Breaking News:

Roket Hamas Berhasil Jebol Pertahanan Udara (Iron Dome) Israel, PM Israel Marah dan Bombardir Gaza

Menjelang hari raya Idul Fitri 1442 Hijriah, konflik antara Hamas Palestina dengan Israel kembali memanas.

Editor: Abdi Tumanggor
reuters
Israel membombardir Gaza 

TRIBUN-MEDAN.COM - Menjelang hari raya Idul Fitri 1442 Hijriah, konflik antara Hamas Palestina dengan Israel kembali memanas.

Eskalasi konflik ini kembali muncul, bermula dari upaya Israel menggusur paksa warga Palestina yang bermukim di Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur.

Warga pemukiman itu merespons dengan unjuk rasa, yang dibalas dengan blokade oleh polisi Israel dan ancaman pengusiran kepada siapapun yang terlibat unjuk rasa.

Ketegangan pun semakin meningkat pasca kerusuhan yang terjadi di Masjid Al Aqsa, Jumat (7/5/2021) malam, ketika polisi Israel membubarkan warga Palestina yang tengah melaksanakan shalat tarawih.

Kemudian, pada Senin (10/5/2021), faksi Hamas di Jalur Gaza menembakkan ratusan roket ke arah Tel Aviv dan sejumlah wilayah Israel lainnya, sebagai respons atas tindakan Israel di Yerusalem.

Serangan 210 roket  yang diklaim Hamas itu dibalas Israel dengan membombardir Jalur Gaza dengan menggunakan jet tempur, yang mengakibatkan kerusakan bangunan dan korban jiwa.

Di Tel Aviv, sirene serangan udara terdengar di sekitar kota.

Kebakaran di Khan Yunish menyusul serangan udara Israel terhadap sasaran di Jalur Gaza Selatan, pada Rabu pagi (12/5/2021).(AFP PHOTO/YOUSSEF MASSOUD)

Bagi Israel, sasaran militan di Tel Aviv, ibu kota komersialnya, menimbulkan tantangan baru dalam konfrontasi dengan kelompok Hamas di Palestina.

PM Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan bahwa militan Palestina akan membayar sangat mahal untuk roket yang mencapai pinggiran Yerusalem pada Senin selama liburan di Israel untuk memperingati perebutannya atas Yerusalem Timur dalam perang tahun 1967.

Sementara Hamas menamai serangan roketnya "Pedang Yerusalem", yang berusaha meminggirkan Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan menampilkan dirinya sebagai penjaga rakyat Palestina di Yerusalem.

Pemimpin kelompok militan Hamas, Ismail Haniyeh mengatakan: "Israel telah menembakkan api di Yerusalem Timur dan Al-Aqsa dan api meluas ke Gaza, oleh karenanya bertanggung jawab atas konsekuensinya."

Serangan roket meluncur dari Gaza yang dikuasai Hamas
Serangan roket Hamas (AFP)
Sistem pertahanan udara Israel, Iron Dome mencegat ratusan roket yang ditembakkan Hamas dari Gaza Palestina.
Sistem pertahanan udara Israel, Iron Dome mencegat ratusan roket yang ditembakkan Hamas dari Gaza Palestina. Namun ada juga yang berhasil lolos hingga mengakibatkan ada lima warga Israel tewas (reuters)

Sebanyak 210 roket yang ditembakkan Hamas tersebut tidak semuanya berhasil ditangkis sistem pertahankan udara Israel Iron Dome (kubah besi).

Akibat konflik yang baru-baru ini terjadi, sedikitnya 35 warga Palestina tewas di Jalur Gaza, dan ratusan lainnya terluka saat kerusuhan di Masjid Al Aqsa.

Sementara itu, Israel melaporkan lima warganya tewas akibat serangan roket yang dilancarkan Hamas.

Konflik yang baru-baru ini terjadi menambah catatan panjang tragedi berdarah yang melanda Palestina

Akar dari tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina kini, bahkan bisa dilacak hingga seratus tahun ke belakang.

Bagian I: Kebangkitan Zionisme

Asap mengepul dari gedung Hanadi di Gaza City, setelah serangan udara yang dilakukan Israel pada 11 Mei 2021.(AFP PHOTO/MOHAMMED ABED)

Melansir History, Israel berakar dari gerakan Zionisme, yang lahir pada akhir abad XIX di kalangan Yahudi yang tinggal di wilayah Kekaisaran Rusia.

Pada waktu itu, kaum Yahudi di Kekaisaran Rusia mendambakan berdirinya sebuah negara Yahudi, di mana mereka bisa tinggal dengan damai tanpa persekusi.

Pada 1896, Theodor Herzl, seorang jurnalis Yahudi-Austria merilis pamflet berjudul "Negara Yahudi", yang menyebutkan bahwa berdirinya negara Yahudi adalah satu-satunya cara untuk melindungi kaum Yahudi dari persekusi dan anti-Semitisme.

Herzl kemudian menjadi pemimpin gerakan Zionisme, dan menggelar Kongres Zionis pertama di Swiss pada 1897.

Bagian II: Deklarasi Balfour

Melansir Al Jazeera, pada awalnya Kongres Zionis tidak langsung memilih Palestina sebagai lokasi berdirinya Negara Yahudi.

Sejumlah lokasi sempat dipertimbangkan, seperti Uganda dan Argentina, namun kaum Zionis akhirnya memilih Palestina, berdasarkan keyakinan bahwa tanah tersebut adalah Tanah Suci yang dijanjikan bagi bangsa Yahudi oleh Tuhan.

Pasca-keruntuhan Kesultanan Ottoman (1914), Kerajaan Inggris mengambil alih kekuasaan atas tanah Palestina, sebagai bagian dari perjanjian Sykes-Picot (1916).

Perjanjian tersebut merupakan kesepakatan antara imperium Inggris dan Perancis, yang sepakat untuk membagi wilayah Timur Tengah berdasarkan kepentingan mereka.

Pada 1917, sebelum dimulainya Mandat Inggris (1920-1947) atas Palestina, Inggris mengeluarkan Deklarasi Balfour.

Melalui deklarasi tersebut, Inggris berjanji akan memberikan sebuah "rumah" bagi kaum Yahudi di tanah Palestina.

Bagian III: Imigran Yahudi memasuki Palestina

Kota Yerusalem, dianggap kota suci dan diperebutkan Palestina dan Israel.(FREEPIK/DRAWNHY97)

Mulai 1919, dengan dibantu Inggris, gelombang demi gelombang imigran Yahudi mulai memasuki tanah Palestina.

Antara 1922 dan 1935, populasi Yahudi di Palestina meningkat dari semula 9 persen menjadi hampir 27 persen dari total populasi.

Sebelumnya, pada 1880 sudah ada komunitas Yahudi yang tinggal di Palestina. Mereka dikenal dengan sebutan Yishnuv, dan menyumbang tiga persen dari total populasi Palestina.

Berkebalikan dengan kaum Yahudi Zionis yang masuk ke Palestina, kaum Yahudi Yishnuv tidak pernah menginginkan berdirinya negara Yahudi di Palestina.

Di sisi lain, jumlah imigran Yahudi yang memasuki Palestina kian bertambah, setelah Nazi pimpinan Adolf Hitler mengambil alih Jerman, dan memulai kebijakan anti-Semitisme.

Antara 1933 dan 1936, sekitar 30.000 hingga 60.000 kaum Yahudi Eropa tercatat memasuki Palestina.

Terus bertambahnya kaum Yahudi yang memasuki Palestina, membuat warga Palestina pada tahun 1936 melancarkan pemberontakan terhadap Inggris yang mendukung terciptanya koloni Zionis di Tanah Air mereka.

Inggris menghancurkan pemberontakan yang berlangsung hingga 1939 itu.

Mereka menghancurkan sedikitnya 2.000 rumah warga Palestina, dan memasukkan 9.000 warga Palestina ke kamp konsentrasi, di mana mereka diinterogasi dan disiksa.

Pada akhir pemberontakan itu, sedikitnya 10 persen populasi pria Palestina telah terbunuh, terluka, diasingkan, atau dipenjara.

Bagian IV: Palestina dibagi dua

Warga Palestina mengevakuasi seorang pria yang terluka selama bentrokan dengan pasukan keamanan Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Senin,(10/5/2021). Polisi Israel kembali bentrok dengan pengunjuk rasa Palestina di tempat tersebut pada Senin. Petugas medis Palestina mengatakan setidaknya 180 warga Palestina terluka dalam kekerasan di kompleks Masjid Al-Aqsa, termasuk 80 orang yang dirawat di rumah sakit.(AP PHOTO/MAHMOUD ILLEAN)

Pasca-pemberontakan itu, pemerintah Inggris, khawatir akan meletusnya kekerasan antara Palestina dan Zionis. Inggris kemudian mencoba membatasi imigrasi kaum Yahudi Eropa menuju Palestina.

Pada 1944, beberapa kelompok bersenjata Zionis menyatakan perang terhadap Inggris karena mencoba membatasi imigrasi Yahudi ke Palestina, sedangkan saat itu kaum Yahudi tengah mencoba melarikan diri dari Holocaust.

Organisasi paramiliter Zionis melancarkan sejumlah serangan terhadap Inggris.

Serangan paling terkenal adalah pemboman King David Hotel pada 1946, yang menewaskan 91 orang.

Pada awal 1947, pemerintah Inggris akhirnya mengakui bahwa mereka telah melakukan kesalahan dalam menangani permasalahan di Palestina.

Inggris kemudian menyerahkan masalah Palestina kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan mengakhiri proyek kolonialnya di sana.

Pada 29 November 1947, PBB mengadopsi Resolusi 181, yang merekomendasikan pembagian Palestina menjadi dua negara, yakni negara Yahudi dan Palestina.

Saat itu, kaum Yahudi di Palestina merupakan sepertiga dari populasi dan memiliki kurang dari enam persen dari total luas tanah.

Namun, di bawah rencana pembagian PBB, mereka dialokasikan 55 persen dari tanah, meliputi banyak kota utama dan garis pantai penting dari Haifa ke Jaffa.

Pembagian yang tidak seimbang itu membuat bangsa Palestina menolak proposal dari PBB.

Tidak lama setelah pengadopsian Resolusi 181 oleh PBB, pecah perang antara bangsa Palestina dengan kaum Zionis Israel.

Bagian V: Berdirinya negara Israel

Petugas keamanan Israel membawa seorang pengunjuk rasa Palestina di luar Gerbang Damaskus, Kota Tua Yerusalem, pada 9 Mei 2021. Israel berjanji memulihkan ketertiban di Yerusalem setelah ratusan demonstran Palestina terluka sepanjang bentrokan melawan polisi di akhir pekan.(AFP PHOTO/MENAHEM KAHANA)

Melansir History, pada 14 Mei 1948, di Tel Aviv, Ketua Badan Yahudi David Ben-Gurion memproklamasikan berdirinya Negara Israel.

Dalam proklamasi itu, Ben-Gurion juga menjadi perdana menteri pertama Israel.

Pada saat bersamaan, gemuruh senjata terdengar dari pertempuran yang pecah antara Zionis Israel dengan bangsa Palestina yang dibantu negara-negara Arab. 

Menyusul proklamasi itu, gabungan negara-negara Arab mulai dari Mesir, Yordania, Suriah, Lebanon, dan Irak, menggempur Zionis Israel.

Meski demikian, pasukan paramiliter Zionis Israel yang telah dilatih oleh militer Inggris, serta berpartisipasi dalam Perang Dunia II, mampu membuktikan ketangguhannya.

Pada 1949, gencatan senjata yang ditengahi oleh PBB membuat Negara Israel memiliki kendali permanen atas wilayah yang ditaklukkan itu.

Selama perang, ratusan ribu bangsa Palestina meninggalkan Tanah Air mereka karena upaya pembersihan etnis yang dilakukan kaum Zionis Israel

Dalam upaya untuk merebut kembali Palestina, pada 1967, gabungan negara-negara Arab kembali menyerang Israel.

Namun, dalam perang yang terkenal dengan sebutan Perang Enam Hari itu, Israel justru berhasil memperluas wilayahnya dengan mencaplok wilayah Yordania, Mesir, Suriah, Kota Tua Yerusalem, Semenanjung Sinai, Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Dataran Tinggi Golan.

Pada 1979, Israel dan Mesir menandatangani perjanjian perdamaian bersejarah, di mana Israel mengembalikan Sinai dengan imbalan pengakuan dan perdamaian Mesir.

Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) kemudian menandatangani perjanjian perdamaian besar pada tahun 1993, yang menyepakati berdirinya pemerintahan Palestina secara bertahap di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Namun, proses perdamaian Israel-Palestina berjalan lambat, dan pada tahun 2000 hingga sekarang, pertempuran demi pertempuran terus terjadi di Palestina.

Baca juga: KISAH Pria Palestina di Penjara Israel, Sudah Dieksekusi Mati, Tapi Istrinya Bisa Hamil, Kok Bisa?

Baca juga: SPESIFIKASI Roket Hamas yang Menjebol Kecanggihan Iron Dome Israel, 48 Warga Palestina Tewas

Baca juga: PENDUDUK Palestina Terancam Punah, Inilah Cara Tahanan Pria Agar Bisa Mendapat Keturunan

Baca juga: Wamenag RI Zainut Tauhid Kutuk Serangan Israel ke Warga Palestina, Apakah Palestina Sudah Merdeka?

Baca juga: VIRAL Foto Warga Palestina Diinjak Kepalanya oleh Pasukan Israel

Artikel telah tayang sebelumnya di Kompas.com dengan judul:Menilik Akar Konflik Palestina-Israel

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved