Manisan Khas Binjai, Jadi Primadona Saat Lebaran, Kini Tembus Pasar Nasional

Dijelaskannya, buah-buah yang memiliki rasa asli asam, manis, hingga pedas itu diolah dengan waktu berlainan. 

Tayang:
Editor: Ayu Prasandi
HO
Manisan Binjai yang kini tembus pasar nasional 

TRIBUN-MEDAN.com, BINJAI- Mendengar kata manisan yang ada di benak para pecinta kuliner buah yang segar dan rasa manis.

Namun, ternyata tidak semua manisan dibuat dari buah-buahan yang manis.

Baca juga: Bukit Kubu, Lokasi Wisata yang Cocok untuk Tempat Piknik dan Santai Bersama Keluarga

Seperti manis yang dibuat oleh tangan Watawalani Rangkuti (36) warga Jalan H Hasan, Kelurahan Limau Sundai, Kecamatan Binjai Barat, Kota Binjai, menjadi pemburuan para pecinta kuliner dan reseller makanan.

Manisan khas Binjai
Manisan khas Binjai (HO)

Pasalnya manisan yang dibuat Wartalani tidak semerta-merta buah-buahan, berbagai bahan sayuran juga turut 'disulapnya' menjadi manisan.

Perempuan yang akrab disapa Lani itu menjelaskan, ada lebih dari 13 jenis buah yang diolahnya menjadi manisan

Baca juga: Dituding Melanggar Moral, Jaksa Dibuang Sebagai Kader PKS

Mulai dari buah pala, asam gelugur, cabai, pare, renda, bunga pepaya, kecapung, jambu hutan, kolang-kaling, tomat, mangga, wortel, dan banyak lagi.

"Lebih lah dari 13 jenis buah. Bahan yang sulit itu buah kecapung, bunga kates karena bunga kates kan cari yang muda," katanya. 

Dijelaskannya, buah-buah yang memiliki rasa asli asam, manis, hingga pedas itu diolah dengan waktu berlainan. 

Ada yang hitungan hari hingga yang dua mingguan. 

"Buah gundur, pepaya, kecapung, mangga itu hanya makan waktu 2 hari aja. Yang lama itu bunga kates, asam glugur, pala, sama buah renda karena menghilangkan getah dan pahitnya," ujarnya. 

Watawalani Rangkuti menjelaskan, dirinya sudah memulai usaha sejak 9 tahun yang lalu dengan jumlah sedikit demi sedikit secara door to door. 

Hingga berlanjut dengan adanya orang yang mau menjualkannya. 

Baca juga: Ini 15 Dekan Universitas Sumatera Utara yang Baru Dilantik, Rektor Minta Bekerja Cepat

Semakin banyak permintaan, membuatnya hanya punya waktu untuk membuatnya di rumah dan reseller yang bekerja memasarkannnya secara luas. 

"Awalnya setiap mau lebaran, bingung mencari usaha. Untuk tambahan mau lebaran selalu kesulitan. Jadi mula-mula buat sikit. Datang door to door jumpai kawan, nawarkan.

Selanjutnya, awak di rumah aja ngerjakannya. Reseller yang jual," ungkapnya. 

Dijelaskannya, dia berjualan setiap hari secara online. 

Dia memiliki reseller di Medan, Palembang, Pekanbaru, Kalimantan hingga Papua. 

Menurutnya, penjualan secara online mengalami peningkatan. 

"Tapi kalau online memang awak akuin meningkat. Di Covid ini penjualan online naik, meningkat, pengiriman meningkat. Door to door-nya kurang. Karena orang takut nerima reseller ke rumah, agak kurang," katanya. 

Baca juga: Desa Batu Motor, Kampung Asli Masyarakat Batak, Ada Kumpulan Rumah Adat

Di antara mereka, ada yang datang berulang kali untuk mengambil pesanan manisan dari pemilik rumah, Keramaian itu terjadi setiap hari. 

Satu di antaranya adalah Tari. 

Saat itu, dia terlihat buru-buru setelah membawa beberapa kilogram manisan dari berbagai jenis buah untuk dijual kembali. 

Dia sudah lama menjadi reseller manisan yang dibuat Watawalani Rangkuti. 

"Iya, buru-buru soalnya ini pesanan orang harus cepat diantar. Nanti balik lagi. Rasanya renyah, rapuh. Enak aja itu dimakan," katanya sembari bergegas menuju sepeda motornya. 

Reseller lainnya, Fitrianingsih mengatakan, pada masa lebaran ini biasanya dia hanya bisa menjual paling sedikit 100 kg. 

Baca juga: Gojek dan Tokopedia Resmi Bergabung Sebagai Grup Teknologi Terbesar di Indonesia

Masa pandemi, menurutnya membawa berkah dengan hasil penjualan yang terus meningkat sejak sebelum ramadan. 

Manisan Binjai
Manisan Binjai (HO)

Orang membeli sebelum lebaran atau di saat ramadhan sebagai bahan tester. 

"Pandemi bisa sampai 250 kg. Tahun ini alhamdulillah biarpun masih pandemi malah meningkat dari reseller karena pengiriman bisa keluar kota, ke Palembang, Pekanbaru, Aceh, Subussalam.

Kemarin sampai ke Jawa TImur, Cilegon. Meningkatnya dari sebelum ramadhan untuk tester. Pucaknya saat sekarang ini, pas mau lebaran 200 persen meningkat," jelas Lani. 

Dalam merintis usahanya itu, Lani menjelaskan bahwa dirinya masih terkendala dengan transportasi.

Biasanya dia bisa mengirim melalui jasa pengiriman satu hari sampai, namun kini terpaksa harus ikut dengan kargo yang pengiriman memakan waktu lebih lama hingga 5 hari. 

"Untuk jelang lebaran kemarin, lebih dari 1 ton ke Kalimantan, Palembang, Bengkulu, Medan, Pekanbaru, Medan, Papua. Baru kemarin (terkendala). Biasanya bisa lancar, dari terminal Binjai tak bisa lagi," ucapnya. 

Dia berharap agar pandemi Covid-19 bisa segera berlalu dan bus (atau jasa pengiriman) tidak ditutup. 

Baca juga: Menyusuri Sejarah Lobang Jepang, Tempat Menyeramkan di Bukittinggi

Pasalnya jika pengiriman keluar kota terhambat, maka orderan juga terkendala. 

"Harusnya awak terima lagi orderan kan, akhirnya mereka berhenti karena tak bisa melalui bus. Mau lebaran ini pengiriman membludak.

Jadi terhambat. Harusnya 5 hari bisa lebih. Kalau ke Tebingtinggi, Siantar, Kisaran, masih bisa pake kargo kereta api," pungkasnya.

(mft/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved