertemuan mematikan antara Hawk dan Hornet dibatalkan, kali ini sebelum Henri melakukan kontak visual dengan jet Australia.

Henri kembali lagi ke Kupang, dan selama tiga hari berikutnya pilot Indonesian Hawk tetap waspada.

(*/tribun-medan.com/ Intisari)

Baca juga: Sosok dan Karir Henri Alfiandi di TNI AU, Ternyata Disegani Militer Dunia dalam Pertahanan Udara

Baca juga: INILAH Daftar Gaji TNI AU dari Urutan Pangkat hingga Tunjangan yang Bisa Mencapai Puluhan Juta

Baca juga: Panglima TNI dan Kapolri Tinjau Langsung Papua Sore Ini, Jangan Ada Rasa Takut Bagi Masyarakat Papua

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved