Breaking News:

Rawat Tradisi dari Ranah Minang, Potong Kerbau pada Akhir Ramadan

Kerbau yang telah disembelih nantinya hanya dibagikan kepada masyarakat yang telah menyumbangkan dana untuk pengadaan kerbau

Penulis: Dian Nur Utama Saragih
Editor: Eti Wahyuni
Tribun Medan
POTONG KERBAU - Seseorang pria sedang berjaga di meja penerimaan zakat fitrah di halaman Masjid Syehk Burhanuddin, Jalan Utama, Kota Matsum, Medan, Minggu (9/5). Masyarakat minang yang tinggal di sekitaran Masjid Syehk Burhanuddin Jalan Utama, Kota Matsum, Medan, masih menjaga tradisi pemotongan kerbau pada hari terakhir puasa Ramadan. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Masyarakat minang yang tinggal di sekitaran Masjid Syehk Burhanuddin Jalan Utama, Kota Matsum, Medan, masih menjaga tradisi pemotongan kerbau pada hari terakhir puasa Ramadan.  Pemotongan kerbau diselenggarakan usai Saalat Subuh berjamaah di hari terakhir Ramadan.

Penyelenggaraan pemotongan kerbau ini biasanya berlangsung mulai pagi hingga selesai pada siang hari. Kerbau yang telah disembelih nantinya hanya dibagikan kepada masyarakat yang telah menyumbangkan dana untuk pengadaan kerbau tersebut.

Baca juga: Bulan Ramadan Bulan Berkah, Dregs 2006 Bagi-bagi Takjil Kepada Becak Bermotor di Jalan SM Raja

Berdasarkan penyampaian dari Ketua Badan Kenaziran Masjid (BKM) Syehk Burhanuddin, rata-rata untuk satu ekor kerbau bisa mencapai sekitar 300 orang relawan yang menyumbangkan uangnya. Walau terkadang jumlah penyumbang dananya melebihi atau kurang pula dari 300 orang.

Hal ini berarti semakin sedikit jumlah penyumbang, maka sebakin besar pula dana yang disumbangkan penyumbang dan semakin banyak pula jatah daging kerbau yang diterima oleh si penyumbang.

Proses penyembelihan ini hingga selesai diselenggarakan secara beramai-ramai bersama masyarakat sekitar.

 “Begitulah tradisinya semenjak dulu, kalau mau dilihat nanti pas acaranya berlangsung asik juga,” ujar H Bagindo Ghazali Sikumbang, Ketua BKM Syekh Burhanuddin, Minggu (9/5).

Ghazali mengatakan, tradisi penyembelihan kerbau tersebut dibawa oleh para perantau dari Desa Pauh Kambar, Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Tradisi ini telah dilakukan semenjak hadirnya masyarakat dari Pauh Kembar lingkungan di sekitaran Masjid Syehk Burhanuddin, bahkan telah ada sejak belum berdirinya masjid tersebut. Masjid Syehk Burhanuddin ini baru saja berdiri sekitar 5 tahun.

Sebelumnya, masjid ini hanyalah sebuah langgar kecil yang berdiri sekitar tahun 1970 -an, kemudian bangunannya pun dibongkar dan dibangun kembali hingga menjadi sebuah masjid seperti sekarang.

Di Masjid Syehk Burhanuddin ini juga ada tradisi makan bersama masyarakat umum usai Salat IIdul Fitri. Makanan yang disediakan biasanya berupa lontong sayur ditambah dengan minuman teh manis.

Pekerjanya adalah para ibu-ibu di sekitar masjid yang secara sukarela menyiapkan berbagai makanan dan minuman tersebut. Hidangan makan bersama usai Salat Idul Fitri ini diperuntukkan kepada masyarakat umum jika ada yang hendak makan bersama di Masjid Syehk Burhanuddin.(cr15)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved