REAKSI Maladewa setelah Puing Roket China Long March 5B Jatuh di Perairannya

Pasukan Pertahanan Nasional Maladewa (MNDF) sedang menyelidiki pendaratan puing-puing puing roket China Long March 5B di wilayahnya.

Editor: Tariden Turnip
kolase/facebook
REAKSI Maladewa setelah Puing Roket China Long March 5B Jatuh di Perairannya . Lokasi jatuhnya puing roket China Long March 5B di Samudra India dekat perairan Maladewa 

TRIBUN-MEDAN.COM - Puing-puing roket China Long March 5B yang telah jatuh kembali ke Bumi dikabarkan sudah memasuki atmosfer Bumi dan hancur di Samudra Hindia.

Sebagian roket tersebut hancur terbakar atmosfer bumi dan sebagian lagi mendarat di lokasi di sebelah barat Maladewa, surga pantai tropis di Samudara India.

"Setelah pemantauan dan analisis, pada pukul 10.24 pagi (02.24 GMT) pada 9 Mei 2021, puing-puing tahap terakhir dari kendaraan peluncur Long March 5B Yao-2 telah kembali memasuki atmosfer," ujar badan antariksa China (China Manned Space Agency/ CMSA ) seperti dilansir media pemerintah China, Minggu.

CMSA menambahkan bahwa sebagian besar puing roket China Long March 5B hancur dan terbakar setelah memasuki atmosfer dan jatuh di 72,47 derajat Bujur Timur dan 2,65 derajat Lintang Utara.

Lokasi jatuhnya puing roket China Long March 5B di Samudra India dekat perairan Maladewa
Terpantau ledakan di lokasi jatuhnya puing roket China Long March 5B di Samudra India dekat perairan Maladewa (kolase/facebook)

Situs pemantauan Space-Track, yang menggunakan data militer AS, juga mengonfirmasi jatuhnya puing roket China Long March 5B di sebelah barat perairan Maladewa.

Pasukan Pertahanan Nasional Maladewa (MNDF) memberikan pernyataan sedang menyelidiki pendaratan puing-puing puing roket China Long March 5B di wilayah mereka.

Melansir times of addu, MNDF menyatakan bahwa mereka menerima informasi tentang bagian-bagian roket yang jatuh di perairan teritorial Maladewa dan Skuadron Penjaga Pantai Area Pusat MNDF saat ini sedang menyelidiki masalah tersebut.

Lokasi jatuhnya puing roket China Long March 5B di Samudra India dekat perairan Maladewa
Lokasi jatuhnya puing roket China Long March 5B di Samudra India dekat perairan Maladewa (google maps)

Sebelumnya Komando Luar Angkasa AS mengatakan dalam sebuah pernyataan, pihaknya mengonfirmasi bahwa Long March 5B sempat melewati Semenanjung Arab.

"Tidak diketahui apakah puing-puing itu berdampak pada tanah atau air," kata Komando Luar Angkasa AS.

Sementara itu, NASA menuding China gagal memenuhi standar atas jatuhnya puing-puing roket China tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Administrator NASA Bill Nelson melalui pernyataan yang dirilis di website badan antariksa milik AS pada Sabtu (8/5/2021) malam waktu setempat.

“Negara harus meminimalkan risiko terhadap manusia dan properti di Bumi dari masuknya kembali objek antariksa dan memaksimalkan transparansi terkait operasi tersebut,” kata Nelson.

Lokasi jatuhnya puing roket China Long March 5B di Samudra India dekat perairan Maladewa
Lokasi jatuhnya puing roket China Long March 5B di Samudra India dekat perairan Maladewa (google maps)

''China gagal memenuhi tanggung jawabnya menerapkan standar terkait puing-puing luar angkasa mereka,” imbuh Nelson.

Dia menambahkan, sangat penting bagi China dan semua negara, termasuk entitas lain, bertanggung jawab dan transparan terkait wahana luar angkasa mereka.

“Hal itu untuk memastikan keselamatan, stabilitas, keamanan, dan keberlanjutan jangka panjang aktivitas luar angkasa,” tutur Nelson.

Beruntung Meski China Lalai

Pakar menyebut China beruntung meski ceroboh dalam kasus jatuhnya roket China Long March 5B.

"Nampaknya China menang taruhan (kecuali kita mendengar kabar adanya kerusakan di Maladewa)," ujar astrofisikawan Jonathan McDowell.

Sebagaimana dilansir AFP Minggu (9/5/2021), McDowell menyebut Beijing melakukan kelalaian soal roket Long March 5B.

Pakar dari Universitas Harvard menjelaskan, kebanyakan negara berusaha menghindari skenario jika puing-puing wahana jatuh tak terkendali.

Menurut McDowell, obyek angkasa biasanya didesain agar ketika jatuh menyasar laut atau ditempatkan di "kuburan".

Dia merujuk kepada orbit berisi sampah antariksa di mana fragmen satelit dan roket akan berada di sana puluhan bahkan ratusan tahun.

Namun, roket China, menurut McDowell, dibuat dengan tujuan ketika jatuh berada di kawasan orbit rendah.

Desain tersebut membuat jatuhnya wahana peluncur menjadi tak terkendali dan sukar diprediksi, papar McDowell.

Badan Antariksa Eropa sebelumnya sudah membeberkan serangkaian lokasi kemungkinan jatuhnya Long March.

Dilansir CNN, mereka memprediksi roket tersebut akan jatuh di kawasan New York, Australia, Afrika, hingga Yunani.

McDowell melanjutkan, prediksi wahana itu jatuh ke laut secara statistik paling masuk akal. Karena 70 persen wilayah Bumi adalah air.

Sebelum jatuh di Samudra Hindia, wahana itu diluncurkan dari Pos Peluncuran Wenchang pada 29 April lalu.

Saat itu, roket Long March 5B membawa modul Tianhe, yang akan menjadi calon stasiun antariksa milik China. Beijing sendiri sudah mengeklaim, kemungkinan wahana antariksa mereka menabrak kawasan permukiman sangatlah kecil.

Sebagian artikel dikompilasi dari Kompas.com dengan judul "Roket Long March 5B Dinyatakan Jatuh ke Samudra Hindia, Pakar: Nampaknya China Menang Taruhan", "Roket China Jatuh di Samudra Hindia, NASA: Beijing Gagal Terapkan Standar"

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved