Breaking News:

Cumi-cumi Ternyata Ikut Menjadi Penyumbang Inflasi di Kota Siantar

Bank Indonesia menyebut cumi-cumi menjadi satu dari sekian barang yang menjadi penyumbang inflasi di Kota Siantar

Penulis: Alija Magribi | Editor: Array A Argus
Live Science
Para penyelam berfoto dengan cumi-cumi raksasa yang mereka jumpai saat sedang menyelam di Selandia Baru 

TRIBUN-MEDAN.COM,RAYA--Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Siantar menyebut Kota Siantar sempat mengalami inflasi sebesar 0,05 persen pada April 2021 kemarin.

Adapun beberapa barang yang menjadi penyumbang inflasi di antaranya bahan bakar minyak (BBM), cabai merah, emas dan minyak goreng.

"Selain itu, daging sapi, cumi-cumi dan pepaya," kata Kepala Kantor BI Perwakilan Siantar, Edhi Rahmanto Hidayat, Selasa (25/5/2021).

Menurutnya, ada beberapa hambatan dalam pengendalian inflasi saat ini.

Baca juga: BI Rapat Inflasi dan Pangan, Pemprov: Bawang Putih Masih Import dari China

Saat meminpin rapat pengendalian inflasi Niagara Hotel Parapat, Edhi mengatakan hambatan pengendalian inflasi itu terkait in-efisiensi struktur komoditas pangan, kendala akses transportasi, kesenjangan informasi, dan terbatasnya kapasitas produksi. 

Selanjutnya, dalam rangka strategi optimalisasi produksi komoditas pangan dapat dilakukan dengan beberapa langkah operasional pengembangan komoditas pangan. 

Misalnya, kata dia, melalui penyediaan sarana produksi dan alat mesin pertanian, penerapan teknologi budidaya, dukungan alsintan panen, sampai dengan revitalisasi sarana dan kelembagaan pasar produk pertanian.

Baca juga: Kegiatan Ekonomi Berangsur Pulih, Bank Indonesia Perkiraan Inflasi 2021 Meningkat

Penyelenggaraan Kerja sama Antar Daerah (KAD) dalam memenuhi kebutuhan pangan penting untuk menjaga kestabilan harga di tingkat produsen dan konsumen serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. 

Dalam rapat ini, TPID Kabupaten/Kota di antaranya Siantar, Simalungun, Batubara, Tanjungbalai, Asahan, Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu, dan Labuhanbatu Selatan (Sisi Batas Labuhan) diajak menyaksikan keberhasilan kelompok tani Sumber Makmur Majenang yang sukses menyediakan padi di Indonesia dan Koperasi Putera Blitar yang sukses mengelola 25 juta ekor ayam dan 200-250 ton telur per hari.

Sementara itu, Kabid Ketersediaan dan Distribusi Pangan pada Dinas Ketahanan Pangan Pemprov Sumut, Lusyantini mengatakan, 11 komoditas pangan strategis nasional yang ada di Sumatera Utara tergolong aman, meskipun sebagian diimport dari daerah maupun luar negeri.

Baca juga: Pemkab Langkat Ikut Rapat Pencegahan Korupsi, Penularan Covid-19, dan Inflasi

Kesebelas komoditas pokok, antara lain beras, jagung, bawang merah, bawang putih, cabai besar, cabai rawit, daging sapi/kerbau, daging ayam ras, telur ayam ras, gula pasir, dan minyak goreng.

"Tapi bawang putih masih kita import dari China, daging juga import dan gula juga masih dari Jawa. Komoditas lain tersedia sampai 3 bulan ke depan," kata Lusyantini.

Melalui pertemuan ini diharapkan masing-masing TPID di Sisi Batas Labuhan mampu memutuskan kebijakan yang mampu menjaga keterjangkauan barang dan jasa di Sisi Batas Labuhan.(alj/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved