Breaking News:

Pesan Waisak 2565 BE/2021: Eling dan Waspada Membangun Kepedulian Sosial

Pesan Waisak 2565 TB 2021: Eling dan Waspada Membangun Kepedulian Sosial

google.com
Ilustrasi 

TRIBUNMEDAN.ID, MEDAN - Bulan Waisak telah tiba, bulan penuh berkah yang dinanti-nanti oleh umat Buddha di seluruh dunia. Purnama Siddhi telah bersinar. Kelahiran Agung Bodhisatva, Pencerahan Agung Petapa Gotama dan Mahāparinibbāna Buddha kita peringati dalam bulan penuh berkah ini.

Tiga peristiwa agung sebagai teladan yang menjadi semangat bagi umat Buddha untuk senantiasa teguh dalam Buddha-dharma.
“Eling dan Waspada” yang lebih dikenal dengan istilah sati sampajañña merupakan proses belajar, berlatih dan praktik dengan perhatian dan pemahaman sejati yang mengedepankan kebijaksanaan.

Dengan “Eling dan Waspada”, sudah selayaknya umat Buddha di Indonesia menyadari dengan perhatian dan pemahaman sejati bahwa umat Buddha di Indonesia adalah bagian dari makhluk sosial yang tidak hidup sendiri.

Umat Buddha di Indonesia hidup dalam keberagaman, hidup berdampingan dengan
beragam suku, agama, bahasa, adat, budaya, ras dan antar golongan lainnya, menjadikan
bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan keragaman dengan bersemboyankan
“Bhinneka Tunggal Ika”.

Sebagai siswa Buddha yang hidup dalam ke-Bhinneka-an hendaklah mengembangkan perasaan cinta kasih yang tak terbatas kepada semua makhluk (Sn.149).

Sebagai praktik kepedulian sosial, hendaklah cinta kasih dikembangkan kepada seluruh
lapisan masyarakat di Indonesia tanpa memandang suku, agama, ras dan antar golongan.

Guru Agung junjungan para dewa dan manusia mengajarkan kepada para siswa-Nya untuk berdana kepada siapa saja, bukan hanya berdana kepada mereka yang merupakan penganut agama Buddha (A.I.161).

Kepedulian sosial juga ditunjukkan oleh Buddha dengan mengibaratkan seekor lebah yang mengumpulkan madu dari bunga-bunga tanpa merusak warna dan baunya, demikianlah hendaknya siswa Buddha mengembara dari desa
ke desa (Dh.49).

Hidup di masyarakat yang majemuk, hendaklah para siswa Buddha dapat bermanfaat bagi masyarakat dengan menghindari perselisihan dan perilaku yang dapatm menimbulkanpertikaian serta mengganggu keharmonisan dalam hidup berkeluarga,

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Mereka yang selalu memperhatikan dan
mencari-cari kesalahan orang lain, maka kekotoran batin dalam dirinya akan bertambah, dan ia akan semakin jauh dari penghancuran kekotoran-kekotoran batin (Dh.253).

Halaman
12
Editor: Ismail
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved