Breaking News:

SAE Nababan Tutup Usia

Putra Penatua HKBP Tota Manurung Kenangkan Ompui Ephorus Emeritus SAE Nababan: Tokoh Revolusioner

Yang pertama, saya lihat dia tidak hanya seorang pendeta, tapi di zaman itu dia adalah tokoh revolusioner yang menentang Orde Baru.

SAENababan.com
Pendeta SAE Nababan saat masih muda. (SAENababan.com) 

Pendeta SAE Nababan Meninggal Dunia, Warga Balige Tota Manurung: Kita Kehilangan Tokoh dan Idola

TRIBUN-MEDAN.com, BALIGE - Seorang warga Balige yang juga anak seorang penatua HKBP Laguboti Tota Manurung menyampaikan rasa kehilangannya atas meninggalnya Ompui Ephorus Emeritus HKBP Pendeta SAE Nababan pada, Sabtu (8/5/2021) hari ini.

Baginya, pendeta yang ia kenal dari ayahnya itu adalah idolanya sekaligus tokoh HKBP yang ia kagumi.

Baginya, pemikiran dan karya nyata Pendeta tersebut adalah sebuah karya yang lahir dari nurani yang paling dalam.

Pertama sekali, ia bertemu dengan pendeta tersebut saat sedang mengikuti acara Sidang Bersama HKBP yang menarasikan rekonsiliasi setelah terjadi perselisihan internal HKBP tiga tahun sebelumnya.

"Sidang bersama HKBP yang terjadi pada tahun 1998.Itu lebih pada sinode rekonsiliasilah yang sebelumnya ada konflik HKBP yang pada waktu itu Ephorus adalah JR Hutauruk dan SAE Nababan lah pada waktu pemilihan Ephorus," ujar seorang warga Balige dan keturunan penatua HKBP Laguboti Tota Manurung saat disambangi Tribunmedan.id di kediamannya pada Sabtu (8/5/2021).

"Bagiku, dia bukan sebatas pendeta. Ia seorang tokoh revolusioner, jadi ayah saya yang punya kedekatan dengan beliau. Termasuk, segala perlawanannya merupakan bagian dari pemberian dirinya bagi masyarakat. Dan, ia bukan sebatas tokoh HKBP tapi tokoh gereja dunia," sambungnya.

Berkisah seputar pendeta tersebut, ia serasa mengulang memorinya di tahun 1993-1994, saat konflik internal HKBP di kawasan Tapanuli Raya tengah bergejolak.

"Tahun 1993-1994, konflik internal HKBP di kawasan ini; Tapanuli, Tarutung, Laguboti sampai Narumonda Porsea. Kalau Balige, relatif tenang atau aman. Saat itu saya sedang duduk di bangku kelas II SMP," ungkapnya.

Sebagai anak pengikut aliran yang dibuat oleh Pendeta SAE Nababan, ia mengenal lebih dekat pendeta tersebut pada tahun 1997-1998 saat ia tengah duduk di bangku kuliah.

Halaman
12
Penulis: Maurits Pardosi
Editor: Randy P.F Hutagaol
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved