Breaking News:

BPOM Lakukan Pengawasan, Masih Banyak Makanan Beredar tak  Memenuhi Ketentuan

pengawasan ini dilakukan di beberapa titik seperti di sekitaran Kota Medan, Deliserdang, Binjai, Langkat, Sergei, dan Pematang Siantar

TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
Pedagang melayani pembeli makanan untuk hidangan buka puasa (takjil) di kawasan Jalan Amaliun, Medan, Jumat (24/4/2020). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Medan melakukan pengawasan untuk produk pangan jelang Idul Fitri. Langkah ini dilakukan untuk mengawal keamanan pangan dan melindungi kesehatan masyarakat.

"Pada kondisi darurat ini, Badan POM melalui Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Medan senantiasa mengawal keamanan pangan dan melindungi kesehatan masyarakat dengan melakukan pengawalan keamanan produk pangan khususnya selama Ramadan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri," ungkap Kepala BPOM Medan, I Made Bagus Gerametta, Selasa (11/5/2021).

Dikatakan Gerametta, pengawasan ini dilakukan di beberapa titik seperti di sekitaran Kota Medan, Deliserdang, Binjai, Langkat, Sergei, dan Pematang Siantar.

Ada pun pengawasan ini difokuskan untuk beberapa kategori seperti pada pangan olahan Tanpa Izin Edar (TIE)/ilegal, kedaluwarsa, dan rusak di sarana ritel dan distribusi pangan, serta pangan jajanan berbuka puasa (takjil) yang kemungkinan mengandung bahan berbahaya antara lain formalin, boraks, dan pewarna yang dilarang (rhodamin B dan methanyl yellow).

Baca juga: Vaksin Nusantara Gagasan Eks Menkes Terawan vs BPOM, Penny Kusumastuti: Kami Tidak Pilih Kasih

"Pelaksanaan intensifikasi pengawasan pangan dilakukan secara mandiri mau pun terpadu bersama lintas sektor terkait," ujarnya.

Berdasarkan data hasil pelaksanaan intensifikasi pengawasan pangan pada bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri tahun 2021, menunjukkan masih banyak ditemukan produk pangan olahan kemasan yang Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK).

Gerametta menyebutkan bahwa dari 34 sarana ritel dan distribusi pangan yang diperiksa, terdapat sarana distribusi TMK karena menjual produk pangan rusak, pangan kedaluwarsa, dan pangan TIE.

Jika dibandingkan dengan data intensifikasi pangan tahun 2020 terjadi kenaikan sarana distribusi yang sebelumnya 30 persen menjadi 44,12 persen.

Untuk pangan jajanan berbuka puasa (takjil), hasil pengawasan pada tahun 2021 menunjukkan bahwa dari 277 sampel yang diperiksa, sebanyak 1 persen Tidak Memenuhi Syarat (TMS). Temuan bahan berbahaya yang disalahgunakan adalah formalin.

"Jika dibandingkan dengan data intensifikasi pangan tahun 2020, terjadi kenaikan persentase produk TMS. Pada tahun 2020, tidak ada pangan yang mengandung bahan berbahaya," kata Gerametta.

Untuk lebih meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bahaya produk pangan TMK selama Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri tahun 2021, Badan POM juga akan melakukan berbagai kegiatan antara lain sosialisasi serta Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Keamanan Pangan.

Dengan pengawalan Badan POM terhadap keamanan pangan selama bulan Ramadan, diharapkan dapat menjaga ketenangan dan kekhusyukan masyarakat muslim dalam beribadah.

"Badan POM tak henti meminta pelaku usaha untuk patuh terhadap peraturan perundang-undangan dalam menjalankan usahanya. Masyarakat untuk menjadi konsumen cerdas dalam memilih pangan aman dengan selalu melakukan cek KLIK” (cek Kemasan, cek Label, cek Izin Edar, dan cek Kedaluwarsa) ketika akan membeli atau mengonsumsi produk pangan olahan dalam kemasan," pungkasnya.

Penulis: Kartika Sari
Editor: Eti Wahyuni
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved