Breaking News:

Bea Cukai Kualanamu Jemput Bola dengan Program SPIKE, Bantu UMKM Jadi Eskportir

SPIKE merupakan akronim dari Sentra Pelayanan Informasi dan Konsultasi Ekspor. 

TRIBUN MEDAN/YUFIS NIANIS NDURU
Para Customs Excise Bandara Kualanamu berkunjung ke kantor Tribun Medan, Senin (24/5/2021). 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Yufis Nianis 

TRIBUN-MEDAN. com, MEDAN - Bea dan Cukai Kualanamu meluncurkan program SPIKE untuk mendukung aktifitas ekspor pelaku UMKM.

Humas Bea dan Cukai Kualanamu Vicky Fadian menjelaskan, SPIKE merupakan akronim dari Sentra Pelayanan Informasi dan Konsultasi Ekspor. 

Situs web SPIKE memberikan pelayanan informasi dan konsultasi terkait ekspor yang tidak terbatas pada jarak dan jangkauan kepada masyarakat yang ingin melakukan ekspor. 

"SPIKE ini adalah program terbaru dari Bea Cukai Kualanamu yang berfungsi sebagai sentra informasi dan konsultasi yang memuat menu tentang hal-hal yang terkait dengan ekspor seperti tata cara ekspor, legalitas badan usaha sebelum melalukan ekspor, dokumen ekspor, perizinan dan informasi lainnya," kata Vicky di Kantor Tribun Medan, Senin (24/5/2021). 

Menurutnya, SPIKE merupakan program "jemput bola" Bea dan Cukai Kulanamu untuk mengajak pelaku UMKM untuk bisa mengeskpor produk-produknya. 

Sambungnya, tim Bea dan Cukai Kulanamu akan mendatangi pelaku UMKM yang menggunakan jasa SPIKE dan akan memberitahu tata cara atau solusi atas permasalahan yang dialami para pelaku UMKM dalam mengeskpor. Semua pelayanan ini tanpa dipungut biaya. 

Vicky menambahkan melalui program ini, para calon eksportir dapat berkonsultasi via Whatsapp maupun tata muka dengan waktu operasional yaitu hari kerja dari pukul 08.00-16.00 WIB. 

Vicky mengungkapkan selama ini ada tiga kendala yang sering dialami para eksportir, yaitu mencari buyer (importir), pembiayaan, dan ketidaktahuan tata cara dalam mengekspor.

"Jadi biasanya kendala utama mereka mencari buyer sehingga akhirnya mereka mengandalkan eksportir yang sudah berhasil dan akhirnya bukan mereka yang sendiri mengeskpor. Kendala lainnya, yaitu terkait pembiayaan masih kurang. Untuk persoalan ini, kami akan mengarahkan ke Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, Bank Indonesia, KUR, dan pembiayaan Ultra Mikro. Persoalan terakhir adalah ketidaktahuan prosedur dalam ekspor," paparnya.  (cr20/tribun-medan. com) 

Penulis: Yufis Nianis Nduru
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved