Breaking News:

Birgaldo Sinaga Meninggal Dunia

BIRGALDO Sinaga Meninggal Dunia, Ini Pengakuan Sang Pegiat Media Sosial sebelum Berpulang Selamanya

Pegiat media sosial Indonesa, Birgaldo Sinaga dikabarian meninggal dunia. Birgaldo sebelumnya menyampaikan dirinya positif covid-19

Penulis: Arjuna Bakkara | Editor: Randy P.F Hutagaol

4. Nyanyian Menyentuh Sang Anak Kuatkan Birgaldo Sinaga Melawan Covid via Lagu ‘Jangan Pernah Menyerah’

Sang Putri menyemangati Birgaldo Sinaga yang berjuang melawan virus Covid 19

Kabar duka berembus dari pegiat media sosial Birgaldo Sinaga pada Sabtu (15/5/2021) pagi.

Birgaldo Sinaga meninggal dunia di tengah perjuangan melawan covid-19. Ia mengembuskan napas terakhir di RS Awal Bros Batam pukul 06.00 WIB.

Sebelum meninggal, Birgaldo Sinaga banyak memposting aktivitas dan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Satu di antaranya adalah dukungan dari sang anak, Katrine Sinaga.

Postingan itu diunggah pada Kamis (13/5/2021) lalu, ketika Birgaldo Sinaga masih terbaring di rumah sakit. “My lovely Baby K,” tulis Birgaldo di laman Instagram-nya dengan membubuhkan emoticon bergambar hati.

Katrine.mencoba menguatkan ayahnya lewat lantunan lagu rohani ‘Jangan Pernah Menyerah’. Saat itu, Birgaldo Sinaga memang tengah berjuang melawan Covid-19.

Postingan tersebut mendapat respons dari warganet. Hingga Sabtu pagi, postingan itu sudah ditonton lebih 84 ribu kali tayangan.

Baca juga: BREAKING NEWS- Kabar Duka dari Denny Siregar, Birgaldo Sinaga Meninggal karena Corona

Amatan Tribun-Medan.com, Katrine yang mengenakan seragam sekolah SD menyanyikan bait demi bait dengan iringan piano.

“Jangan pernah menyerah, jangan berputus asa, mukjizat Tuhan ada, saat hati menyembah, “ demikian penggalan lagu yang dinyanyikan putri Birgaldo Sinaga.

Video dan lagu menyentuh itu menjadi postingan tertinggi di laman Birgaldo Sinaga selama beberapa bulan terakhir.

Minta Maaf kepada istri dan Anak

Sebelum menghembus nafas terakhir almarhum juga sempat menuliskan postingan terakhir untuk istri dan putrinya, Katrine.

Birgaldo Sinaga, sosok yang dikenal pendukung Ahok meminta maaf pada istri dan putrinya karena sering meninggalkan mereka.

Selain sebagai pegiat media sosial Birgaldo Sinaga dikenal menjadi konsultan politik beberapa calon kepala daerah, termasuk konsultan Radiapoh Hasiholan Sinaga, Bupati Simalungun.

Birgalado Sinaga tercatat sebagai Staf Khusus Gubernur Kepri Ansar Ahmad.

"I love you so much mami dan anakku Kathrine. Maafkan kalo papi selalu buat salah ya. Meniggalkan kalian selalu," demikian postingan Birgaldo Sinaga di akun media sosialnya.

Unggahan terakhir ini ramai komentar duka cita menyusul kabar Birgaldo Sinaga berpulang Sabtu (15/5/2021) pagi ini.

Baca juga: SIAPA Birgaldo Sinaga yang Meninggal, Sosok Relawan Ahok Sahabat Abu Janda dan Denny Siregar

Penyebab Birgaldo Sinaga Meninggal

Penyebab Birgaldo Sinaga meninggal sejauh ini diketahui karena Covid-19.

Sehari sebelumnya, Birgaldo Sinaga menyampaikan langsung kondisi fisiknya yang menurun karena Covid-19. Mulai dari demam hingga sesak nafas hingga batuk.

Penulis Buku Mengapa Aku Membela Ahok

Birgaldo Sinaga meninggallkan seorang istri dan seorang putri yang beranjak remaja.

Selama ini, Birgaldo Sinaga dikenal pegiat media sosial yang aktif mengkampanyekan toleransi di Tanah Air bersama sahabat-sahabatnya di antaranya Denny Siregar, Abu Janda, Eko Kunthadi hingga Niluh Djelantik.

Sosok Birgaldo Sinaga adalah relawan yang aktif membela Ahok. Ia bahkan turun ke jalan mengorganisir relawan demonstrasi agar Ahok diperlakukan sama di hadapan hukum.

Dokumentasi Birgaldo Sinaga membela Ahok dirangkum menjadi sebuah buku berjudul "Mengapa Aku Membela Ahok".

Baca juga: PERMINTAAN Maaf Birgaldo Sinaga pada Istri dan Putrinya sebelum Meninggal di Batam

Tulisan Deny Siregar

Sahabat karibnya yang juga pegiat media sosial, Denny Siregar, juga mengkonfirmasi kabar duka ini beberapa menit yang lalu.

"Bro Birgaldo Sinaga maafkan temanmu ini. Selamat jalan, kawan," demikian unggahan Denny Siregar yang langsung banjir ucapan duka cita.

Sahabatnya Lindayani mengkonfirmasikan Birgaldo Sinaga meninggal dunia di RS Awal Bros Batam pukul 06.00 WIB.

"Selamat jalan sahabatku Birgaldo Sinaga. Beristirahatlah dalam damai Kepergianmu benar2 seperti geledek di siang bolong. Rasanya tidak bisa diterima tapi itulah kenyataan Amal baikmu selama ini semoga mendapat tempat terindah di sisi Nya

Note : Birgaldo Sinaga berpulang pk. 06.00 wib di RS Awal Bros Batam meninggalkan seorang istri, seorang anak dan jutaan sahabat yang mencintainya."

Berikut tulisan Denny Siregar tentang sahabatnya itu:  

BIRGALDO SINAGA

Namanya Birgaldo Sinaga....

Aku kenal dengannya di fesbuk. Meski sudah lama berteman, kami baru bertatap muka beberapa hari ini.

Ia mengaku suka dengan stensilan Enny Arrow. Tapi itu dulu, waktu remaja. Sekarang mungkin sudah dalam bentuk video. "Kurang menarik.." Katanya. "Stensil itu imajinatif. Kalau video langsung gitu, pam pam pam.. terlalu relijius. Ada oh god, oh yes, oh no.."

Ah, saya tidak ingin membicarakan itu. Saya hanya ingin memberikan apresiasi yang tinggi untuknya.

Sejak menulis tentang Ahok, bro Bir - saya menyebutnya begitu meski ia peminum kopi bukan beer - sudah sering juga menuangkan tulisannya tentang Ahok. Dalam hal ini pandangan kami sama, bahwa membela Ahok bukan membela sosok, tetapi membela hak seseorang yang ingin dicerabut karena ia berbeda dari calon lainnya. Ahok seorang Kristen - agama yang sama dengan bro bir dan ia dari ras China.

Lalu kenapa Ahok tidak boleh punya hak untuk ikut membantu negara ini ? Dalam Undang2 ia adalah warga negara yang mempunyai hak yang sama. Bukan salahnya ia terlahir seperti itu, sama dengan bukan salahku terlahir sebagai orang Batak yang ke Madura2an.

Politik-lah yang ingin membunuh karakter Ahok, karena ia terlalu ketat dalam anggaran. Hal yang tidak pernah terjadi dalam carut marutnya administrasi DKI selama puluhan tahun yang dipelihara.

Bro Bir pernah ditanya "dapat apa kamu membela Ahok ?", pertanyaan yang sama yang selalu kudapatkan ketika menulis tentang Ahok. "Dapat apa.." itu biasanya pertanyaan mereka yang selalu mengukur segala sesuatu dengan uang, sedangkan kami melihatnya sebagai sebuah perjuangan.

Bro Bir ini orang pemberani. Ia bukan saja suka menulis di fesbuk sebagai pelampiasan gelisahnya. Ia tidak tanggung2 berjuang dengan turun ke jalan, meski harus berpanas2an.

Halaman fesbuknya banyak bercerita tentang perjalanannya. Ketika ia sedang pasang badan di depan pengadilan Ahok, berhadapan langsung dengan para gamis putih yang sulit ditemui sifat keramahannya. Ketika ia membagi2kan baju kotak dan bertemu dengan calon pemilih di gang2 Jakarta, dengan resiko diusir oleh para pembenci Ahok.

Saya belum tentu seberani dia dalam berjuang yang langsung turun ke jalan berhadapan dengan dunia nyata. Dan bro Bir sudah memulainya. Jadi jangan pernah cerita tentang perjuanganmu mendukung Ahok di depan dia, karena pasti malu sebab kita hanya bisa berkoar di media sedangkan dia adalah petarung di garis depan.

"Darimana kamu dapat dana untuk mobilisasi?" Tanyaku nakal. Ia lama tidak menjawab. Kulihat gundah dimatanya. Dan baru kutahu ia banyak mengeluarkan semua dari kantungnya sendiri, baik untuk dirinya maupun pasukan dibelakangnya yang - kadang - harus ia belikan makan supaya tetap tegar di jalanan.

Ah, haru benar diriku dan merasa kecil dihadapannya. Aku merasakan terbatasnya tabunganku dan harus keluar untuk segala macam hal yang tidak jelas apa yang diperjuangkan. Aku seperti mendengar istrinya berteriak marah, "Kamu dapat apa membela mati2an Ahok di jalan ? Belum tentu ia menang pun kamu diperhatikan.." dan suara tangis anaknya yang jarang bertemu dengan ayahnya karena di medan perang seharian.

Aku yakin bro Bir berada pada titik terlemahnya sekarang. Ia harus memilih terus berjuang atau kembali pada kehidupan nyata menjadi seseorang yang hidup normal dengan situasi yang belum tentu membuatnya senang. Ia adalah manusia merdeka, yang tahu dimana fungsinya.

Sayangnya, militansinya tidak mendapat tempat yang sesuai. Ia bahkan kurang diperhatikan hanya karena mereka menyebutnya "relawan".

"Namanya juga relawan. Kalau rela ya jangan minta bayaran !!" Begitu hukuman sosial yang diterimanya dari banyak orang yang memakinya sambil duduk di mobil dingin ber-AC, gadgetan dan sedang siap2 goyang badan di rumah Lembang.

Ah, bro... Ampunilah mereka yang tidak mengerti apa yang sedang kau hadapi sekarang. Tidak banyak orang yang mengerti nilai. Mereka tahunya hanya bagaimana jagoannya menang, tanpa pernah mencoba paham bahwa kemenangan itu butuh proses yang kadang menyakitkan. Tanpa ada orang2 sepertimu, niscaya harapan mereka punah di pinggir jalan.

Semangat, bro.. Senang minum kopi bersamamu. Dan jangan mengeluh di ruang publik, karena kata Imam Ali as, "Jangan pernah ceritakan dirimu kepada siapapun. Mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan itu dan mereka yang membencimu tidak percaya itu.."

Sini kuangkat secangkir kopi dan maaf tidak kupajang wajahmu disini, untuk mengurangi sifat narsismu.. haha..

Seruputt..

(*(Jun-tribun-medan.com/ Tribun-timur)

Halaman
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved