Breaking News:

Berangkat Dari Keresahan, Jhon Bangun Pengarsipan Buku Lokal Secara Mandiri

Jhon Fawer rela menghabiskan dana pribadi demi membangun pengarsipan buku lokal yang kian minim

Penulis: Angel aginta sembiring
Editor: Array A Argus
TRIBUN MEDAN/ANGEL AGINTA SEMBIRING
Jhon Fawer, tokoh inspiratif yang membangun wadah pengarsipan buku lokal demi memajukan khasanah pengetahuan masyarakat Sumatera Utara, Rabu (19/5/2021).(TRIBUN MEDAN/ANGEL AGINTA SEMBIRING) 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN--Jhon Fawer tokoh yang cukup inspiratif.

Lelaki ini rela menghabiskan dana pribadinya demi membangun Yayasan Pusat Kajian dan Dokumentasi Sumatera (Institute Sumatera) guna mengumpulkan buku tentang keseluruhan wilayah Sumatera.

Buku-buku yang telah dia kumpulkan sejak 10 tahun lalu tersebut dapat ditemui di Literacy Coffee, Jalan Jati II Teladan Timur, Kota Medan.

Buku-buku tersebut telah mencapai 3000-an, dan sekitar 500-an untuk buku lokal.

Baca juga: Dampak Pandemi Covid-19, Pedagang Buku Bekas Keluhkan Penurunan Omset

"Aku selalu berpikir bagaimana mengumpulkan buku buku lokal di Sumut sehingga orang butuh referensi ada tempatnya. Sebab saat diperiksa ke perpustakaan Kota Medan dan lainnya sangat minim untuk arsip soal lokal," katanya, Rabu (19/5/2021).

Jhon Fawer mengatakan, selama ini masyarakat yang ingin melakukan riset terkendala dengan minimnya buku lokal.

Berangkat dari keresahan itu, Jhon Fawer kemudian memberanikan diri membangun Literacy Coffe.

"Contohnya kalau ada orang mau riset lokal. Ini menjadi tempatnya, hal itulah yang menjadi motivasi saya. Makanya banyak yang difasilitasi di sini adalah orang yang ngerjain skripsi, tesis, dan lainnya," tuturnya. 

Baca juga: 4 Buku Terlaris Di Gramedia Gajah Mada, Ada Buku Penulis Ternama Ini

Ia juga mengatakan hal tersebut karena prihatin melihat beberapa teman, senior dan juniornya yang tertarik dalam riset lokal namun gagal karena kampus yang menuntut referensi minimal 30 bahan bacaan.

Jhon mengatakan, berbicara mengenai dunia pengarsipan buku, dia mengatakan bahwa buku berisi catatan ilmiah yahun 80-an itu sangat minim sekali.

"Kalau hari ini banyak tren yang mengumpulkan kumpulan cerpen dan lainnya, justru yang ku lihat sekarang ini buku ilmiah yang minim. Padahal kalau kita bandingkan dengan jumlah profesor dan sarjana semakin banyak tapi semakin minim berkarya," ungkapnya.

Jhon Fawer berharap, apa yang dilakukannya saat ini dapat bermanfaat bagi orang banyak, khususnya bagi pencari ilmu.(cr9/Tribun-Medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved